Pendidikan dan Multiple Intelligences

Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita dengan istilah Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk), dimana memandang tes IQ sebagai non sense test untuk para pelajar karena tidak cukup menjadi assessment test kecerdasan. Saya sangat mengagumi konsep pandangannya yang bijak bahwa tidak ada anak yang terlahir bodoh, minimal setiap anak terlahir dengan satu atau dua kecerdasan. Konsep MI sudah diterapkan di beberapa sekolah oleh Bapak Munif Chatib, pakar MI di Indonesia yang telah banyak mencoba membuka pikiran masyarakat tentang konsep kecerdasan sebenarnya, khususnya membuka cakrawala seorang guru untuk memilih cara yang tepat dalam mengajar siswa-siswanya. Seorang anak terlahir dengan kecerdasan masing-masing.

Kali ini karena saya lulusan pendidikan matematika menjadi alasan kuat saya tertarik mengetahui bagaimana implementasi MI dalam matematika ditambah lagi butuh banyak baca literature bahasa inggris.

Kita semua pasti mengetahui bahwa setiap orang belajar matematika dengan cara yang berbeda-beda, tidak semua orang bisa menyelesaikan matematika dengan semua rumus-rumus yang ada. Terkadang banyak siswa yang mempunyai kreatifitas dan talenta artistic yang sulit mengikuti pembelajaran matematika formal sehingga membutuhkan metode lain dalam memahami matematika. Ada beberapa metode pembelajaran yang bisa diajarkan berdasarkan kecerdasaran anak. Anak yang cerdas secara verbal/linguistic mereka harus diajakan menerjemahkan matematika ke bahasa verbal contohnya grafik. Anak yang cerdas secara logical tentu lebih mudah diajarkan tentang konsep formula dan abstraknya matematika. Anak yang cerdas visual lebih mudah memahami matematika lewat gambar nonverbal dari ide matematika terutama yang berpola.  Anak yang cerdas kinestetik memahami dengan sebuah aksi dan praktek langsung. Anak yang cerdas musik memahami matematika melalui music atau lirik-lirik. Anak yang cerdas secara interpersonal harus diajarkan  dengan metode yang sesuai dengan kepribadian mereka. Kesimpulannya adalah ada hubungan kuat metode mengajar matematika dengan kecerdasan anak. Guru ataupun orang tua harus memahai setiap kecerdasan  murid maupun anak-anaknya. Untuk penjelasan yang lebih terperinci saya belum banyak menemukan contoh pengajaran Matematika dengan prinsip MI. Masih mencari dan perlu membaca lebih banyak.

Berbicara tentang MI, kita bisa membaca buku Becoming A Multiple Intelligences School karya Thomas R Hoerr. Jujur, buku ini memotivasi saya untuk lebih semangat mewujudkan mimpi saya untuk mendirikan yayasan pendidikan.

kata pengantar dari Howard Gardner dari Cambridge yang pertama kali mengeluarkan teori tentang MI sehingga teori ini bisa sampai diterapkan kedunia pendidikan. Mengapa saya memulai dari kata pengantar? Karena hal inilah yang memotivasi kita untuk segera membaca buku ini.

Kita akan selalu tertarik pada sesuatu yang bersifat perubahan yang berhubungan dengan diri kita sendiri. Maka tidak aneh jika banyak permintaan seminar tentang self-improvement yang menjanjikan kreatifitas tinggi, kehidupan spiritual , dan transformasi pendidikan. Dalam hidup kita menemukan keajaiban. Jika seseorang mencari perubahan dasar maka pendidikanlah jawabannya. Howard Gardner bersama para pendidik menyadari bahwa teori MI tidak diperoleh dalam proses yang cepat. Banyak perbedaan individual yang serius dan menerapkannya ke dalam kurikulum dan instrument penilaian yang ada di dunia pendidikan membutuhkan teamwork selama beberapa tahun. Satu hal lagi, proses penerapan teori MI ke sekolah membutuhkan waktu satu dekade. Dalam buku ini, Tom Hoerr  menghubungkan pengalaman penerapan MI di sekolah St. Louis’s New City School  selama 10 tahun. Banyak aktifitas yang dilakukan oleh para guru dan staff dalam proses pengajaran, kurikulum, pengembangan assessment dan tantangan yang dihadapi selama percobaan membawa perubahan baru dan significant. Khususnya usaha keras dalam mengembangkan kecerdasan individual selama adanya issue perbedaan gender, multicultural,  dan standar yang masih belum begitu jelas. Howard mengatakan bahwa ia banyak belajar dari buku ini tentang penjelasan teori MI yang begitu jelas, penerapan MI yang efektif, contoh sekolah yang menerapkan MI, dan bagaimana penjelasan proses beratnya perjuangan menerapkan MI selama 10 tahun. Membaca perjuangan  dan kemenangan the New City School family membuat saya menyadari betapa sulitnya membuat MI School.

Hidupmu adalah pilihanmu

Yesterday is a History. Tomorrow is a mystery. Today is a Gift. That’s why we call it PRESENT.

Kata-kata itu cukup menggambarkan betapa pentingnya hari ini dan betapa berharga setiap waktu yang kita jalani. Jika ingin belajar bagaimana memaknai hidup, buku Cherish Every Moment is really recommended for everybody. Mungkin ada yang penasaran apa artinya Cherish Every Moment???

Cherish Every Moment berarti kita harus menghargai setiap waktu, setiap saat, bahkan setiap detik yang kita alami dalam hidup ini. Waktu yang paling berharga adalah Hari INI. Namun sayangnya banyak diantara kita yang tidak menyadari itu karena kita sibuk bahkan cemas akan masa depan yang belum tentu akan kita temui, bisa sajakan tomorrow is never comes. Atau kita terpuruk dalam penyesalan masa lalu yang tidak bisa lagi kita ulang.

Mengapa kita harus menikmati waktu Hari Ini?

64a5d09468aa40db396098c06645792dKarena mungkin saja hari ini adalah hari terakhir kita untuk bertemu orang-orang yang kita sayangi: keluarga, sahabat, teman, serta tetangga. Bangunlah mindset bahwa “jangan-jangan hari ini adalah hari terakhir saya”. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan hari ini dengan maksimal dengan membuat orang sekitar bahagia dan tidak kecewa. Kalau saja kita mampu berpikir seperti itu, maka yakinlah hubungan kita dengan setiap orang berada pada kualitas yang terbaik. Namun yang terpenting adalah kita akan beribadah kepada Tuhan dengan kekhusuan jika kita membayangkan hari ini adalah hari terakhir kita beribadah. Dengan mindset seperti ini hidup kita akan jauh lebih indah. Selipkan selalu dalam setiap aktifitas kita ketika lelah, marah, cemas, sibuk, bahkan mengeluh akan hari ini.

Tapi berbicara kematian sering menakutkan banyak orang…

Mengapa kita takut? Karena kita tidak tahu apa itu mati sama halnya ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Jika kita bertemu dengan seseorang yang belum kita kenal, maka pasti ada kecemasan dan ketakutan di dalam diri: Apakah dia orang yang ramah? Menghargai Anda? Suka bercanda atau serius? Mau mendengarkan Anda? Bertele-tele atau to the point?.

Lantas bagaimana agar kita tidak takut dengan kematian? Tentu saja dengan mencari tahu informasi mengenai kematian. Dan, karena belum pernah ada orang mati yang kembali ke dunia ini, tentu saja kita perlu mencari tahu melalui Kitab Suci. Atau boleh juga bertanya kepada orang-orang yang pernah mati suri atau kepada yang pernah mengalami near to death experience. Kita juga perlu membuka topik-topik mengenai kematian ini kepada anggota keluarga kita. Coba diskusikan apa yang akan terjadi jika salah seorang dari keluarga Anda meninggal. Jangan menganggap ini tabu. Justru ini adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia ini.

Menurut Anda manakah orang yang lebih berani: orang yang berani hidup atau berani mati?

Kedua-duanya. Orang yang berani adalah orang yang berani mati sekaligus berani hidup. Kita siap untuk hidup, siap juga untuk mati. Mengapa demikian? Karena hidup indah, mati juga indah.

So, Hidup adalah Hari Ini. Karena itu tidak ada yang lebih penting dibandingkan dengan hari ini. Hari ini adalah sesuatu yang nyata. Hari ini adalah hadiah terbesar dari Tuhan kepada kita. Kalau kita menyadari itu, maka kita akan menghargai setiap momen di kehidupan kita sehingga hidup kita akan terasa lebih indah.

Life is choice….

Hidup akan lebih indah apabila ia berada di tangan kita sendiri bukan di tangan orang lain. Cobalah renungkan baik-baik siapakah yang sekarang ini mengendalikan kita??? Apakah Kita menjadi sutradara terhadap kehidupan Kita sendiri? Ataukah Kita merasa dikendalikan dan diatur oleh orang-orang sekitar Kita? Apakah Kita melakukan banyak hal lebih karena kewajiban Kita dan bukan karena keinginan dan pilihan Kita sendiri???

Topik ini sangat penting karena masih banyak orang yang merasa tidak mempunyai pilihan dalam hidupnya. Apakah termasuk kita??? Orang-orang seperti ini sangat dipengaruhi oleh kondisi dari luar, padahal kemampuan terbesar yang kita miliki dalam hidup adalah kemampuan kita untuk memilih.

Apa ciri-ciri orang yang yang merasa seperti itu?

Pertama, orang itu selalu merasa terpaksa dalam melakukan sesuatu dan sering merasa tidak berdaya. Kedua, mereka melakukan segala sesuatu atas nama kewajiban (kewajiban atasan, mencari nafkah, menghidupi keluarga, tuntutan orang sekitar). Jika kita seperti ini, maka kita tidak akan menikmati hidup yang indah karena merasa kendali tidak ada dalam genggaman kita.

Ingat hidup hanya akan indah kalau KITA menjadi TUAN terhadap kehidupan kita. Kitalah yang menentukan dan mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita.

Tapikan wajarkan kalau kita dipengaruhi oleh lingkungan luar?

Ya wajarlah, bahkan sangat wajar. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa terpengaruh oleh lingkungannya. Tapi ini namanya “dipengaruhi” bukan “ditentukan” karena keduanya memiliki perbedaan sangat besar.

Lantas bagaimana agar kita tidak ditentukan oleh lingkungan?

Jangan pernah menyerahkan remote control Kita kepada orang lain. Kita harus menyadari bahwa kita mempunyai PILIHAN. Pilihan inilah kata kuncinya. Bahwa pada setiap kondisi kita selalu mempunyai pilihan. Benar, kita tidak selalu bisa memilih lingkungan kita, tetapi kita senantiasa dapat memilih respon kita. So, gunakan pilihan itu dan semua akan berubah.

Apa contoh-contoh pilihan dalam Hidup?

Seorang wanita karir memilih berhenti bekerja demi keutuhan keluarganya. Bukankah itu sebuah pilihan? Bukankah banyak diluar sana, wanita-wanita karir yang tetap bisa bekerja sekaligus mengurus keluarganya?

Pilihan-pilihan dalam hidup ini masih sangat banyak. Bayangkan ketika bangun tidur pagi tadi. Kita bisa memilih bangun jam berapa, lalu sarapan apa, sambil sarapan ada pilihan kegiatan apa yang mau dilakukan hari ini, ketika sarapan sambil nonton TV ada juga pilihan kita mau nonton channel apa. Sepanjang jalan di perjalanan kerja kita juga punya pilihan: mendengar musik, menelepon, berdzikir, baca Qur’an, membaca buku, dan sebagainya. Ketika samapai di suatu tempat kerja kita juga punya pilihan: tersenyum, marah, tanpa ekspresi, menyapa duluan, dan sebagainya. Jadi, banyak sekali pilhan dalam hidup… Tapi sampai sejauh ini sudah berapa banyak pilihan yang kita buat? Esensinya hidup itu sendiri adalah pilihan. Life is a choice.

Namun, adakalanya lingkunganlah yang menentukan respon kita. Misalnya ada yang marah kepada kita, Apakah kita mempunyai pilihan?

Tentu saja. Kita bisa memilih diam saja dan tidak memperdulikan orang tersebut. Kita juga bisa bals memarahinya. Kita juga bisa bertanya baik-baik mengenai apa yang menjadi pokok permasalahannya. Jadi, kita senantiasa mempunyai pilihan.

Tapi, sering dalam kondisi emosional, kita tidak sadar bahwa kita mempunyai pilihan…

Pertama-tama kita harus menyadari bahwa dunia yang sangat runit ini pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu stimulus (segala sesuatu yang kita alami yang berada di luar kita) dan respons (segala sesuatu yang ada di dalam diri kita: perilaku, tindakan, tanggapan). Kualitas seseorang bukan dilihat dari stimulus yang diterimanya tapi dari respon yang diberikan. Seringkali kita tidak pernah sadar dan selalu lupa mengambil jedah antara stimulus dan respon sehingga kita sering mencampuradukkan semua itu. Dan karena begitu bercampur aduknya, Maka kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga: PILIHAN-PILIHAN KITA.

Dikutip dari buku Cherish Every Moment  karya Arvan Pradiansyah