Merajut Mimpi Mengejar Cinta (M3C) Part 1: Rainfall…

Juli 2017

Rintik hujan selalu membuatku rindu padamu

Gerimis sudah mulai menyapa keringnya jalan. Para pejalan kaki semakin mempercepat langkah. Terlihat jelas banyak diantara mereka yang berlarian mencari tempat berteduh untuk sekedar menghangatkan tubuh. Namun, berebeda dengan pemuda berjaket merah itu. Dengan tersenyum ia mulai menengadahkan kepalanya ke langit. Terlihat jelas bahwa ia sangat menikmati setiap tetasan hujan yang jatuh tepat di wajahnya. Namun sayang, aksi itu terhenti oleh seorang lelaki yang mendekatinya.

“Ram, yuk kita berteduh di kafe itu!”

Mereka pun berjalan menuju sebuah kafe berwarna gading tua yang terlihat masih cukup sunyi. Sesampai di kafe, mereka memesan dua cangkir kopi hangat dan menikmatinya tanpa suara. Mereka cukup saling tahu bahwa itu adalah saatnya menikmati sejenak keindahan hujan di luar sana.

Nano-nano di Ramadhan kali ini: Puasa, Summer, dan Dissertasi

Ramadhan adalah bulan istimewa bagi setiap umat islam. Bulan suci penuh berkah dan berlimpah pahala. Setiap muslim di belahan bumi Allah bergembira menyambutnya. Namun, tak terasa 5 hari lagi kita akan berpisah. Bersyukur karena sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa menikmati Ramadhan kali ini. Bersedih mengingatkan akankah kita bertemu lagi dengan bulan penuh maghfiroh ini 😦

3

Foto Bareng Anggota pengajian Al hijrah

Ada yang berbeda dan menarik di Ramadhan kali ini. Aku yang niat awalnya ingin menghabiskan Ramadhan di Indonesia akhirnya memutuskan tetap menikmati puasa di Bristol dan tidak pulang ke Indonesia. Selain soal dana yang cukup mahal ke Indonesia (maklum masih mahasiswa :)), Aku juga tidak mengurus dana penelitian ke Indonesia. So, kalau mau pulang Indonesia aku harus menguras kantong sendiri. Kan mahal :(…. Selain itu, sekarang lagi masa menyusun thesis (Dissertation klo disini) dan aku merasa akan lebih fokus jika mengadakan penelitian disini (Sambil bisa melihat pembelajaran matematika di salah satu sekolah di UK, kapan lagi coba,he). Kebayang sekali, jika aku pulang ke Bengkulu, pastinya lupa thesis, karena pengen menikmati kumpul dengan keluarga dan teman-teman. Ngabuburit, buka puasa dan tarawih bareng, plus mencicipi ta’jil (bukaan) yang pastinya menggoda selera. Kok jadi rindu pulang, hiks 😦

Ramdhan kali ini sungguh sangat berbeda. Tetapi perbedaan itulah yang membuat aku merasa Ramadhan kali ini spesial. Aku menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi ya, Jadi pastinya ada perbedaan dengan pengalaman yang dirasakan teman-teman lainnya yang berkesempatan melakukan ibadah puasa di Negara Queen Elizabeth ini.

1. Durasi puasa

Inggris adalah salah satu negara yang durasi puasanya adalah terlama di dunia yaitu 18.5 jam dimana kurang lebih berbeda 5 jam dari Indonesia. Aku ingat dihari pertama puasa, ketika menelepon orang tua. Mereka sedang berbuka (jam 18.20 an), sedangkan aku harus menunggu 9 jam lagi (karena disini masih jam 12 siang). Ada sedikit perbedaan jadwal dibeberapa masjid, jadi biasanya diserahkan kepada pribadi mau mengikuti yang mana (baca: Perbedaan adalah sunnatullah :)). Aku pribadi dan beberapa teman-teman indonesia mengikuti aplikasi Athan, yang dipake oleh beberapa masjid di Bristol, dimana durasi puasa di hari pertama adalah dari 02.38  sampai 21.13 (18.5 jam lebih sedikit). Namun sekarang, di hari ke-25 puasanya sudah hampir 19 jam (02.37-21.31).

2

Buka puasa bersama anggota pengajian Al-Hijrah Bristol

Jujur di hari pertama, terasa aneh dan lelah. Dulu yang biasanya puasa lebih kurang 13.5 jam tetapi sekarang harus menambah lagi 5 jam lebih lama. Yang sangat terasa lelah nya adalah jarak yang sangat singkat antara berbuka puasa sampai ke waktu subuh. Setengah 10 malam buka, jam 11 nya mulai terawih sampai jam 12 an, dan jam 2 pagi harus sudah sahur lagi. Kayak ngejar-ngejar gitu. Makanan belum turun, harus ngisi lagi. Tapi kalau tidak sahur takutnya nanti tidak ada energi. Dilemma emang,hahhahahaa.

Salah satu cara agar aku tidak bangun telat, aku memutuskan untuk tidak tidur semalam sampai waktu subuh tiba. Alhasil, selama Ramadhan waktu tidurku berubah, yaitu setelah subuh sampai jam 11 an. Aku baru menyadari, bahwa pola tidurku selalu berubah sesuai musim :). Aku akhirnya menutup jendela agar merasa itu masih suasana malam (Baca: padahal cahaya sudah terang jam 4 an). Kalau tidak begitu, aku tidak akan bisa tidur. Enggak kebayang, kalau di Indonesia ada Summer, hahaha.

2. Suasana yang berbeda

Walaupun sudah ada beberapa masjid di Bristol, tetapi islam masih menjadi agama minoritas di sini. So, suasana Ramadhan tentu berbeda sekali dengan Indonesia. Sebelum ramadhan, biasanya ada pawai Ramadhan dan tabligh akbar yang  bisa dihadiri bersama dengan teman-teman. Ditambah, ada penyebaran jadwal sholat dan puasa di masyarakat sekitar. Pada saat Ramadhan, Aku juga ingat jelas jika setiap menjelang berbuka, pasti ada murottal yang dihidupkan melalui speaker masjid di dekat rumah. Ada suara azan berkumandang dimana-mana menandakan waktu sholat termasuk maghrib. Ada banyak acara islami di berbagai channel TV termasuk taujih sebelum berbuka puasa dan doa’ berbuka yang selalu dibacakan oleh seorang anak ketika waktu berbuka tiba. Ada tadarusan di beberapa masjid setelah selesai terawih. Ada teriakan anak-anak keliling komplek untuk membangunkan sahur. Pokoknya, benar-benar terasa suasana Ramadhannya.

Bagaimana dengan disini?

Tentu sangat berbeda, aku tidak menemukan suasana-suasana itu disini. Apakah sedih? pastinya sedih, tapi ada rasa syukur yang mendalam saat merasakan suasana yang berbeda disini. Disini, aku belajar bagaimana membangun suasa keindahan ramadhan itu dari diri sendiri. Ketika suasana di luar kita tidak mendukung, bukan berarti kita kehilangan momen indah Ramadhan. Karena muslim yang sudah lama tinggal disini bisa tetap bahagia menyambut Ramadhan dan berlomba-lomba melakukan kebaikan. Hal itu bisa terlihat ketika aku sholat di masjid. Mereka sangat khusyuk dalam beribadah, bahkan ada program i’tikaf di beberapa masjid di 10 malam terakhir (tetapi belum begitu kondusif untuk muslimah). Ketika menjadi minoritas, tentunya kaum mayoritas tetap melakukan aktifitas mereka seperti biasa. Tidak akan pernah kita temui adanya restauran yang tutup di bulan ramadhan :). Kita harus saling menghargai. Mereka menghargai kita, tentunya kita juga harus menghargai mereka. Tetap ada acara kampus, misalnya akhir-akhir ini ada acara picnic bersama di siang hari yang pastinya ada makan bersama. Tetapi, banyak teman-teman nonmuslim disini mengetahui adanya fasting month bagi umat islam. Aku ingat ada teman yang bercerita, bahwa salah satu temannya British nonmuslim mengatakan ” I think I will die If I do fasting”. Coba mereka mau coba dulu ya, untuk membuktikan apakah benar akan membuat meninggal atau tidak, he. Di malam minggu, mereka tetap mengadakan party sampai pagi. Jadi waktu pulang terawih kita akan tetap bertemu orang-orang yang sedang party di sepanjang jalan. Pas sahur pun masih terdengar suara gelak tawa mereka.

3. Buka puasa

Karena tidak ada azan, jadi aplikasi atau jadwal dari masjid terdekat lah yang menjadi patokan menentukan waktu berbuka puasa. Soal menu berbuka tentu tidak sebanyak pilihan di Indonesia. Sayangnya juga tidak ada tempat beli ta’jil (bukaan) disini karena jika ingin makan makanan Indonesia, ya harus masak sendiri. Masalahnya adalah kemapuan memasak ini yang maish terbatas. Bisanya hanya masak yang sederhana-sederhana saja. Kolak, gorengan, rebusan, mie, dan makanan sederhana lainnya. Makanya, pasti momen buka bersama adalah momen yang ditunggu-tunggu karena saat itulah kita bisa makan berbagai macam makanan Indonesia yang aku pribadi belum bisa masak (Baca: gratis pula,he). Bersyukur, bertemu dengan teman-teman dan WNI yang berhati mulia, sering mengundang dan memasakkan makanan bagi mahasiswa-mahasiswa secara gratis :).

IMG_20170620_044208

Buka bersama para sahabat Mahasiswa University of Bristol

Sebenarnya masih banyak hal menarik lainnya, tetapi karena mata ini sudah tidak sanggup menahan mata jadinya sampai disini dulu ya.

Bagi aku, ramadhan kali ini berbeda, tetapi begitu bermakna dihati. Apalagi puasa, summer, dan dissertasi adalah tiga kata nano-nano di ramadhan kali ini. Suhu udara yang begitu panas selama ramadhan kali ini (maklum lagi summer) menjadi tantangan tersendiri. Hari ini suhu 34 derajat dan itu panas sekali, jadi terasa sekali dehidrasinya. Ditambah lagi harus tetap bimbingan di bulan puasa. Yang paling berat adalah baca literature (Baca: tidak mudeng-mudeng otak, hiks). Benar-benar pengalaman besar dan berharga di tahun ini.

Banyak sekali pengalaman berharga yang aku dapatkan selama puasa disini yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Pengalaman ini juga menambah rasa syukurku karena selama ini bisa melakukan puasa di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Selama studi di Bristol, aku pribadi merasa bahwa banyak sekali hal-hal yang dianggap kecil yang sering terlupa, padahal itu adalah nikmat yang luar biasa yang terkadang diri pribadi jarang syukuri.

-Bristol, Ramadhan ke 25 jam 4. 23 pagi di saat Matahari sudah menampakkan cahayanya-

Pendidikan dan Multiple Intelligences

Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita dengan istilah Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk), dimana memandang tes IQ sebagai non sense test untuk para pelajar karena tidak cukup menjadi assessment test kecerdasan. Saya sangat mengagumi konsep pandangannya yang bijak bahwa tidak ada anak yang terlahir bodoh, minimal setiap anak terlahir dengan satu atau dua kecerdasan. Konsep MI sudah diterapkan di beberapa sekolah oleh Bapak Munif Chatib, pakar MI di Indonesia yang telah banyak mencoba membuka pikiran masyarakat tentang konsep kecerdasan sebenarnya, khususnya membuka cakrawala seorang guru untuk memilih cara yang tepat dalam mengajar siswa-siswanya. Seorang anak terlahir dengan kecerdasan masing-masing.

Kali ini karena saya lulusan pendidikan matematika menjadi alasan kuat saya tertarik mengetahui bagaimana implementasi MI dalam matematika ditambah lagi butuh banyak baca literature bahasa inggris.

Kita semua pasti mengetahui bahwa setiap orang belajar matematika dengan cara yang berbeda-beda, tidak semua orang bisa menyelesaikan matematika dengan semua rumus-rumus yang ada. Terkadang banyak siswa yang mempunyai kreatifitas dan talenta artistic yang sulit mengikuti pembelajaran matematika formal sehingga membutuhkan metode lain dalam memahami matematika. Ada beberapa metode pembelajaran yang bisa diajarkan berdasarkan kecerdasaran anak. Anak yang cerdas secara verbal/linguistic mereka harus diajakan menerjemahkan matematika ke bahasa verbal contohnya grafik. Anak yang cerdas secara logical tentu lebih mudah diajarkan tentang konsep formula dan abstraknya matematika. Anak yang cerdas visual lebih mudah memahami matematika lewat gambar nonverbal dari ide matematika terutama yang berpola.  Anak yang cerdas kinestetik memahami dengan sebuah aksi dan praktek langsung. Anak yang cerdas musik memahami matematika melalui music atau lirik-lirik. Anak yang cerdas secara interpersonal harus diajarkan  dengan metode yang sesuai dengan kepribadian mereka. Kesimpulannya adalah ada hubungan kuat metode mengajar matematika dengan kecerdasan anak. Guru ataupun orang tua harus memahai setiap kecerdasan  murid maupun anak-anaknya. Untuk penjelasan yang lebih terperinci saya belum banyak menemukan contoh pengajaran Matematika dengan prinsip MI. Masih mencari dan perlu membaca lebih banyak.

Berbicara tentang MI, kita bisa membaca buku Becoming A Multiple Intelligences School karya Thomas R Hoerr. Jujur, buku ini memotivasi saya untuk lebih semangat mewujudkan mimpi saya untuk mendirikan yayasan pendidikan.

kata pengantar dari Howard Gardner dari Cambridge yang pertama kali mengeluarkan teori tentang MI sehingga teori ini bisa sampai diterapkan kedunia pendidikan. Mengapa saya memulai dari kata pengantar? Karena hal inilah yang memotivasi kita untuk segera membaca buku ini.

Kita akan selalu tertarik pada sesuatu yang bersifat perubahan yang berhubungan dengan diri kita sendiri. Maka tidak aneh jika banyak permintaan seminar tentang self-improvement yang menjanjikan kreatifitas tinggi, kehidupan spiritual , dan transformasi pendidikan. Dalam hidup kita menemukan keajaiban. Jika seseorang mencari perubahan dasar maka pendidikanlah jawabannya. Howard Gardner bersama para pendidik menyadari bahwa teori MI tidak diperoleh dalam proses yang cepat. Banyak perbedaan individual yang serius dan menerapkannya ke dalam kurikulum dan instrument penilaian yang ada di dunia pendidikan membutuhkan teamwork selama beberapa tahun. Satu hal lagi, proses penerapan teori MI ke sekolah membutuhkan waktu satu dekade. Dalam buku ini, Tom Hoerr  menghubungkan pengalaman penerapan MI di sekolah St. Louis’s New City School  selama 10 tahun. Banyak aktifitas yang dilakukan oleh para guru dan staff dalam proses pengajaran, kurikulum, pengembangan assessment dan tantangan yang dihadapi selama percobaan membawa perubahan baru dan significant. Khususnya usaha keras dalam mengembangkan kecerdasan individual selama adanya issue perbedaan gender, multicultural,  dan standar yang masih belum begitu jelas. Howard mengatakan bahwa ia banyak belajar dari buku ini tentang penjelasan teori MI yang begitu jelas, penerapan MI yang efektif, contoh sekolah yang menerapkan MI, dan bagaimana penjelasan proses beratnya perjuangan menerapkan MI selama 10 tahun. Membaca perjuangan  dan kemenangan the New City School family membuat saya menyadari betapa sulitnya membuat MI School.

Hidupmu adalah pilihanmu

Yesterday is a History. Tomorrow is a mystery. Today is a Gift. That’s why we call it PRESENT.

Kata-kata itu cukup menggambarkan betapa pentingnya hari ini dan betapa berharga setiap waktu yang kita jalani. Jika ingin belajar bagaimana memaknai hidup, buku Cherish Every Moment is really recommended for everybody. Mungkin ada yang penasaran apa artinya Cherish Every Moment???

Cherish Every Moment berarti kita harus menghargai setiap waktu, setiap saat, bahkan setiap detik yang kita alami dalam hidup ini. Waktu yang paling berharga adalah Hari INI. Namun sayangnya banyak diantara kita yang tidak menyadari itu karena kita sibuk bahkan cemas akan masa depan yang belum tentu akan kita temui, bisa sajakan tomorrow is never comes. Atau kita terpuruk dalam penyesalan masa lalu yang tidak bisa lagi kita ulang.

Mengapa kita harus menikmati waktu Hari Ini?

64a5d09468aa40db396098c06645792dKarena mungkin saja hari ini adalah hari terakhir kita untuk bertemu orang-orang yang kita sayangi: keluarga, sahabat, teman, serta tetangga. Bangunlah mindset bahwa “jangan-jangan hari ini adalah hari terakhir saya”. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan hari ini dengan maksimal dengan membuat orang sekitar bahagia dan tidak kecewa. Kalau saja kita mampu berpikir seperti itu, maka yakinlah hubungan kita dengan setiap orang berada pada kualitas yang terbaik. Namun yang terpenting adalah kita akan beribadah kepada Tuhan dengan kekhusuan jika kita membayangkan hari ini adalah hari terakhir kita beribadah. Dengan mindset seperti ini hidup kita akan jauh lebih indah. Selipkan selalu dalam setiap aktifitas kita ketika lelah, marah, cemas, sibuk, bahkan mengeluh akan hari ini.

Tapi berbicara kematian sering menakutkan banyak orang…

Mengapa kita takut? Karena kita tidak tahu apa itu mati sama halnya ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Jika kita bertemu dengan seseorang yang belum kita kenal, maka pasti ada kecemasan dan ketakutan di dalam diri: Apakah dia orang yang ramah? Menghargai Anda? Suka bercanda atau serius? Mau mendengarkan Anda? Bertele-tele atau to the point?.

Lantas bagaimana agar kita tidak takut dengan kematian? Tentu saja dengan mencari tahu informasi mengenai kematian. Dan, karena belum pernah ada orang mati yang kembali ke dunia ini, tentu saja kita perlu mencari tahu melalui Kitab Suci. Atau boleh juga bertanya kepada orang-orang yang pernah mati suri atau kepada yang pernah mengalami near to death experience. Kita juga perlu membuka topik-topik mengenai kematian ini kepada anggota keluarga kita. Coba diskusikan apa yang akan terjadi jika salah seorang dari keluarga Anda meninggal. Jangan menganggap ini tabu. Justru ini adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia ini.

Menurut Anda manakah orang yang lebih berani: orang yang berani hidup atau berani mati?

Kedua-duanya. Orang yang berani adalah orang yang berani mati sekaligus berani hidup. Kita siap untuk hidup, siap juga untuk mati. Mengapa demikian? Karena hidup indah, mati juga indah.

So, Hidup adalah Hari Ini. Karena itu tidak ada yang lebih penting dibandingkan dengan hari ini. Hari ini adalah sesuatu yang nyata. Hari ini adalah hadiah terbesar dari Tuhan kepada kita. Kalau kita menyadari itu, maka kita akan menghargai setiap momen di kehidupan kita sehingga hidup kita akan terasa lebih indah.

Life is choice….

Hidup akan lebih indah apabila ia berada di tangan kita sendiri bukan di tangan orang lain. Cobalah renungkan baik-baik siapakah yang sekarang ini mengendalikan kita??? Apakah Kita menjadi sutradara terhadap kehidupan Kita sendiri? Ataukah Kita merasa dikendalikan dan diatur oleh orang-orang sekitar Kita? Apakah Kita melakukan banyak hal lebih karena kewajiban Kita dan bukan karena keinginan dan pilihan Kita sendiri???

Topik ini sangat penting karena masih banyak orang yang merasa tidak mempunyai pilihan dalam hidupnya. Apakah termasuk kita??? Orang-orang seperti ini sangat dipengaruhi oleh kondisi dari luar, padahal kemampuan terbesar yang kita miliki dalam hidup adalah kemampuan kita untuk memilih.

Apa ciri-ciri orang yang yang merasa seperti itu?

Pertama, orang itu selalu merasa terpaksa dalam melakukan sesuatu dan sering merasa tidak berdaya. Kedua, mereka melakukan segala sesuatu atas nama kewajiban (kewajiban atasan, mencari nafkah, menghidupi keluarga, tuntutan orang sekitar). Jika kita seperti ini, maka kita tidak akan menikmati hidup yang indah karena merasa kendali tidak ada dalam genggaman kita.

Ingat hidup hanya akan indah kalau KITA menjadi TUAN terhadap kehidupan kita. Kitalah yang menentukan dan mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita.

Tapikan wajarkan kalau kita dipengaruhi oleh lingkungan luar?

Ya wajarlah, bahkan sangat wajar. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa terpengaruh oleh lingkungannya. Tapi ini namanya “dipengaruhi” bukan “ditentukan” karena keduanya memiliki perbedaan sangat besar.

Lantas bagaimana agar kita tidak ditentukan oleh lingkungan?

Jangan pernah menyerahkan remote control Kita kepada orang lain. Kita harus menyadari bahwa kita mempunyai PILIHAN. Pilihan inilah kata kuncinya. Bahwa pada setiap kondisi kita selalu mempunyai pilihan. Benar, kita tidak selalu bisa memilih lingkungan kita, tetapi kita senantiasa dapat memilih respon kita. So, gunakan pilihan itu dan semua akan berubah.

Apa contoh-contoh pilihan dalam Hidup?

Seorang wanita karir memilih berhenti bekerja demi keutuhan keluarganya. Bukankah itu sebuah pilihan? Bukankah banyak diluar sana, wanita-wanita karir yang tetap bisa bekerja sekaligus mengurus keluarganya?

Pilihan-pilihan dalam hidup ini masih sangat banyak. Bayangkan ketika bangun tidur pagi tadi. Kita bisa memilih bangun jam berapa, lalu sarapan apa, sambil sarapan ada pilihan kegiatan apa yang mau dilakukan hari ini, ketika sarapan sambil nonton TV ada juga pilihan kita mau nonton channel apa. Sepanjang jalan di perjalanan kerja kita juga punya pilihan: mendengar musik, menelepon, berdzikir, baca Qur’an, membaca buku, dan sebagainya. Ketika samapai di suatu tempat kerja kita juga punya pilihan: tersenyum, marah, tanpa ekspresi, menyapa duluan, dan sebagainya. Jadi, banyak sekali pilhan dalam hidup… Tapi sampai sejauh ini sudah berapa banyak pilihan yang kita buat? Esensinya hidup itu sendiri adalah pilihan. Life is a choice.

Namun, adakalanya lingkunganlah yang menentukan respon kita. Misalnya ada yang marah kepada kita, Apakah kita mempunyai pilihan?

Tentu saja. Kita bisa memilih diam saja dan tidak memperdulikan orang tersebut. Kita juga bisa bals memarahinya. Kita juga bisa bertanya baik-baik mengenai apa yang menjadi pokok permasalahannya. Jadi, kita senantiasa mempunyai pilihan.

Tapi, sering dalam kondisi emosional, kita tidak sadar bahwa kita mempunyai pilihan…

Pertama-tama kita harus menyadari bahwa dunia yang sangat runit ini pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu stimulus (segala sesuatu yang kita alami yang berada di luar kita) dan respons (segala sesuatu yang ada di dalam diri kita: perilaku, tindakan, tanggapan). Kualitas seseorang bukan dilihat dari stimulus yang diterimanya tapi dari respon yang diberikan. Seringkali kita tidak pernah sadar dan selalu lupa mengambil jedah antara stimulus dan respon sehingga kita sering mencampuradukkan semua itu. Dan karena begitu bercampur aduknya, Maka kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga: PILIHAN-PILIHAN KITA.

Dikutip dari buku Cherish Every Moment  karya Arvan Pradiansyah

Dari Kata “BUS” saja aku belajar banyak hal

Belajar tentu bukan hanya identik dengan “mengahadiri kelas” tetapi lebih dari itu, terkadang apa yang kita lihat di sekitar kita bisa menjadi pelajaran yang berharga yang mungkin tidak kita dapatkan secara langsung ketika menghadiri sebuah kelas. Inggris yang sudah dikelas sebagai negara maju tentu memiliki banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran, namun bagiku yang sedang menempuh pendidikan di sini hal yang paling menarik perhatianku adalah “Tata krama Masyarakatnya”. Mungkin ketika mendengar kata “BUS” akan banyak hal moral yang aku ingat. Tentu itu akan menjadi pelajaran berharga!

1.Bus jadi pilihan transportasi utama

Transportasi utama di Inggris adalah Bus, termasuk di Bristol. Kenyamanan yang di dapatkan di transportasi umum menjadi alasan utama masyakat memilih mengandari Bus di bandingkan kendaraan pribadi. Pertama kali tiba di Bristol. aku sempat terkejut ketika melihat kota yang begitu nyaman untuk di tinggali. Aku sangka aku akan bertemu semerawutnya kemacetan dan kelamnya langit karena gumpalan asap pabrik, tetapi beruntungnya aku malah menemukan hal sebaliknya jarang ada kemacetan dan udaranya pun bersih dan segar. Kendaraan pribadi sangat sedikit sekali apalagi motor, bisa dihitung dengan jari. Mungkin kenapa kota besar di Indonesia pada macet, ya pastinya karena jumlah kendaraan pribadi yang sangat banyak. Bayangkan setiap orang mengendarai satu mobil dan setiap rumah ada yang memiliki 2 sampai tiga motor atau mobil. So, pantaslah kemacetan adalah masalah yang sulit di tuntaskan karena ego pribadi pun tiak bisa dikalahkan. Kalau disini setiap rumah rata-rata hanya memiliki satu mobil :). Mungkin nilai penting yang aku ambil adalah “konsep keserhanaan”. Siapapun kamu, Bus bisa menjadi pilihanmu pergi dengan nyaman karena kamu juga tidak harus menggunakan kendaraan pribadi.

2. Jadwal Bus yang on time

Yang tidak kalah menarik adalah “konsep kedisiplinan” masyarakat disini. Mereka sangat menghargai waktu. Setiap hari ada bermacam nomor bus yang beroperasi di Bristol sejak jam 7 pagi sampai jam 11 malam. Semua sesuai dengan jadwal yang tertera di bus stop masing-masing. Yang lebih enaknya lagi ada aplikasi “Bus checker” untuk melihat jadwal setiap bus melewati setiap bus stop. Dengan aplikasi ini aku bisa menghindari menunggu di bus stop dalam jangka waktu yang lama. Apalagi pas winter, aplikasi ini sangat membantu, karena aku bisa mengantisipasi agar tiba di bus stop 1- 2 menit sebelum bus lewat. Nilai kedisiplinan masyarakat disini bisa dilihat dari kedatangan transportasi umum yang on time, mau itu bus dalam kota, kereta api, mapun bus antar kota. Dari sini sangat terlihat mereka sangat mengharagai yang namanya waktu, sampai semua sistem dibuat agar setiap orang bisa memanfaatkan waktu mereka dengan baik.

3. Prinsip Antri

Kalian tahu, pertama kali datang disini sewaktu naik bus aku tidak memperhatikan kiri -kanan belakang-depan, aku hanya berusaha secepat mungkin masuk bus. Kalau ingat kejadian itu, nampak sekali kalau aku belum memahami busya antri (Baca: maklum budaya antri belum aku temukan di negara sendiri) terutama saat nunggu bus. Disini ketertiban dan respect sama orang lain sangat diutamakan. Maka mereka akan dengan sendiri antri jika menunggu bus. Dengan tertib akan masuk bus satu persatu. tidak pernah berdesakan sekalipun itu saat peak hours, yang antriannya panjang banget. Namun, ada satu pengecualian jika kita meilhat Lansia dan disabled, maka kita harus mendahulukan mereka. Aku menyaksikan sendiri keramahan masyarakat disini dengan Lansia dan diabled. Dengan tersenyum pasti mereka akan mendahulukan mereka. Lansia dan diabled pun memiliki tempat duduk khusus, biasanya 2 barisan seat depan. Oleh karena itu, penumpang-penumpang lainnya akan memilih mengisi seat barisan ketiga dan mengosongkan 2 barisan depan (Baca: tetapi ada saatnya kita bisa juga mengisi 2 barisan seat itu, lihat sikon). Oh ya, ada hal satu lagi yang membuatku tertarik. Di negara ini, disediakan alat bantu yang bersahabat dengan Lansia dan diasbled (baca: kursi roda, wheelchair, dll) sehingga mereka tetap bisa pergi sendiri kemanapun dengan bebas). Aku belajar bahwa setiap orang memiliki hak yang sama di negara ini teruatama fasilitas umum, pemerintah pun mensupport fasilitas itu agar bersahabat dengan siapapun baik dari segi umur maupun fisik.

Tentunya banyak hal yang bisa dipelajari dari kebiasan masyarakat disini yang mungkin belum kita temukan di negara kita sendiri. Kondisi atau sistem disini bukan menjadikan kita “mengeluhkan” kondisi Indonesia, namun sebaliknya “Menimbulkan harapan” bahwa Indonesia bisa juga seperti ini bahkan lebih baik ke depannya.

Islam di Inggris, the black country 2

Setelah menyampaikan pengalaman saya bagaimana saya pertama kali mengatasi ketakutan saya tentang penerimaan islam di Inggris di Part 1, sekarang saatnya saya berbagi pengalaman terkait makanan halal dan komunitas islam di Inggris terutama di kota tempat saya tinggal, Bristol.

Sulitkah mencari makanan halal?

Pertama kali tiba di Bristol, yang dicari tentu bagaimana cara agar bisa mengisi perut. Setiap akomodasi di Inggris pastinya punya dapur, baik dapur umum atau pun pribadi tergantung jenis akomodasi yang kita pilih, akomodasi kampus atau private (ada yang berupa flat, studio, maupun rumah). Kebetulan saya tinggal di private accommodation yang berbentuk rumah dan beruntungnya saya punya dapur yang besar dan komplit peralatannya (baca: jujur, lebih bagus dapur ini dah dari dapur rumah saya di Indonesia :), alhasil, banyak peralatan dapur yang saya perlu belajar cara menggunakannya, he). Saya pun akhirnya memilih memanfaatkan fasilitas yang ada untuk memasak makanan, selain sudah terjamin halalnya, cara ini akan sangat menghemat pengeluaran makan setiap bulan. Berbeda dengan yang shared kitchen, biasanya ini adalah akomodasi students yang berbentuk flat. Dapurnya adalah dapur umum, tetapi biasanya peralatan masak kita sendiri-sendiri. Jadi, tentu semua nya terpisah dan masih saling menjaga privacy. Selain itu tempat penyimpanan peralatan masak serta peralatan makan sendiri-sendiri. Biasanya ada pembagian rak atau lemari sesuai kesepakatan. Hikmahnya tinggal di flat, moment masak adalah saat-saat berharga untuk saling sapa sesama teman flat sehingga kita bisa lebih banyak mengenal mahasiswa lain. So, cara pertama mendapatkan makanan halal adalah “Masak sendiri”. Saya pun pertama kali memasak, rasanya tidak karuan (baca: maklum tidak pandai memasak, hiks). Namun, setelah 4 bulan ini mencoba memasak, rasa masakan saya cukup enak (baca: menurut saya,he). Ada hikmah.nya juga selain menuntut ilmu, saya juga belajar memasak. Dimana kata Anggi, teman serumah, “setidaknya dengan memasak kamu bisa berlatih bagaimana menjadi istri yang baik”, cieeee. Oh ya saya lupa, walaupun memasak sendiri tentu bahan makanan yang kita cari tentu harus halal juga. Sudah ada beberapa supermarket lokal yang menyediakan halal corner untuk umat muslim jika ingin membeli daging. Pemotongan hewan juga memiliki sertifikasi tersendiri di UK, yang biasa disebut HMC (Halal Monitoring Committee). Seperti di Bristol, ada beberapa butcher halal seperti Pak Butcher, ahmed Halal Butcher, Easton butcher, dan sebagainya.

image

Easton Halal Butcher

Tetapi tidak setiap saat kita punya waktu memasak. Apalagi jika tugas reading dan essay menunggu. Maka, pilihan paling tepat adalah membeli makanan. Karena tinggal di negara yang minoritas muslim, tentu makanan halal juga jadi tidak banyak dijual. Kita tentu harus lebih hati-hati. Pertama, tanya referensi dimana saja tempat makanan halal ke senior yang sudah lama tinggal di kota kita tinggal. Kebetulan, di Bristol banyak anak Phd yang sudah beberapa tahun disini, jadi waktu pertama kali datang dijelaskan bagaimana menemukan tempat halal. Ada juga beberapa keluarga WNI muslim yang lama tinggal disini, jadi tentu bisa jadi tempat bertanya. Oh ya, jika kita membeli makanan siap saji di supermaket, carilah makanan yang ada label suitable for vegetarian (Baca: berdasarkan pengalaman pribadi, makanan siap saji adalah pilihan tepat saat travelling). Maka, insyaAllah itu halal dan bisa kita konsumsi. Kedua, biasanya ada label halal di depan restaurant atau tempat makannya, biasanya yang menjual makanan hala itu adalah restaurant india, turki, dan pakistan. Namun, jika tidak ada label halal, jangan malu-malu untuk bertanya apakah mereka menyediakan makanan halal atau tidak. Mereka sangat welcome dan akan jujur menjawab jika memang mereka tidak menyediakan makanan halal. Ketiga, pakai aplikasi pendeteksi halal place seperti Adhan Time dan Islamic Pro yang bisa didownload di smartphone.. Kedua aplikasi ini selain berguna untuk melihat waktu sholat dan arah kiblat, keduanya bisa menunjukkan restaurant halal terdekat.

Bagaimana dengan komunitas Islam?

Setelah datang ke UK, saya sangat terkejut sekaligus bahagia bahwa saya tidak sulit mencari komunitas muslim disini. Dimulai dari kampus, sebagian besar Universitas di UK memiliki organisasi/komunitas muslim seperti di University of Bristol, ada Bristol University Islamic Society (Brisoc) dimana kita sebagai muslim bisa bergabung. Kalian bisa like juga fanpage facebook nya disini, dengan bergabung di komunitas ini saya bisa bertemu mahasiswa muslim dan muslimah dari berbagai negara. Ini adalah gathering bareng Brisoc saat welcoming kampus.

Di beberapa kota seperti London, Manchester, Nottingham, Southampton, Birmingham, dan termasuk Bristoljuga ada pengajian lokal. Di bristol Ada pengajian Al hijrah yang pesertanya dari keluarga WNI dan mahasiswa-mahaiswa di UWE maupun University of Bristol.

IMG-20161126-WA0022.jpg

Foto bareng yang lain setelah pengajian Al hijrah

 

Di UK, juga ada KIBAR (Indonesian Muslim Community in Great Britain). KIBAR adalah wadah komunikasi dan koordinasi kelompok-kelompok pengajian muslim Indonesia yang tersebar di berbagai kota di Inggris, sampai saat ini KIBAR disusun oleh 17 lokaliti stakeholder. Anggota pengajian ini berasal dari latar belakang yang sangat beragam yang meliputi mahasiswa, pekerja, maupun warga Indonesia yang menikah dengan warga negara UK. Di Kibar ada tausyiah online #TALK jadwalnya bisa dilihat di website. KIBAR UK juga secara rutin mengadakan pertemuan (gathering) dua kali setahun, yakni: Spring/Summer Gathering dan Autumn/Winter Gathering. Tujuan utama pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi warga muslim Indonesia di Inggris untuk saling mengenal dan mempererat rasa kekeluargaan.

img-20161024-wa0005

img-20161024-wa0007

Suasana KIBAR Autumn Gathering 2016 Southampton bersama Ustadz  Amir Faishol

 

 Dari pengalaman saya pribadi, saya merasa bahwa memang benar Islam rahmatan lil ‘alamin. Dimanapun kita menginjakkan kaki, insyaAllah cahaya islam akan ada. Tak peduli kita berada di negara dimana muslim nya masih menjadi minoritas. Salam cinta untuk semua muslim di bumi Allah lainnya….

 

Islam di Inggris, the black country

Inggris yang memiliki julukan “the black country” karena dianggap sebagai negara industri maju dimana berpusat di Birmingham dan Sheffield sehingga udara disana sering terlihat hitam akibat tertutup oleh asap-asap industri yang sangat banyak (Tapi maaf soal ini saya hanya baca sumber dan belum survei sendiri karena belum jalan-jalan ke kedua kota ini,he).

Pertama kali berangkat 14 september 2016 sore dari Jakarta-Abu Dhabi-Dublin-Bristol, UK. Bayangkan saya baru sampai siang tanggal 15 september 2016 di tanah UK. Pastinya yang saya alami adalah jet lag akibat panjangnya perjalanan di atas pesawat, dan pastinya ini yang pertama kalinya. Mencari wc adalah hal pertama yang saya lakukan sesampai di Bristol. Untuk apa? bukan BAK atau BAB, melainkan MUNTAH (hahhaha).

Hal pertama yang membuat saya parno dan was was saat pertama kali memutuskan untuk studi di Inggris adalah bagaimana kehidupan muslim disini. Banyak sekali pertanyaan yang saya tanyakan kediri saya. Bagaimana saya bisa survive disini? apakah akan mudah bertemu sesama muslim? apakah akan ada masalah dengan jilbab saya? mudahkah saya menemukan makanan halal? apakah saya bisa menemukan pengajian? dengar azan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Namun, dengan bismillah saya yakin dan percaya bahwa dimanapun kaki ini dipijak disana pasti ada keindahan islam yang akan saya temukan. Setiap sudut bumi ini adalah bumi Allah, maka saya tidak perlu cemas.

Pertama hal yang membuat saya tenang adalah saya memiliki banyak teman dari Indonesia yang sama-sama akan studi di Bristol dan lebih senang lagi mayoritas cewek muslimahnya pake jilbab. So, pakaian tidak akan jadi masalah. Di tambah lagi ketika pertama kali tiba di private accomodation (baca: kosan) saya, pemiliknya adalah muslim suriah yang sudah lama tinggal disini. Bahkan anaknya seorang muslimah, memakai hijab, pake gamis, sholehah, plus cantik lagi 😄. Dia akan tinggal bersama kami juga karena dia juga sedang studi undergraduate di University of Bristol. Dia lahir dan besar di UK, tapi keindahan islam tetap tidak luntur dari kepribadiannya. Dari dialah aku menyadari bahwa Islam sungguh agama yang dihormati di negara ini. Sudah banyak muslim yang tinggal disini baik dari penduduk lokal asli sini, maupun pendatang dari pakistan, india, suriah, dan negara lainnya. Saya menemukan beberapa muslimah di tengah perjalanan saya ke kampus terutama di bus. Ketika ke kota-kota lain seperti London, Manchester, Southampton, Glasgow, Edinburgh, York, dan Cambridge, saya pun bertemu dengan muslim dan muslimah. Selain itu sudah ada bangunan masjid di setiap kota tersebut. Yang mengejutkan saya, masjidnya sudah besar dan megah2 seperti di Indonesia. Walaupun suara azan tidak bisa terdengar sebanyak di bumi pertiwi tercinta.

 

Ini beberapa masjid yang saya kunjungi di Glasgow, Edinbrugh, dan Southampton

Masyarakat disini sangat menghormati perbedaan. Saya menemukan begitu besarnya toleransi terutama dalam hal beragama. Saya sangat terkejut ketika personal tutor saya bertanya, “Apakah kamu menemukan tempat solat di gedung ini?”. Belum sempat saya menjawab, dia langsung berkata lagi “Kamu bisa memakai ruangan-ruangan kosong disini kapanpun kamu mau sholat”. Saya yang mendengar itu langsung tersenyum bahagia dan terharu betapa mereka menghargai perbedaan agaman. Saya yang mengambil Master of Education (Mathematics Education) adalah bagian dari Graduate School of Education (GSoE). Maka, saya selalu kuliah di gedung GSoE yang memang belum tersedia tempat khusus untuk sholat. University of Bristol baru menyediakan “prayer room” berbentuk “Musholah” punya univeritas yang bisa diakses dengan kartu mahasiswa.

Women’s prayer room University of Bristol

Lokasinya cukup jauh dari GSoE. Jika bolak balik ke GSoE, akan cukup menguras tenaga dan waktu. Maka akan lebih efektif jika tetap sholat di GSoE. So, dimana sholatnya? ya di ruang kelas yang kosong. Kita yang muslim disini biasanya akan Wudhu di wc dengan wastafel (baca: bisa bayangkan kan gimana mencuci kakinya? angkat mengangkat ke atas wastafel, sensasinya itu menyisakan becekan-becekan di wc, yang kalau saya lihat tidak pernah sama sekali becek sebelumnya karena orang bule tidak suka wc nya becek,he), lalu bergeriliya mencari ruang kelas kosong. Alhamdulillahnya, setiap jadwal perhari di setiap kelas selalu terpasang rapi di depan pintu kelasnya, ini sangat mempermudah kita mencari tempat sholat di gedung-gedung perkuliahan disini.

Ketika menjalani perkuliahan tidak ada satu pun perasaan diskriminasi yang saya rasakan karena pakaian yang saya kenakan. Sungguh disini benar-benar respect satu sama lain, tidak ada perbedaan dalam pelayanan, semua diberikan sama, sehingga saya tetap bisa dengan mudah mendapatkan akses apapun. Dalam pertemanan pun, setiap orang membuka diri untuk mengenal siapapun (catatan: namun memang tidak se ramah orang indonesia, hiks). Budaya kita tentu berbeda dengan orang-orang disini dan kita harus memaklumi itu, maka tentu kita tidak bisa membanding-bandingkan keduanya. Alhamdulillah selama kurang lebih hampir 5 bulan tinggal disini, saya merasa bahwa cahaya islam tetap terang di negeri the black country ini.

Kapan-kapan saya sambung ke makanan halal dan pengajian-pengajian atau komunitas muslim disini…..

Puisi Penghantar Takdir

Hujan sudah lama ia memanjakan pagi ini

Namun, tetap sama, wanita itu sudah bermandi peluh

Dinginnya pagi tak pernah meruntuhkan perjuangannya

Khawatir, sedih, itu perasaan tak pernah hilang

Aku tersenyum agar ia tenang

Walau senyum itu tergores pedih

Aku harus tetap menjaganya

Tak peduli aku bertambah usia atau ia mulai rentah

 

-Dikutip dari Novel “Puisi Penghantar Takdir”-

 

 

 

 

 

Adinda, Aku Tepati Janjiku

“Ayaaaah…..!!!” teriakan Andi sudah terdengar di depan pintu ruangan kerja

“Kok, tidak mengucapkan salam bang?” Reza menatap manis anak keduanya itu.

“Ayah…aku dapat juara 1” Andi tidak memperdulikan pertanyaan ayahnya karena ia tidak sabar ingin menceritakan hasil rapornya.

“Alhamdulillah, Abang benar-benar hebat!” Reza mulai memeluk lalu mengusap kepala anaknya.

“Ayah… kita akan jalan-jalan ke mana tahun ini? Kan, kata ayah kalau abang dapat juara ayah akan mengajak jalan-jalan. Apalagi kalau juara satu”. Andi terlihat begitu penasaran dan penuh harap agar ayahnya akan mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri. Ia ingat sekali janji ayahnya akhir tahun lalu itu.

“Bang, kalau semester depan abang dapat juara lagi ayah akan ajak jalan-jalan ke tempat istimewa yang tidak akan pernah terlupakan.”

“Ehmmm…” Reza terlihat berpikir dan menatap tajam anak keduanya itu.

“Ayah…Ayah…Ayah, kemana?” Andi menarik baju Reza

“Oalah abang ini enggak sabaran ya… In Sya Allah kita akan pergi ke suatu tempat wisata yang tidak akan terlupakan oleh abang.

“Yeeees!!!”. Andi meloncat kegirangan. Ia sudah membayangkan ia akan pergi ke luar negeri. Lalu berkunjung ke tempat hiburan dan menonton pameran robot kesukaannya.

“Ya sudah, minggu depan kita berangkat ya. Sekarang abang pulang dulu dengan Mang Udin.”

“Oke…” Andi berlari pergi ke luar kantor

Bayangan tubuh kecilnya semakin menghilang dari hadapan Reza.

Reza duduk di kursi kerjanya, lalu menatap foto yang tidak pernah lepas dari meja kerjanya.

“Dek, kini anak kita sudah besar-besar. Terimakasih atas hadiah terindah yang dirimu berikan.”

Asti adalah seorang wanita yang telah ia nikahi 12 tahun yang lalu. Sosok yang telah memberikannya seorang putri dan seorang putra. Sosok yang sangat ia rindukan 9 tahun ini untuk hadir menemaninya.

Sesuai dengan janji ayahnya, Andi dan keluarganya pergi berlibur.

“Ayah, kita mau pergi kemana?” Tanya Aisyah, putri sulung Reza

“Ke tempat dimana kakak dan abang tidak akan lupakan selamanya”

Aisyah dan Andi mengikuti ayahnya ke ruang tunggu.

Kepada semua penumpang dengan penerbangan ke Bengkulu, diharapkan segera masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi pesawat akan berangkat

Reza dan kedua anaknya segera menuju pesawat.

“Ayah, kita akan ke Bengkulu?”

“Ya kak.”

“Asyiiik, pasti disana banyak wahana hiburan” Andi tampak sangat bersemangat dan tidak sabar untuk tiba di bengkulu.

Setiba di bandara Fatmawati, Reza langsung menuju ke rental mobil untuk menemui teman lamanya. Ia akan meminjam mobil selama beberapa hari.

“Kakak, abang… kita siap berangkat. Ayuk masuk mobil!” Sekarang giliran Reza yang sangat bersemangat.

“Kita mau menginap di hotel mana Yah?” Andi tidak sabar lagi mau jalan-jalan.

Reza hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Yang ada di bayangnya adalah liburan tahun ini akan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia berharap Liburan kali ini bisa menambah kehangatan di tengah keluarga kecil mereka. Ia juga berharap anak-anaknya bisa mengambil banyak pengalaman dan pelajaran dari liburan mereka kali ini.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan mereka tiba di sebuah Desa.

“Kakak, abang, ayo bangun. Kita sudah sampai…”

“Aaaah sudah sampai …” Andi mengucek matanya berusaha untuk bangun.

Dengan masih setengah sadar ia turun dari mobil. Ia masuk ke sebuah rumah panggung dan disambut oleh wanita tua yang belum pernah ia kenal.

“Reza….” Wanita itu memeluk Reza dengan penuh kerinduan

“Ini anak-anakmu?” Tanya wanita itu lanjut

“Ya Bi…”

“Ya Allah, mereka sudah besar-besar” ucap wanita itu dengan mata berbinar.

“Ayo salam dengan Nenek…”

Sore itu berlalu dengan senda gurau Reza dengan Bu Darmi sedangkan Aisyah dan Andi terlihat sibuk bermain di halaman rumah dengan teman-teman baru mereka.

***

“Andi bangun, sudah subuh….” Aisyah membangunkan adeknya untuk segera sholat.

Setelah sholat berjamaah Reza sudah tampak siap dengan baju training dan sepatu ketnya.

“Ayah, kita mau kemana?” Andi tampak penuh tanya

“Ya Yah, seperti mau lomba lari saja” Aisyah ikut protes

Mereka sudah siap dengan bekal di tas masing-masing.

“Hati-hati ya Za” Kata Bu Darmi

“Ya Bi, aku tidak sabar melihat kembali semua keindahan Curup”

Mereka naik mobil sebentar menuju kaki Bukit Kaba.

“Ayah, kita kok lewat hutan-hutan? Kata ayah mau jalan-jalan ke tempat yang tidak akan terlupakan.” Andi protes dan nampak kecewa

“Ayah tidak ingkar janji kok. Hari ini kita akan mendaki bukit Kaba.”

“Haaa! Mendaki Yah?” Aisyah seperti tidak percaya

“Ya, kita akan mendaki. Makanya, kita memakai pakaian ini dan membawa bekal.”

“Tapi kan Yah, Aku dan Andi belum pernah mendaki. Itukan jauh.”

“Ah kakak, dulu ayah seumur kalian sudah mendaki. Kan kalian masih muda. Pasti kuat-kuat” Reza mencoba membujuk anak-anaknya.

Reza mulai menatap ke atas. Ia tidak mengira akan kembali mendaki bukit yang sama.

“Ais, Andi… kalian tahu kenapa ayah mengajak kalian ke sini?” Reza mulai menatap kedua anaknya

“Emang kenapa?”

“Ayah akan bercerita ketika kita sampai di puncak. Ayo kita mulai mendaki. Semoga Allah memudahkan ya”

Kurang lebih 15 menit berjalan, Aisyah dan Andi terlihat begitu lelah. Reza pun tersenyum melihat mereka.

“Anak-anak ayoook naik mobil!”

“Naik mobil???” teriak Aisyah dan Andi serempak

“Ya, kita melanjutkan perjalanan naik mobil. Ayah lihat kalian sudah lelah. Jangan-jangan sesampai di puncak pada pingsan. Kan nanti Ayah juga yang repot.” Ungkap Reza sambil tertawa.

Perjalanan mereka berlanjut di mobil selama kurang lebih 2 jam.

Sampailah mereka di tangga puncak bukit Kaba

Fasilitas tangga di lereng luar Kawah Lama memudahkan para pendaki untuk mencapai bibir kawah-kawah lainnya di kawasan puncak. Sebelum menaiki tangga, para pendaki bisa menikmati kawah Mati di sebelah Kiri. Di sana, terkadang ada beberapa pendaki yang bermain sepak bola. Sumber mata air panas di Air Meles (lereng barat daya) dan di Air Sempiang (lereng selatan) juga merupakan tempat-tempat yang potensial bagi wisata gunung api di Kabupaten Rejang Lebong.

Andi mulai bersemangat untuk menaiki tangga karena ini adalah pertama kalinya ia mendaki.

“Bang, ini tangga disebut tangga seribu” Ungkap Reza sebelum Andi bertanya.

“Oh, berarti jumlahnya seribu ya? Oke, akan Andi hitung Yah” Andi tambah semangat

“…100,101,102…. Ah Ayah, Andi lelah. Kapan-kapan aja abang hitung”

“Kapan lagi bang? Lanjutlah hitungnya” Sindir Reza

Andi sudah berlari ke puncak, Mungkin bukan sepenuhnya karena lelah ia tidak mau melanjutkan hitungannya tetapi karena rasa penasaran akan apa yang akan ia lihat di puncak bukit.

“Ayaaaaahh…” teriak Andi dan Aisyah dari puncak

“Apa yang kalian lihat?” tanya Reza

“Lembah yang ada asapnya…” Andi mencoba menjelaskan.

Reza, Andi, dan Aisyah mengambil foto di setiap momen. Di setiap sudut puncak mereka berfoto. Untungnya di puncak bukit, bukan hanya ada mereka sehingga mereka bisa minta tolong difotokan.

“Ayaaah…” Ais menatap ke arah kawah lama

“Kenapa kak?”

“Yah, coba kalau ada Bunda. Pasti tambah seru” Aisyah tampak berkaca-kaca.

“Pastinya… tapi bunda sudah melihat pemandangan lebih indah dari ini” Reza memeluk putrinya itu.

“Abang ke sini dulu. Ayah mau cerita”

“Kakak, abang…kalian tahu mengapa Ayah sangat ingin mengajak kalian kesini?”

“Enggak Yah. Emang kenapa Yah?”Andi mulai penasaran

“Dulu ayah pernah berjanji dengan seseorang untuk membawa kalian ke sini. Sekarang Ayah sudah tepati. Pasti dia bahagia melihat kita sudah disini” Reza bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Siapa Yah” Aisyah menimpali.

“Bunda kalian” Reza menatap kedua anaknya, lalu memeluk mereka

“Dulu, ayah pernah ke sini dengan bunda kalian. Kami berjanji akan ke sini lagi bersama dengan anak-anak kami nantinya”

Hari itu berlalu dengan keceriaan dan keharuan. Keluarga kecil tanpa seorang ibu di tengah mereka tidak membuat mereka hilang kehangatan.

Andi dan Aisyah masih asyik bermain dan berfoto-foto dan mengambil video. Reza melihat sosok kedua anaknya dengan senyuman bahagia.

Terimakasih ya Rabb, Engkau anugerahkan mereka kepadaku.

Senja mulai tampak dari puncak, keindahan kawah semakin indah, udara pun semakin segar membuat Reza enggan turun dan pulang. Ia masih sangat merindukan suasana ini. Sangat merindukan sosok yang dulu duduk bersama dengannya melihat keindahan curup dari puncak bukit kaba. Ia berharap suatu saat ia bisa kembali lagi ke sini walaupun ia tidak tahu kapan tepatnya.

 

Mak, Aku Sembuh…

Laisa selalu memandang foto wanita berselendang biru muda yang terpajang rapi ketika ia duduk di ruang tamu. Wanita yang tinggal bersama Laisa sampai ajal menjemputnya. Sosok yang sudah 3 tahun lalu pergi meninggalkannya, namun Laisa merasa Mak selalu ada di sampingnya, seperti saat itu…

Mak, apa aku tidak bisa sekolah lagi?”

“Siapa yang bilang tidak bisa? Nanti Lais akan bisa sekolah lagi setelah sembuh”.

“Tapi, sudah setahun Lais tidak bisa bangun dari tempat tidur ini?”

Mak hanya bisa terdiam ketika anaknya berkata seperti itu. Hanya keputusasaan yang sekarang terlihat di wajah anak kelimanya itu. Putri harapan keluarga karena semangatnya untuk sekolah dan keinginannya merubah nasib keluarga. Putri yang begitu ceria dan rajin belajar itu kini terbaring lemah di kasur. Tubuhnya sudah berbeda dari setahun yang lalu. Kini bengkak di tubuhnya semakin besar. Bengkak yang membuat tubuhnya terlihat gemuk karena benjolan-benjolan berisi cairan nanah itu sudah semakin banyak. Mak dan Bapak hanya bisa memanggil dukun kampung untuk mengobatinya. Bukan tidak mau berobat kepada dokter, tetapi belum ada tenaga dokter saat itu, belum ada pelayanan kesehatan dan alat-alat canggih yang bisa mendiagnosa penyakit Laisa.

“Lais, lihatlah bengkak di bawah ketiakmu sudah pecah. Insyaallah sebentar lagi semua akan membaik.” Mak berusaha menghibur anaknya itu.

Lais ingat sekali seminggu yang lalu bengkak di ketiak itu pecah dan mengeluarkan cairan nanah berbau busuk. Dia ingat bagaimana Mak membersihkan cairan itu dari tubuh dan kasurnya. Bukannya marah tetapi Mak malah menunjukkan senyum bahagia ketika melihat Lais sudah bisa menggerakkan tangan kanan yang 6 bulan ini tidak bisa ia gerakkan.

“Paha Lais sakit Mak!” Lais berteriak sambil memegang pahanya. Ia seakan sudah tahu bahwa ada benjolan baru yang tumbuh di paha kanannya.

Mak, mungkin benjolan-benjolan ini akan pecah dalam waktu yang lama. Saya harap Mak dan keluarga tetap sabar dan berdo’a agar Lais bisa segera sembuh.” Jelas Pak Kadir, lelaki yang digelari dukun oleh masyarakat disana.

“Rasanya saya tidak tahan lagi melihat kondisi Lais, sudah 2 tahun Lais belum juga sembuh.”

Mak, kita tidak boleh menyerah. Kalau Lais melihat kita seperti ini, maka ia akan semakin sedih dan juga ikut menyerah untuk sembuh”. Bapak mengingatkan kembali Mak untuk semangat menyembuhkan anaknya.

“Ya betul Mak, kita pasrahkan semua kepada Allah. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah tetap mengobati Lais.” Pak Kadri juga ikut menyemangati Mak.

“Ya, saya seharusnya tidak semudah ini menyerah. Saya yakin Lais akan sembuh. Sampai kapan pun saya akan menunggu sampai Lais sembuh dan bisa kembali seperti anak-anak biasanya. Bermain, belajar, jalan-jalan, dan….” Mak tak kuasa meneruskan perkataannya. Ia memegang dadanya untuk menahan tangisan yang tidak boleh ia tunjukkan di depan Lais.

“Ini ada obat herbal untuk Lais. Oleskan setiap pagi dan sore ke tubuhnya.”.

Mak selalu mengolesi tubuh Lais dengan obat herbal yang diberikan Pak Kadir. Benjolan itu pecah satu persatu dalam 2,5 tahun ini. Ia lihat tubuh Lais sudah kembali normal. Tinggal satu benjolan lagi di Pahanya, tetapi sudah 6 bulan benjolan itu belum juga pecah.

“Pak, kenapa benjolan di paha Lais belum juga pecah? Bukankah biasanya benjolan di tubuh Lais pecah setiap 6 bulan?” tanya Mak yang kelihatan bingung dengan kondisi Lais.

“Saya juga masih bingung mengapa itu terjadi Mak. Tapi saya akan berusaha mencari obat baru untuk Lais.”

Suatu hari, Mak kedatangan tamu…

Mak, saya lihat Lais sudah semakin membaik. Jika Lais mau, ia bisa mengikuti ujian sekolah tahun ini. Saya tahu Lais sangat mau tamat SD. Ia sangat rajin sekali dulu pergi sekolah dan ia juga sering mendapat juara kelas.”

Setelah kepala sekolah pulang, Mak duduk di samping Lais yang sedang tidur. Ia menatap wajah Lais dengan penuh kasih sayang.

“Lais, mau sekolah lagi nak?” sebuah pertanyaan dalam hati Mak yang mungkin belum saatnya ia tanyakan atau tidak akan pernah ia tanyakan kepada Lais. Walapun ia tahu Lais sangat ingin kembali sekolah, tetapi ia belum mau menyinggung soal itu.

Pada saat itu, lulus SD adalah suatu kebanggaan. Hal ini dikarenakan belum banyak sekolah saat itu ditambah sangat jarang anak-anak yang bisa lulus SD. Jika bisa lulus SD, maka ia akan menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat.

Sudah menjelang 3 tahun Lais hanya tinggal di rumah saja. Mak lah yang menjadi tempat ia bercerita. Mak juga yang akan memenami ia sampai ia tertidur.

“Ya Allah, kasihanilah Lais. Dia masih begitu kecil untuk menderita selama ini. Aku sudah tidak kuat melihat penderitaannya. Aku mohon belas kasihMu untuk menyembuhkannya….” Doa Mak sambil mengelus kening Lais yang sudah tertidur.

3 tahun sudah berlalu…

Mak, Mak, Mak”  teriak anak kecil di halaman rumah depan.

Mak, aku mau ikut ke kebun. Aku mau bantu menanam kacang ya?” Anak itu memohon penuh harap.

“Ehm, ikutlah tapi selesaikan dulu pekerjaanmu menyapu.” Balas Mak sambil tersenyum melihat Lais, ia serasa tidak percaya putrinya itu sedang menyapu halaman sekarang.

Di ruang tamu…

“Bu, apa ibu tidak pernah bosan melihat foto nenek?” tanya putri semata wayangnya itu yang membuat Laisa kaget.

“Tidak akan pernah bosan….” Jawab Laisa sambil tersenyum.

“Ehm, kapan kamu pulang? Bukannya fitting baju pernikahanmu baru selesai nanti sore?”

“Aku sudah tiba dari tadi bu, tapi ibu tidak mendengar suara salamku.” Jawab Sheila tampak kecewa.

“Maaf ya sayang….” Laisa memeluk Sheila dengan hangat.