Karena bodoh, makanya perlu belajar

Minggu ini adalah kali pertama aku mengikuti pembelajaran di University of Bristol. Di kelas pertama, yang aku lakukan hanya mengamati diskusi tanpa ikut berpartisipasi di dalamnya. Cemas dan ketakutan untuk bicara aku rasakan pertama kali disini. Sampai dua jam kelas berlangsung aku hanya berbicara satu kali untuk memberikan ide. Apakah pengalaman belajar dan organisasi yg membuat aku memahami akan public speaking dan menjadi talkative student selama S1 menjadi tidak berguna? tentu tidak, semua itu sangat berguna. Tetapi bukan sekedar keberanian yang menjadi masalah disini, tapi lebih kepada ‘apa isi kepalamu’ yang mau kamu sampaikan. Untuk berbicara kita perlu ilmu karena akan berbeda hasilnya dari sekedar berbicara tanpa ilmu. Disinilah aku belajar budaya membaca yang sebenarnya, yaitu membaca dengan berpikir kritis. Bukan sekedar baca dan baca tetapi juga bagaimana kamu mengkritisi bacaan, konsepnya ya 5w 1h. Ini adalah pengalaman yang seharusnya kita dapatkan sejak S1 dan sungguh menyesal aku tidak melakukan hal ini sejak dulu. siapa yang mau disalahkan? ya diri sendirilah. Kenapa tidak pernah berlatih mengkritisi dengan ilmu. Membacaa malas dan kalau membaca hanya sekedar mengikuti alur saja tanpa mengkritisi apa yang dibaca. Kalau boleh jujur sekarang aku merasa sebagai student yang bodoh diantara yang lainnya, itulah kenapa aku ada di universitas ini sekarang, pastinya untuk belajar agar tidak bodoh lagi.

“jadikan dirimu ibarat gelas kosong yang siap diisi sampai penuh, jangan sebaliknya menjadi gelas yang penuh. Karena walaupun diisi terus maka akan begitulah adanya”