Islam di Inggris, the black country

Inggris yang memiliki julukan “the black country” karena dianggap sebagai negara industri maju dimana berpusat di Birmingham dan Sheffield sehingga udara disana sering terlihat hitam akibat tertutup oleh asap-asap industri yang sangat banyak (Tapi maaf soal ini saya hanya baca sumber dan belum survei sendiri karena belum jalan-jalan ke kedua kota ini,he).

Pertama kali berangkat 14 september 2016 sore dari Jakarta-Abu Dhabi-Dublin-Bristol, UK. Bayangkan saya baru sampai siang tanggal 15 september 2016 di tanah UK. Pastinya yang saya alami adalah jet lag akibat panjangnya perjalanan di atas pesawat, dan pastinya ini yang pertama kalinya. Mencari wc adalah hal pertama yang saya lakukan sesampai di Bristol. Untuk apa? bukan BAK atau BAB, melainkan MUNTAH (hahhaha).

Hal pertama yang membuat saya parno dan was was saat pertama kali memutuskan untuk studi di Inggris adalah bagaimana kehidupan muslim disini. Banyak sekali pertanyaan yang saya tanyakan kediri saya. Bagaimana saya bisa survive disini? apakah akan mudah bertemu sesama muslim? apakah akan ada masalah dengan jilbab saya? mudahkah saya menemukan makanan halal? apakah saya bisa menemukan pengajian? dengar azan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Namun, dengan bismillah saya yakin dan percaya bahwa dimanapun kaki ini dipijak disana pasti ada keindahan islam yang akan saya temukan. Setiap sudut bumi ini adalah bumi Allah, maka saya tidak perlu cemas.

Pertama hal yang membuat saya tenang adalah saya memiliki banyak teman dari Indonesia yang sama-sama akan studi di Bristol dan lebih senang lagi mayoritas cewek muslimahnya pake jilbab. So, pakaian tidak akan jadi masalah. Di tambah lagi ketika pertama kali tiba di private accomodation (baca: kosan) saya, pemiliknya adalah muslim suriah yang sudah lama tinggal disini. Bahkan anaknya seorang muslimah, memakai hijab, pake gamis, sholehah, plus cantik lagi 😄. Dia akan tinggal bersama kami juga karena dia juga sedang studi undergraduate di University of Bristol. Dia lahir dan besar di UK, tapi keindahan islam tetap tidak luntur dari kepribadiannya. Dari dialah aku menyadari bahwa Islam sungguh agama yang dihormati di negara ini. Sudah banyak muslim yang tinggal disini baik dari penduduk lokal asli sini, maupun pendatang dari pakistan, india, suriah, dan negara lainnya. Saya menemukan beberapa muslimah di tengah perjalanan saya ke kampus terutama di bus. Ketika ke kota-kota lain seperti London, Manchester, Southampton, Glasgow, Edinburgh, York, dan Cambridge, saya pun bertemu dengan muslim dan muslimah. Selain itu sudah ada bangunan masjid di setiap kota tersebut. Yang mengejutkan saya, masjidnya sudah besar dan megah2 seperti di Indonesia. Walaupun suara azan tidak bisa terdengar sebanyak di bumi pertiwi tercinta.

 

Ini beberapa masjid yang saya kunjungi di Glasgow, Edinbrugh, dan Southampton

Masyarakat disini sangat menghormati perbedaan. Saya menemukan begitu besarnya toleransi terutama dalam hal beragama. Saya sangat terkejut ketika personal tutor saya bertanya, “Apakah kamu menemukan tempat solat di gedung ini?”. Belum sempat saya menjawab, dia langsung berkata lagi “Kamu bisa memakai ruangan-ruangan kosong disini kapanpun kamu mau sholat”. Saya yang mendengar itu langsung tersenyum bahagia dan terharu betapa mereka menghargai perbedaan agaman. Saya yang mengambil Master of Education (Mathematics Education) adalah bagian dari Graduate School of Education (GSoE). Maka, saya selalu kuliah di gedung GSoE yang memang belum tersedia tempat khusus untuk sholat. University of Bristol baru menyediakan “prayer room” berbentuk “Musholah” punya univeritas yang bisa diakses dengan kartu mahasiswa.

Women’s prayer room University of Bristol

Lokasinya cukup jauh dari GSoE. Jika bolak balik ke GSoE, akan cukup menguras tenaga dan waktu. Maka akan lebih efektif jika tetap sholat di GSoE. So, dimana sholatnya? ya di ruang kelas yang kosong. Kita yang muslim disini biasanya akan Wudhu di wc dengan wastafel (baca: bisa bayangkan kan gimana mencuci kakinya? angkat mengangkat ke atas wastafel, sensasinya itu menyisakan becekan-becekan di wc, yang kalau saya lihat tidak pernah sama sekali becek sebelumnya karena orang bule tidak suka wc nya becek,he), lalu bergeriliya mencari ruang kelas kosong. Alhamdulillahnya, setiap jadwal perhari di setiap kelas selalu terpasang rapi di depan pintu kelasnya, ini sangat mempermudah kita mencari tempat sholat di gedung-gedung perkuliahan disini.

Ketika menjalani perkuliahan tidak ada satu pun perasaan diskriminasi yang saya rasakan karena pakaian yang saya kenakan. Sungguh disini benar-benar respect satu sama lain, tidak ada perbedaan dalam pelayanan, semua diberikan sama, sehingga saya tetap bisa dengan mudah mendapatkan akses apapun. Dalam pertemanan pun, setiap orang membuka diri untuk mengenal siapapun (catatan: namun memang tidak se ramah orang indonesia, hiks). Budaya kita tentu berbeda dengan orang-orang disini dan kita harus memaklumi itu, maka tentu kita tidak bisa membanding-bandingkan keduanya. Alhamdulillah selama kurang lebih hampir 5 bulan tinggal disini, saya merasa bahwa cahaya islam tetap terang di negeri the black country ini.

Kapan-kapan saya sambung ke makanan halal dan pengajian-pengajian atau komunitas muslim disini…..