Adinda, Aku Tepati Janjiku

“Ayaaaah…..!!!” teriakan Andi sudah terdengar di depan pintu ruangan kerja

“Kok, tidak mengucapkan salam bang?” Reza menatap manis anak keduanya itu.

“Ayah…aku dapat juara 1” Andi tidak memperdulikan pertanyaan ayahnya karena ia tidak sabar ingin menceritakan hasil rapornya.

“Alhamdulillah, Abang benar-benar hebat!” Reza mulai memeluk lalu mengusap kepala anaknya.

“Ayah… kita akan jalan-jalan ke mana tahun ini? Kan, kata ayah kalau abang dapat juara ayah akan mengajak jalan-jalan. Apalagi kalau juara satu”. Andi terlihat begitu penasaran dan penuh harap agar ayahnya akan mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri. Ia ingat sekali janji ayahnya akhir tahun lalu itu.

“Bang, kalau semester depan abang dapat juara lagi ayah akan ajak jalan-jalan ke tempat istimewa yang tidak akan pernah terlupakan.”

“Ehmmm…” Reza terlihat berpikir dan menatap tajam anak keduanya itu.

“Ayah…Ayah…Ayah, kemana?” Andi menarik baju Reza

“Oalah abang ini enggak sabaran ya… In Sya Allah kita akan pergi ke suatu tempat wisata yang tidak akan terlupakan oleh abang.

“Yeeees!!!”. Andi meloncat kegirangan. Ia sudah membayangkan ia akan pergi ke luar negeri. Lalu berkunjung ke tempat hiburan dan menonton pameran robot kesukaannya.

“Ya sudah, minggu depan kita berangkat ya. Sekarang abang pulang dulu dengan Mang Udin.”

“Oke…” Andi berlari pergi ke luar kantor

Bayangan tubuh kecilnya semakin menghilang dari hadapan Reza.

Reza duduk di kursi kerjanya, lalu menatap foto yang tidak pernah lepas dari meja kerjanya.

“Dek, kini anak kita sudah besar-besar. Terimakasih atas hadiah terindah yang dirimu berikan.”

Asti adalah seorang wanita yang telah ia nikahi 12 tahun yang lalu. Sosok yang telah memberikannya seorang putri dan seorang putra. Sosok yang sangat ia rindukan 9 tahun ini untuk hadir menemaninya.

Sesuai dengan janji ayahnya, Andi dan keluarganya pergi berlibur.

“Ayah, kita mau pergi kemana?” Tanya Aisyah, putri sulung Reza

“Ke tempat dimana kakak dan abang tidak akan lupakan selamanya”

Aisyah dan Andi mengikuti ayahnya ke ruang tunggu.

Kepada semua penumpang dengan penerbangan ke Bengkulu, diharapkan segera masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi pesawat akan berangkat

Reza dan kedua anaknya segera menuju pesawat.

“Ayah, kita akan ke Bengkulu?”

“Ya kak.”

“Asyiiik, pasti disana banyak wahana hiburan” Andi tampak sangat bersemangat dan tidak sabar untuk tiba di bengkulu.

Setiba di bandara Fatmawati, Reza langsung menuju ke rental mobil untuk menemui teman lamanya. Ia akan meminjam mobil selama beberapa hari.

“Kakak, abang… kita siap berangkat. Ayuk masuk mobil!” Sekarang giliran Reza yang sangat bersemangat.

“Kita mau menginap di hotel mana Yah?” Andi tidak sabar lagi mau jalan-jalan.

Reza hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Yang ada di bayangnya adalah liburan tahun ini akan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia berharap Liburan kali ini bisa menambah kehangatan di tengah keluarga kecil mereka. Ia juga berharap anak-anaknya bisa mengambil banyak pengalaman dan pelajaran dari liburan mereka kali ini.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan mereka tiba di sebuah Desa.

“Kakak, abang, ayo bangun. Kita sudah sampai…”

“Aaaah sudah sampai …” Andi mengucek matanya berusaha untuk bangun.

Dengan masih setengah sadar ia turun dari mobil. Ia masuk ke sebuah rumah panggung dan disambut oleh wanita tua yang belum pernah ia kenal.

“Reza….” Wanita itu memeluk Reza dengan penuh kerinduan

“Ini anak-anakmu?” Tanya wanita itu lanjut

“Ya Bi…”

“Ya Allah, mereka sudah besar-besar” ucap wanita itu dengan mata berbinar.

“Ayo salam dengan Nenek…”

Sore itu berlalu dengan senda gurau Reza dengan Bu Darmi sedangkan Aisyah dan Andi terlihat sibuk bermain di halaman rumah dengan teman-teman baru mereka.

***

“Andi bangun, sudah subuh….” Aisyah membangunkan adeknya untuk segera sholat.

Setelah sholat berjamaah Reza sudah tampak siap dengan baju training dan sepatu ketnya.

“Ayah, kita mau kemana?” Andi tampak penuh tanya

“Ya Yah, seperti mau lomba lari saja” Aisyah ikut protes

Mereka sudah siap dengan bekal di tas masing-masing.

“Hati-hati ya Za” Kata Bu Darmi

“Ya Bi, aku tidak sabar melihat kembali semua keindahan Curup”

Mereka naik mobil sebentar menuju kaki Bukit Kaba.

“Ayah, kita kok lewat hutan-hutan? Kata ayah mau jalan-jalan ke tempat yang tidak akan terlupakan.” Andi protes dan nampak kecewa

“Ayah tidak ingkar janji kok. Hari ini kita akan mendaki bukit Kaba.”

“Haaa! Mendaki Yah?” Aisyah seperti tidak percaya

“Ya, kita akan mendaki. Makanya, kita memakai pakaian ini dan membawa bekal.”

“Tapi kan Yah, Aku dan Andi belum pernah mendaki. Itukan jauh.”

“Ah kakak, dulu ayah seumur kalian sudah mendaki. Kan kalian masih muda. Pasti kuat-kuat” Reza mencoba membujuk anak-anaknya.

Reza mulai menatap ke atas. Ia tidak mengira akan kembali mendaki bukit yang sama.

“Ais, Andi… kalian tahu kenapa ayah mengajak kalian ke sini?” Reza mulai menatap kedua anaknya

“Emang kenapa?”

“Ayah akan bercerita ketika kita sampai di puncak. Ayo kita mulai mendaki. Semoga Allah memudahkan ya”

Kurang lebih 15 menit berjalan, Aisyah dan Andi terlihat begitu lelah. Reza pun tersenyum melihat mereka.

“Anak-anak ayoook naik mobil!”

“Naik mobil???” teriak Aisyah dan Andi serempak

“Ya, kita melanjutkan perjalanan naik mobil. Ayah lihat kalian sudah lelah. Jangan-jangan sesampai di puncak pada pingsan. Kan nanti Ayah juga yang repot.” Ungkap Reza sambil tertawa.

Perjalanan mereka berlanjut di mobil selama kurang lebih 2 jam.

Sampailah mereka di tangga puncak bukit Kaba

Fasilitas tangga di lereng luar Kawah Lama memudahkan para pendaki untuk mencapai bibir kawah-kawah lainnya di kawasan puncak. Sebelum menaiki tangga, para pendaki bisa menikmati kawah Mati di sebelah Kiri. Di sana, terkadang ada beberapa pendaki yang bermain sepak bola. Sumber mata air panas di Air Meles (lereng barat daya) dan di Air Sempiang (lereng selatan) juga merupakan tempat-tempat yang potensial bagi wisata gunung api di Kabupaten Rejang Lebong.

Andi mulai bersemangat untuk menaiki tangga karena ini adalah pertama kalinya ia mendaki.

“Bang, ini tangga disebut tangga seribu” Ungkap Reza sebelum Andi bertanya.

“Oh, berarti jumlahnya seribu ya? Oke, akan Andi hitung Yah” Andi tambah semangat

“…100,101,102…. Ah Ayah, Andi lelah. Kapan-kapan aja abang hitung”

“Kapan lagi bang? Lanjutlah hitungnya” Sindir Reza

Andi sudah berlari ke puncak, Mungkin bukan sepenuhnya karena lelah ia tidak mau melanjutkan hitungannya tetapi karena rasa penasaran akan apa yang akan ia lihat di puncak bukit.

“Ayaaaaahh…” teriak Andi dan Aisyah dari puncak

“Apa yang kalian lihat?” tanya Reza

“Lembah yang ada asapnya…” Andi mencoba menjelaskan.

Reza, Andi, dan Aisyah mengambil foto di setiap momen. Di setiap sudut puncak mereka berfoto. Untungnya di puncak bukit, bukan hanya ada mereka sehingga mereka bisa minta tolong difotokan.

“Ayaaah…” Ais menatap ke arah kawah lama

“Kenapa kak?”

“Yah, coba kalau ada Bunda. Pasti tambah seru” Aisyah tampak berkaca-kaca.

“Pastinya… tapi bunda sudah melihat pemandangan lebih indah dari ini” Reza memeluk putrinya itu.

“Abang ke sini dulu. Ayah mau cerita”

“Kakak, abang…kalian tahu mengapa Ayah sangat ingin mengajak kalian kesini?”

“Enggak Yah. Emang kenapa Yah?”Andi mulai penasaran

“Dulu ayah pernah berjanji dengan seseorang untuk membawa kalian ke sini. Sekarang Ayah sudah tepati. Pasti dia bahagia melihat kita sudah disini” Reza bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Siapa Yah” Aisyah menimpali.

“Bunda kalian” Reza menatap kedua anaknya, lalu memeluk mereka

“Dulu, ayah pernah ke sini dengan bunda kalian. Kami berjanji akan ke sini lagi bersama dengan anak-anak kami nantinya”

Hari itu berlalu dengan keceriaan dan keharuan. Keluarga kecil tanpa seorang ibu di tengah mereka tidak membuat mereka hilang kehangatan.

Andi dan Aisyah masih asyik bermain dan berfoto-foto dan mengambil video. Reza melihat sosok kedua anaknya dengan senyuman bahagia.

Terimakasih ya Rabb, Engkau anugerahkan mereka kepadaku.

Senja mulai tampak dari puncak, keindahan kawah semakin indah, udara pun semakin segar membuat Reza enggan turun dan pulang. Ia masih sangat merindukan suasana ini. Sangat merindukan sosok yang dulu duduk bersama dengannya melihat keindahan curup dari puncak bukit kaba. Ia berharap suatu saat ia bisa kembali lagi ke sini walaupun ia tidak tahu kapan tepatnya.

 

Mak, Aku Sembuh…

Laisa selalu memandang foto wanita berselendang biru muda yang terpajang rapi ketika ia duduk di ruang tamu. Wanita yang tinggal bersama Laisa sampai ajal menjemputnya. Sosok yang sudah 3 tahun lalu pergi meninggalkannya, namun Laisa merasa Mak selalu ada di sampingnya, seperti saat itu…

Mak, apa aku tidak bisa sekolah lagi?”

“Siapa yang bilang tidak bisa? Nanti Lais akan bisa sekolah lagi setelah sembuh”.

“Tapi, sudah setahun Lais tidak bisa bangun dari tempat tidur ini?”

Mak hanya bisa terdiam ketika anaknya berkata seperti itu. Hanya keputusasaan yang sekarang terlihat di wajah anak kelimanya itu. Putri harapan keluarga karena semangatnya untuk sekolah dan keinginannya merubah nasib keluarga. Putri yang begitu ceria dan rajin belajar itu kini terbaring lemah di kasur. Tubuhnya sudah berbeda dari setahun yang lalu. Kini bengkak di tubuhnya semakin besar. Bengkak yang membuat tubuhnya terlihat gemuk karena benjolan-benjolan berisi cairan nanah itu sudah semakin banyak. Mak dan Bapak hanya bisa memanggil dukun kampung untuk mengobatinya. Bukan tidak mau berobat kepada dokter, tetapi belum ada tenaga dokter saat itu, belum ada pelayanan kesehatan dan alat-alat canggih yang bisa mendiagnosa penyakit Laisa.

“Lais, lihatlah bengkak di bawah ketiakmu sudah pecah. Insyaallah sebentar lagi semua akan membaik.” Mak berusaha menghibur anaknya itu.

Lais ingat sekali seminggu yang lalu bengkak di ketiak itu pecah dan mengeluarkan cairan nanah berbau busuk. Dia ingat bagaimana Mak membersihkan cairan itu dari tubuh dan kasurnya. Bukannya marah tetapi Mak malah menunjukkan senyum bahagia ketika melihat Lais sudah bisa menggerakkan tangan kanan yang 6 bulan ini tidak bisa ia gerakkan.

“Paha Lais sakit Mak!” Lais berteriak sambil memegang pahanya. Ia seakan sudah tahu bahwa ada benjolan baru yang tumbuh di paha kanannya.

Mak, mungkin benjolan-benjolan ini akan pecah dalam waktu yang lama. Saya harap Mak dan keluarga tetap sabar dan berdo’a agar Lais bisa segera sembuh.” Jelas Pak Kadir, lelaki yang digelari dukun oleh masyarakat disana.

“Rasanya saya tidak tahan lagi melihat kondisi Lais, sudah 2 tahun Lais belum juga sembuh.”

Mak, kita tidak boleh menyerah. Kalau Lais melihat kita seperti ini, maka ia akan semakin sedih dan juga ikut menyerah untuk sembuh”. Bapak mengingatkan kembali Mak untuk semangat menyembuhkan anaknya.

“Ya betul Mak, kita pasrahkan semua kepada Allah. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah tetap mengobati Lais.” Pak Kadri juga ikut menyemangati Mak.

“Ya, saya seharusnya tidak semudah ini menyerah. Saya yakin Lais akan sembuh. Sampai kapan pun saya akan menunggu sampai Lais sembuh dan bisa kembali seperti anak-anak biasanya. Bermain, belajar, jalan-jalan, dan….” Mak tak kuasa meneruskan perkataannya. Ia memegang dadanya untuk menahan tangisan yang tidak boleh ia tunjukkan di depan Lais.

“Ini ada obat herbal untuk Lais. Oleskan setiap pagi dan sore ke tubuhnya.”.

Mak selalu mengolesi tubuh Lais dengan obat herbal yang diberikan Pak Kadir. Benjolan itu pecah satu persatu dalam 2,5 tahun ini. Ia lihat tubuh Lais sudah kembali normal. Tinggal satu benjolan lagi di Pahanya, tetapi sudah 6 bulan benjolan itu belum juga pecah.

“Pak, kenapa benjolan di paha Lais belum juga pecah? Bukankah biasanya benjolan di tubuh Lais pecah setiap 6 bulan?” tanya Mak yang kelihatan bingung dengan kondisi Lais.

“Saya juga masih bingung mengapa itu terjadi Mak. Tapi saya akan berusaha mencari obat baru untuk Lais.”

Suatu hari, Mak kedatangan tamu…

Mak, saya lihat Lais sudah semakin membaik. Jika Lais mau, ia bisa mengikuti ujian sekolah tahun ini. Saya tahu Lais sangat mau tamat SD. Ia sangat rajin sekali dulu pergi sekolah dan ia juga sering mendapat juara kelas.”

Setelah kepala sekolah pulang, Mak duduk di samping Lais yang sedang tidur. Ia menatap wajah Lais dengan penuh kasih sayang.

“Lais, mau sekolah lagi nak?” sebuah pertanyaan dalam hati Mak yang mungkin belum saatnya ia tanyakan atau tidak akan pernah ia tanyakan kepada Lais. Walapun ia tahu Lais sangat ingin kembali sekolah, tetapi ia belum mau menyinggung soal itu.

Pada saat itu, lulus SD adalah suatu kebanggaan. Hal ini dikarenakan belum banyak sekolah saat itu ditambah sangat jarang anak-anak yang bisa lulus SD. Jika bisa lulus SD, maka ia akan menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat.

Sudah menjelang 3 tahun Lais hanya tinggal di rumah saja. Mak lah yang menjadi tempat ia bercerita. Mak juga yang akan memenami ia sampai ia tertidur.

“Ya Allah, kasihanilah Lais. Dia masih begitu kecil untuk menderita selama ini. Aku sudah tidak kuat melihat penderitaannya. Aku mohon belas kasihMu untuk menyembuhkannya….” Doa Mak sambil mengelus kening Lais yang sudah tertidur.

3 tahun sudah berlalu…

Mak, Mak, Mak”  teriak anak kecil di halaman rumah depan.

Mak, aku mau ikut ke kebun. Aku mau bantu menanam kacang ya?” Anak itu memohon penuh harap.

“Ehm, ikutlah tapi selesaikan dulu pekerjaanmu menyapu.” Balas Mak sambil tersenyum melihat Lais, ia serasa tidak percaya putrinya itu sedang menyapu halaman sekarang.

Di ruang tamu…

“Bu, apa ibu tidak pernah bosan melihat foto nenek?” tanya putri semata wayangnya itu yang membuat Laisa kaget.

“Tidak akan pernah bosan….” Jawab Laisa sambil tersenyum.

“Ehm, kapan kamu pulang? Bukannya fitting baju pernikahanmu baru selesai nanti sore?”

“Aku sudah tiba dari tadi bu, tapi ibu tidak mendengar suara salamku.” Jawab Sheila tampak kecewa.

“Maaf ya sayang….” Laisa memeluk Sheila dengan hangat.

Cinta sederhana

29 Juli 2015

Hari ini aku menyadari satu hal. Cinta yang aku punya untuk dia terlalu tinggi. Dia terlalu Indah untuk aku sentuh, terlalu tinggi untuk ku gapai,dan terlalu jauh untuk aku kejar. Dia bak rembulan yang hanya bisa aku pandang dari kejauhan. Allah berikan aku cinta yang lebih sederhana, sebuah cinta karenaMu. Cinta yang tidak memandang apa pun kecuali dengan pandanganMu, Cinta yang tidak menilai apapun kecuali dengan penilaianMu, Cinta yang tidak mengharapkan apapun kecuali harapan keridhoanMu. Cinta yang tidak diputuskan hanya karena keindahan luar yang tampak, kemegahan masa depan yang dijanjikan, kehormatan dan sanjungan yang didapatkan, namun jauh lebih berharga. Aku ingin mencintai seseorang karena cintaku PadaMu, kedua orang tuaku, dan dakwahku. Membina kehidupan cinta hanya atas nama Cinta kepadaMu, menjalaninya hanya dengan cita-cita untuk bertemu di Syurga, memiliki dan menjaga karena kasih sayangMu, berpegangan tangan menjalankan kerja-kerja dakwah bersama, mendidik anak-anak generasi emas untuk Islam. Aku ingin cinta sederhana tidak memandang hanya dunia, aku ingin jatuh cinta karena keindahan hati dan akhlaknya, aku ingin memegang tangannya atas nama cinta kepadaMu semata. Ya Allah….Jauhkan aku dari fitnah cinta dunia yang penuh dengan tipuan dan jauh dari kata RidhoMu. Hapuslah cinta ini yang aku sadari karena nafsu duniaku dan tumbuhkan rasa cinta yang didasarkan ketaatanku padaMu.

Rasa ini Fitrah

Catatan lama dari sahabat karib….

Ya Allah hari ini sudah menapaki hari ke 16 Ramadhan. Kulihat rembulan dan kuingat sosok dia. Dia ibarat bintang yang tak akan pernah bisa aku gapai, dia ibarat bulan yang hanya bisa kupandang keindahannya. Walaupun kami jarang bertemu namun hati ini tak bisa ku bohongi. Ya Rabb yang memegang hati ini, Wahai Rabb yang Maha membolak balikkan hati jika andai Cinta itu hadir kembali di hati ini aku mohon jagalah hatiku tetap dalam hidayah dan keridhoanMu. Aku manusia lemah yang sering tersilaukan dengan kenikmatan dunia dan terjebak didalamnya. Aku tahu Cinta ini adalah fitrah dan aku mensyukurinya karena Engkau menganugrahi aku perasaan ini. Namun aku begitu takut jika ini adalah Cinta palsu yang membuatku berpaling dariMu. Aku takut Cinta ini menipu daya diriku. Aku takut Cinta ini tumbuh bukan karenaMu. Ya Allah aku mengemis kasih padaMu, anugerahilah aku Cinta yang Murni ada karena Cintaku padaMu. Aku begitu takut ketika cintaku padanya hanya karena nafsu duniaku, hanya karena kemegahan yang aku pandang, hanya karena kesuksesannya di dunia, hanya karena kepandaiannya, hanya karena kemampuannya yang istimewa, namun aku lupa akhlaknya, pemahaman diinnya, dan dakwahnya. Aku ingin mendapatkan imam yang baik diinnya karena pasti semua kebahagiaan lain mengikuti.  Hari ini aku berharap Cinta ini hilang karena pondasi CIntaku bukan karenaMu dan aku pun telah menipu hatiku. Jika kami Engkau takdirkan bersama, maka tumbuhkan lagi cinta ini atas pondasi CintaMu bukan karena dunia di sekelilingnya sehingga kami bisa membina mahligai kehidupan yang Engkau Ridhoi, Namun jika bukan yang terbaik bagiku untuk bersama maka ikhlaskan hati ini untuk menerima itu semua. Mungkin aku belum pantas untuknya atau dia terlalu sempurna untuk ada disampingku. Dekat atau pun jauh itu yang terbaik, bertemu atau berpisah itu juga pilihan terbaik yang Engkau takdirkan untukku. Tentu yang paling baik adalah cukup menjalani skenario hidup yang telah Engkau garisi untukku. Ikhlaskan hati ini Ya Allah menjalani kehidupan dunia yang hanya sebentar ini….

Kematian selalu mengikutimu…

Hari ini datang sosok tubuh sudah terbujur kaku. Tadi, sore kurang lebih sejam yang lalu ia pamit dengan keluarganya untuk keluar rumah. Ternyata itu pamitan ia yang terakhir karena sekarang ia pulang tanpa nyawa. Ya Rabb, engkau ajarkan aku kembali tentang “Hakekat Kehidupan di dunia ini” dikala kelupaan selalu menghampiriku, dikala khilafku semakain bertambah dan do’aku semakin berkurang kepadaMu. Seandainya tubuh itu Aku? Bagaimanalah keadaanku sekarang. Sudah siapkah aku bertemu denganMu? Sungguh, aku jauh dari kata siap. Apa yang akan aku bawak? Itulah yang selalu menghantuiku. Benarlah kata Rasulullah “Bekerjalah untuk dunia seakan-akan engkau hidup selama-lamanya, bekerjalah untuk akhirat seakan-akan engkau akan mati besok”. Sungguh ada makna yang tersirat di dalamnya. Bagaimana kita melewati hari dengan menghargai waktu. Silih berganti waktu harus kita lewati untuk dunia dan akhirat yang harus seimbang. Di saat kejar dunia jangan lupa sang pemilik dunia dan nikmat yang mengisinya. Kematian pasti datang tapi seberapa siap kita dihampirinya? Renungan terdalam untukku malam ini. Di tengah rintikan hujan yang tak kunjung berhenti. Terimakasih ya Rabb atas semua yang Kau berikan kepadaku saat ini.

Celotehan Lama

Bkl, 28 Maret 2012

Kesyukuran, itulah sebuah sikap yang sulit untuk dilakukan. Di mulai dari diri sendiri, terkadang sulit untuk mensyukuri apa yang ada. Apalagi jika yang kita peroleh tidak seperti yang kita mau. Walaupun kalau mau jujur “Itulah yang terbaik yang Allah berikan untukmu”. Uang yang ada pas-pasan 70.000 untuk seminggu. BBM juga naik. Suara menolak ada dimana-mana, baik damai maupun anarkis. Namun, aku tidak berkomentar apa-apa. Sekarang kata mak 80.000 seminggu karena ongkos naik. Apa aku berhak mengatakan “itu sangat tidak cukup mak!. Ongkos, Buku, makan, semua dari sini. Mana Cukup!” Apa itu yang harus aku keluarkan dari mulutku saat mak mengeluarkan uang jatahku setiap minggu dari buku “penyimpan tabungannya” dengan wajahnya yang tampak letih bekerja dan badan yang semakin terlihat kurus. TIDAK MUNGKIN! Aku bisa mengatakan itu, hanya rasa TERIMAKASIH yang bisa aku katakan di dalam hati. Karena jujur aku termasuk yang tidak pandai merangkai kata dalam mengungkapkan rasa sayang dan terimakasih.

Ada saat hati ku letih untuk bersyukur. Apalagi melihat orang-orang sekitarku yang berada dalam kecukupan. Mereka tidak harus berpikir banyak bagaimana agar aku tidak kekurangan minggu ini, karena secara kalkulasi uang 80.000 itu tidak cukup untuk seminggu. Ongkos saja 9000/hari yang harus aku keluarkan. Fotocopy, makan, da lain-lain yang tidak berani aku kalkulasikan mengingat sisa uang untuk itu semua adalah 17.000. Mengeluh? Apa harus begini terus? TIDAK! Karena aku masih punya Sang Razaq yang maha pemberi rezeki pada hambanya. Aku juga masih mempuyai senjata untuk bertahan yaitu Do’a. Sang khaliq akan mengabulkan do’aku, aku sangat percaya itu. Jika mau mengeluh terus kapan mau bersyukurnya. DI KALA LELAH BERSYUKUR, LIHAT MASIH BANYAK YANG TIDAK SEBERUNTUNG KAMU. Ingat perjalanan kehidupan Rasulullah dan para sahabat? Masih ingatkah bagaimana kehidupan kesederhanaan yang mereka ajarkan, walaupun kita tahu mereka adalah orang-orang yang kaya. Kenapa mereka lebih memilih untuk zuhud dan sederhana? Karena ternyata kenikmatan iman ada dalam kesederhanaan. Syukuri apa yang ada, semua adalah anugerah. Lagu DMasiv ini terngiang-ngiang dikala hati dan badan tak ingin bersyukur. I believe in Allah !!!

Bengkulu, 28 Maret 2012

KESEMPATAN YANG TERLEWATI

Ah hari ini hari pengumpulan karya tulis Mapres dari perwakilan prodi untuk diseleksi di tingkat fakultas. Aku ingat dan melihat kembali catatan “My Dreams” ternyata ini adalah salah satu mimpiku. Tapi aku tidak melakukan apa-apa karena aku bingung mau melakukan apa saat melihat pengumuman tertempel rapi di papan pengumuman prodi matematika”berhubung akan diadakan pemilihan Mapres, maka diharapkan paling lambat tanggal 27 prodi masing-masing sudah bisa memberikan nama untuk perwakilan”. Derr…saat itu aku senang sekali melihat kertas itu. Wah, aku bisa mewujudkan mimpiku dan bisa mencoretnya. Ah, tapi rasa PD ku tidak begitu luar biasa , aku sangat tahu diri kalau ada temanku yang nilainya lebih tinggi dan secara psikologis dekat dengan beberapa dosenku. Ya Allah, aku menjadi orang yang penuh harap untuk dipilih namun tidak melakukan apa-apa dan akhirnya menjadi sia-sialah semua nya. Karena satu kata “AKU TIDAK MEMPUNYAI KEBERANIAN UNTUK MERAIH”. Waktu berlalu dan aku juga tidak tahu siapa yang terpilih oleh prodi tercintaku. Aku “GAGAL”, ah tidak bukan! Tapi aku telah melewati kesempatan lagi saat ini. Kalau saja kemaren aku memebranikan diri menghadap KaProdi dan bertanya langsung seperti menawarkan diri untuk dipilih. Malu? Itulah yang bergejolak dihatiku yang akhirnya membuat aku menyesal melewati kesempatan yang Allah berikan. Aku lihat peta konsepku di tahun 2012. Aku semangat  lagi!!! ALLAHUAKBAR! ALLAHUAKBAR! ALLLAHUAKBAR!  aku harus meraih semua janji-janjiku ini yang telah disaksikan dan didengarkan oleh ukhti2 di halaqoh. Ah mereka membuat aku semangat untuk tidak membuang waktu percuma lagi dan melewatkan kesempatan lagi. Ya Rabb jadikan ini kala terakhir aku melewatkan kesempatan yang engkau berikan! Be better!

Bengkulu, 4 November 2012

AKU TIDAK SEBAIK YANG MEREKA KIRA

Hari ini aku menerima lembaran kertas berisi 2 kolom (Kebaikan/kelebihan dan keburukan/kelemahan) yang telah diisi oleh saudara-saudaraku tercinta “Laskar Hijau”. Kalian tahu apa yang aku dapatkan?

Kata mereka aku,

Dewasa, padahal……………………..

Cerdas, Padahal…………………

Bertanggung jawab, padahal…………………

Istiqomah, padahal……………..

Banyak hafalan, padahal……………….

Bisa memberikan solusi, padahal…………………

Bengkulu,5 agus 2014

dua hari ini aku menydri byak hal. setelah sxan lma q tidk diuji dg sakit. kmren aku merskan skit kembali. ya Rabb… aku sgt tahu ini bkan ujian tetapi ini adalah tguran. tgran akan bayak klalaian2 yg tlh aku lkkan. sudah lama sx rsanya aku tdk khusyu dlm sholat apalgi brdo’a. sgt byak wkt yg ku hbskan demi mengejar impian duniaku. bhkan hanya selah waktu ku brkan pdmu. btapa aku lbih memilih ksnangan smntra dan lpa melepas rindu d 1/3 mlam terakhir. btp penuh pkrnku akan ambisi n keinginan yg ku kejar tnpa ujung yg membwtku smkin jauh driMu. yg paling parah. betapa egoisnya sikap ku terhdp kedua orang tuaku. tak smpt aku berckap2 n mendgrkan crta mrka srt menghabiskan wktu brsma. q lbih memilih sndri mengisi waktu dg hobi2ku. aaah rasnya masih byak kslahan yg ku lakukan. Ya Allah Ya Ghofur Ya Rahman Ya Rahim. ampuni aku…ampuni aku…ampunilah aku…