Adinda, Aku Tepati Janjiku

“Ayaaaah…..!!!” teriakan Andi sudah terdengar di depan pintu ruangan kerja

“Kok, tidak mengucapkan salam bang?” Reza menatap manis anak keduanya itu.

“Ayah…aku dapat juara 1” Andi tidak memperdulikan pertanyaan ayahnya karena ia tidak sabar ingin menceritakan hasil rapornya.

“Alhamdulillah, Abang benar-benar hebat!” Reza mulai memeluk lalu mengusap kepala anaknya.

“Ayah… kita akan jalan-jalan ke mana tahun ini? Kan, kata ayah kalau abang dapat juara ayah akan mengajak jalan-jalan. Apalagi kalau juara satu”. Andi terlihat begitu penasaran dan penuh harap agar ayahnya akan mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri. Ia ingat sekali janji ayahnya akhir tahun lalu itu.

“Bang, kalau semester depan abang dapat juara lagi ayah akan ajak jalan-jalan ke tempat istimewa yang tidak akan pernah terlupakan.”

“Ehmmm…” Reza terlihat berpikir dan menatap tajam anak keduanya itu.

“Ayah…Ayah…Ayah, kemana?” Andi menarik baju Reza

“Oalah abang ini enggak sabaran ya… In Sya Allah kita akan pergi ke suatu tempat wisata yang tidak akan terlupakan oleh abang.

“Yeeees!!!”. Andi meloncat kegirangan. Ia sudah membayangkan ia akan pergi ke luar negeri. Lalu berkunjung ke tempat hiburan dan menonton pameran robot kesukaannya.

“Ya sudah, minggu depan kita berangkat ya. Sekarang abang pulang dulu dengan Mang Udin.”

“Oke…” Andi berlari pergi ke luar kantor

Bayangan tubuh kecilnya semakin menghilang dari hadapan Reza.

Reza duduk di kursi kerjanya, lalu menatap foto yang tidak pernah lepas dari meja kerjanya.

“Dek, kini anak kita sudah besar-besar. Terimakasih atas hadiah terindah yang dirimu berikan.”

Asti adalah seorang wanita yang telah ia nikahi 12 tahun yang lalu. Sosok yang telah memberikannya seorang putri dan seorang putra. Sosok yang sangat ia rindukan 9 tahun ini untuk hadir menemaninya.

Sesuai dengan janji ayahnya, Andi dan keluarganya pergi berlibur.

“Ayah, kita mau pergi kemana?” Tanya Aisyah, putri sulung Reza

“Ke tempat dimana kakak dan abang tidak akan lupakan selamanya”

Aisyah dan Andi mengikuti ayahnya ke ruang tunggu.

Kepada semua penumpang dengan penerbangan ke Bengkulu, diharapkan segera masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi pesawat akan berangkat

Reza dan kedua anaknya segera menuju pesawat.

“Ayah, kita akan ke Bengkulu?”

“Ya kak.”

“Asyiiik, pasti disana banyak wahana hiburan” Andi tampak sangat bersemangat dan tidak sabar untuk tiba di bengkulu.

Setiba di bandara Fatmawati, Reza langsung menuju ke rental mobil untuk menemui teman lamanya. Ia akan meminjam mobil selama beberapa hari.

“Kakak, abang… kita siap berangkat. Ayuk masuk mobil!” Sekarang giliran Reza yang sangat bersemangat.

“Kita mau menginap di hotel mana Yah?” Andi tidak sabar lagi mau jalan-jalan.

Reza hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Yang ada di bayangnya adalah liburan tahun ini akan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia berharap Liburan kali ini bisa menambah kehangatan di tengah keluarga kecil mereka. Ia juga berharap anak-anaknya bisa mengambil banyak pengalaman dan pelajaran dari liburan mereka kali ini.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan mereka tiba di sebuah Desa.

“Kakak, abang, ayo bangun. Kita sudah sampai…”

“Aaaah sudah sampai …” Andi mengucek matanya berusaha untuk bangun.

Dengan masih setengah sadar ia turun dari mobil. Ia masuk ke sebuah rumah panggung dan disambut oleh wanita tua yang belum pernah ia kenal.

“Reza….” Wanita itu memeluk Reza dengan penuh kerinduan

“Ini anak-anakmu?” Tanya wanita itu lanjut

“Ya Bi…”

“Ya Allah, mereka sudah besar-besar” ucap wanita itu dengan mata berbinar.

“Ayo salam dengan Nenek…”

Sore itu berlalu dengan senda gurau Reza dengan Bu Darmi sedangkan Aisyah dan Andi terlihat sibuk bermain di halaman rumah dengan teman-teman baru mereka.

***

“Andi bangun, sudah subuh….” Aisyah membangunkan adeknya untuk segera sholat.

Setelah sholat berjamaah Reza sudah tampak siap dengan baju training dan sepatu ketnya.

“Ayah, kita mau kemana?” Andi tampak penuh tanya

“Ya Yah, seperti mau lomba lari saja” Aisyah ikut protes

Mereka sudah siap dengan bekal di tas masing-masing.

“Hati-hati ya Za” Kata Bu Darmi

“Ya Bi, aku tidak sabar melihat kembali semua keindahan Curup”

Mereka naik mobil sebentar menuju kaki Bukit Kaba.

“Ayah, kita kok lewat hutan-hutan? Kata ayah mau jalan-jalan ke tempat yang tidak akan terlupakan.” Andi protes dan nampak kecewa

“Ayah tidak ingkar janji kok. Hari ini kita akan mendaki bukit Kaba.”

“Haaa! Mendaki Yah?” Aisyah seperti tidak percaya

“Ya, kita akan mendaki. Makanya, kita memakai pakaian ini dan membawa bekal.”

“Tapi kan Yah, Aku dan Andi belum pernah mendaki. Itukan jauh.”

“Ah kakak, dulu ayah seumur kalian sudah mendaki. Kan kalian masih muda. Pasti kuat-kuat” Reza mencoba membujuk anak-anaknya.

Reza mulai menatap ke atas. Ia tidak mengira akan kembali mendaki bukit yang sama.

“Ais, Andi… kalian tahu kenapa ayah mengajak kalian ke sini?” Reza mulai menatap kedua anaknya

“Emang kenapa?”

“Ayah akan bercerita ketika kita sampai di puncak. Ayo kita mulai mendaki. Semoga Allah memudahkan ya”

Kurang lebih 15 menit berjalan, Aisyah dan Andi terlihat begitu lelah. Reza pun tersenyum melihat mereka.

“Anak-anak ayoook naik mobil!”

“Naik mobil???” teriak Aisyah dan Andi serempak

“Ya, kita melanjutkan perjalanan naik mobil. Ayah lihat kalian sudah lelah. Jangan-jangan sesampai di puncak pada pingsan. Kan nanti Ayah juga yang repot.” Ungkap Reza sambil tertawa.

Perjalanan mereka berlanjut di mobil selama kurang lebih 2 jam.

Sampailah mereka di tangga puncak bukit Kaba

Fasilitas tangga di lereng luar Kawah Lama memudahkan para pendaki untuk mencapai bibir kawah-kawah lainnya di kawasan puncak. Sebelum menaiki tangga, para pendaki bisa menikmati kawah Mati di sebelah Kiri. Di sana, terkadang ada beberapa pendaki yang bermain sepak bola. Sumber mata air panas di Air Meles (lereng barat daya) dan di Air Sempiang (lereng selatan) juga merupakan tempat-tempat yang potensial bagi wisata gunung api di Kabupaten Rejang Lebong.

Andi mulai bersemangat untuk menaiki tangga karena ini adalah pertama kalinya ia mendaki.

“Bang, ini tangga disebut tangga seribu” Ungkap Reza sebelum Andi bertanya.

“Oh, berarti jumlahnya seribu ya? Oke, akan Andi hitung Yah” Andi tambah semangat

“…100,101,102…. Ah Ayah, Andi lelah. Kapan-kapan aja abang hitung”

“Kapan lagi bang? Lanjutlah hitungnya” Sindir Reza

Andi sudah berlari ke puncak, Mungkin bukan sepenuhnya karena lelah ia tidak mau melanjutkan hitungannya tetapi karena rasa penasaran akan apa yang akan ia lihat di puncak bukit.

“Ayaaaaahh…” teriak Andi dan Aisyah dari puncak

“Apa yang kalian lihat?” tanya Reza

“Lembah yang ada asapnya…” Andi mencoba menjelaskan.

Reza, Andi, dan Aisyah mengambil foto di setiap momen. Di setiap sudut puncak mereka berfoto. Untungnya di puncak bukit, bukan hanya ada mereka sehingga mereka bisa minta tolong difotokan.

“Ayaaah…” Ais menatap ke arah kawah lama

“Kenapa kak?”

“Yah, coba kalau ada Bunda. Pasti tambah seru” Aisyah tampak berkaca-kaca.

“Pastinya… tapi bunda sudah melihat pemandangan lebih indah dari ini” Reza memeluk putrinya itu.

“Abang ke sini dulu. Ayah mau cerita”

“Kakak, abang…kalian tahu mengapa Ayah sangat ingin mengajak kalian kesini?”

“Enggak Yah. Emang kenapa Yah?”Andi mulai penasaran

“Dulu ayah pernah berjanji dengan seseorang untuk membawa kalian ke sini. Sekarang Ayah sudah tepati. Pasti dia bahagia melihat kita sudah disini” Reza bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Siapa Yah” Aisyah menimpali.

“Bunda kalian” Reza menatap kedua anaknya, lalu memeluk mereka

“Dulu, ayah pernah ke sini dengan bunda kalian. Kami berjanji akan ke sini lagi bersama dengan anak-anak kami nantinya”

Hari itu berlalu dengan keceriaan dan keharuan. Keluarga kecil tanpa seorang ibu di tengah mereka tidak membuat mereka hilang kehangatan.

Andi dan Aisyah masih asyik bermain dan berfoto-foto dan mengambil video. Reza melihat sosok kedua anaknya dengan senyuman bahagia.

Terimakasih ya Rabb, Engkau anugerahkan mereka kepadaku.

Senja mulai tampak dari puncak, keindahan kawah semakin indah, udara pun semakin segar membuat Reza enggan turun dan pulang. Ia masih sangat merindukan suasana ini. Sangat merindukan sosok yang dulu duduk bersama dengannya melihat keindahan curup dari puncak bukit kaba. Ia berharap suatu saat ia bisa kembali lagi ke sini walaupun ia tidak tahu kapan tepatnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s