Mak, Aku Sembuh…

Laisa selalu memandang foto wanita berselendang biru muda yang terpajang rapi ketika ia duduk di ruang tamu. Wanita yang tinggal bersama Laisa sampai ajal menjemputnya. Sosok yang sudah 3 tahun lalu pergi meninggalkannya, namun Laisa merasa Mak selalu ada di sampingnya, seperti saat itu…

Mak, apa aku tidak bisa sekolah lagi?”

“Siapa yang bilang tidak bisa? Nanti Lais akan bisa sekolah lagi setelah sembuh”.

“Tapi, sudah setahun Lais tidak bisa bangun dari tempat tidur ini?”

Mak hanya bisa terdiam ketika anaknya berkata seperti itu. Hanya keputusasaan yang sekarang terlihat di wajah anak kelimanya itu. Putri harapan keluarga karena semangatnya untuk sekolah dan keinginannya merubah nasib keluarga. Putri yang begitu ceria dan rajin belajar itu kini terbaring lemah di kasur. Tubuhnya sudah berbeda dari setahun yang lalu. Kini bengkak di tubuhnya semakin besar. Bengkak yang membuat tubuhnya terlihat gemuk karena benjolan-benjolan berisi cairan nanah itu sudah semakin banyak. Mak dan Bapak hanya bisa memanggil dukun kampung untuk mengobatinya. Bukan tidak mau berobat kepada dokter, tetapi belum ada tenaga dokter saat itu, belum ada pelayanan kesehatan dan alat-alat canggih yang bisa mendiagnosa penyakit Laisa.

“Lais, lihatlah bengkak di bawah ketiakmu sudah pecah. Insyaallah sebentar lagi semua akan membaik.” Mak berusaha menghibur anaknya itu.

Lais ingat sekali seminggu yang lalu bengkak di ketiak itu pecah dan mengeluarkan cairan nanah berbau busuk. Dia ingat bagaimana Mak membersihkan cairan itu dari tubuh dan kasurnya. Bukannya marah tetapi Mak malah menunjukkan senyum bahagia ketika melihat Lais sudah bisa menggerakkan tangan kanan yang 6 bulan ini tidak bisa ia gerakkan.

“Paha Lais sakit Mak!” Lais berteriak sambil memegang pahanya. Ia seakan sudah tahu bahwa ada benjolan baru yang tumbuh di paha kanannya.

Mak, mungkin benjolan-benjolan ini akan pecah dalam waktu yang lama. Saya harap Mak dan keluarga tetap sabar dan berdo’a agar Lais bisa segera sembuh.” Jelas Pak Kadir, lelaki yang digelari dukun oleh masyarakat disana.

“Rasanya saya tidak tahan lagi melihat kondisi Lais, sudah 2 tahun Lais belum juga sembuh.”

Mak, kita tidak boleh menyerah. Kalau Lais melihat kita seperti ini, maka ia akan semakin sedih dan juga ikut menyerah untuk sembuh”. Bapak mengingatkan kembali Mak untuk semangat menyembuhkan anaknya.

“Ya betul Mak, kita pasrahkan semua kepada Allah. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah tetap mengobati Lais.” Pak Kadri juga ikut menyemangati Mak.

“Ya, saya seharusnya tidak semudah ini menyerah. Saya yakin Lais akan sembuh. Sampai kapan pun saya akan menunggu sampai Lais sembuh dan bisa kembali seperti anak-anak biasanya. Bermain, belajar, jalan-jalan, dan….” Mak tak kuasa meneruskan perkataannya. Ia memegang dadanya untuk menahan tangisan yang tidak boleh ia tunjukkan di depan Lais.

“Ini ada obat herbal untuk Lais. Oleskan setiap pagi dan sore ke tubuhnya.”.

Mak selalu mengolesi tubuh Lais dengan obat herbal yang diberikan Pak Kadir. Benjolan itu pecah satu persatu dalam 2,5 tahun ini. Ia lihat tubuh Lais sudah kembali normal. Tinggal satu benjolan lagi di Pahanya, tetapi sudah 6 bulan benjolan itu belum juga pecah.

“Pak, kenapa benjolan di paha Lais belum juga pecah? Bukankah biasanya benjolan di tubuh Lais pecah setiap 6 bulan?” tanya Mak yang kelihatan bingung dengan kondisi Lais.

“Saya juga masih bingung mengapa itu terjadi Mak. Tapi saya akan berusaha mencari obat baru untuk Lais.”

Suatu hari, Mak kedatangan tamu…

Mak, saya lihat Lais sudah semakin membaik. Jika Lais mau, ia bisa mengikuti ujian sekolah tahun ini. Saya tahu Lais sangat mau tamat SD. Ia sangat rajin sekali dulu pergi sekolah dan ia juga sering mendapat juara kelas.”

Setelah kepala sekolah pulang, Mak duduk di samping Lais yang sedang tidur. Ia menatap wajah Lais dengan penuh kasih sayang.

“Lais, mau sekolah lagi nak?” sebuah pertanyaan dalam hati Mak yang mungkin belum saatnya ia tanyakan atau tidak akan pernah ia tanyakan kepada Lais. Walapun ia tahu Lais sangat ingin kembali sekolah, tetapi ia belum mau menyinggung soal itu.

Pada saat itu, lulus SD adalah suatu kebanggaan. Hal ini dikarenakan belum banyak sekolah saat itu ditambah sangat jarang anak-anak yang bisa lulus SD. Jika bisa lulus SD, maka ia akan menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat.

Sudah menjelang 3 tahun Lais hanya tinggal di rumah saja. Mak lah yang menjadi tempat ia bercerita. Mak juga yang akan memenami ia sampai ia tertidur.

“Ya Allah, kasihanilah Lais. Dia masih begitu kecil untuk menderita selama ini. Aku sudah tidak kuat melihat penderitaannya. Aku mohon belas kasihMu untuk menyembuhkannya….” Doa Mak sambil mengelus kening Lais yang sudah tertidur.

3 tahun sudah berlalu…

Mak, Mak, Mak”  teriak anak kecil di halaman rumah depan.

Mak, aku mau ikut ke kebun. Aku mau bantu menanam kacang ya?” Anak itu memohon penuh harap.

“Ehm, ikutlah tapi selesaikan dulu pekerjaanmu menyapu.” Balas Mak sambil tersenyum melihat Lais, ia serasa tidak percaya putrinya itu sedang menyapu halaman sekarang.

Di ruang tamu…

“Bu, apa ibu tidak pernah bosan melihat foto nenek?” tanya putri semata wayangnya itu yang membuat Laisa kaget.

“Tidak akan pernah bosan….” Jawab Laisa sambil tersenyum.

“Ehm, kapan kamu pulang? Bukannya fitting baju pernikahanmu baru selesai nanti sore?”

“Aku sudah tiba dari tadi bu, tapi ibu tidak mendengar suara salamku.” Jawab Sheila tampak kecewa.

“Maaf ya sayang….” Laisa memeluk Sheila dengan hangat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s