Nano-nano di Ramadhan kali ini: Puasa, Summer, dan Dissertasi

Ramadhan adalah bulan istimewa bagi setiap umat islam. Bulan suci penuh berkah dan berlimpah pahala. Setiap muslim di belahan bumi Allah bergembira menyambutnya. Namun, tak terasa 5 hari lagi kita akan berpisah. Bersyukur karena sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa menikmati Ramadhan kali ini. Bersedih mengingatkan akankah kita bertemu lagi dengan bulan penuh maghfiroh ini ūüė¶

3

Foto Bareng Anggota pengajian Al hijrah

Ada yang berbeda dan menarik di Ramadhan kali ini. Aku yang niat awalnya ingin menghabiskan Ramadhan di Indonesia akhirnya memutuskan tetap menikmati puasa di Bristol dan tidak pulang ke Indonesia. Selain soal dana yang cukup mahal ke Indonesia (maklum masih mahasiswa :)), Aku juga tidak mengurus dana penelitian ke Indonesia. So, kalau mau pulang Indonesia aku harus menguras kantong sendiri. Kan mahal :(…. Selain itu, sekarang lagi masa menyusun thesis (Dissertation klo disini)¬†dan aku merasa akan lebih fokus jika mengadakan penelitian disini (Sambil bisa melihat pembelajaran matematika di salah satu sekolah di UK, kapan lagi coba,he).¬†Kebayang sekali, jika aku pulang ke Bengkulu, pastinya lupa thesis, karena pengen menikmati kumpul dengan keluarga dan teman-teman. Ngabuburit, buka puasa dan tarawih bareng, plus¬†mencicipi ta’jil (bukaan) yang pastinya menggoda selera. Kok jadi rindu pulang, hiks ūüė¶

Ramdhan kali ini sungguh sangat berbeda. Tetapi perbedaan itulah yang membuat aku merasa Ramadhan kali ini spesial. Aku menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi ya, Jadi pastinya ada perbedaan dengan pengalaman yang dirasakan teman-teman lainnya yang berkesempatan melakukan ibadah puasa di Negara Queen Elizabeth ini.

1. Durasi puasa

Inggris adalah salah satu negara yang durasi puasanya adalah terlama di dunia yaitu 18.5 jam dimana kurang lebih berbeda 5 jam dari Indonesia. Aku ingat dihari pertama puasa, ketika menelepon orang tua. Mereka sedang berbuka (jam 18.20 an), sedangkan aku harus menunggu 9 jam lagi (karena disini masih jam 12 siang). Ada sedikit perbedaan jadwal dibeberapa masjid, jadi biasanya diserahkan kepada pribadi mau mengikuti yang mana (baca: Perbedaan adalah sunnatullah :)). Aku pribadi dan beberapa teman-teman indonesia mengikuti aplikasi Athan, yang dipake oleh beberapa masjid di Bristol, dimana durasi puasa di hari pertama adalah dari 02.38  sampai 21.13 (18.5 jam lebih sedikit). Namun sekarang, di hari ke-25 puasanya sudah hampir 19 jam (02.37-21.31).

2

Buka puasa bersama anggota pengajian Al-Hijrah Bristol

Jujur di hari pertama, terasa aneh dan lelah. Dulu yang biasanya puasa lebih kurang 13.5 jam tetapi sekarang harus menambah lagi 5 jam lebih lama. Yang sangat terasa lelah nya adalah jarak yang sangat singkat antara berbuka puasa sampai ke waktu subuh. Setengah 10 malam buka, jam 11 nya mulai terawih sampai jam 12 an, dan jam 2 pagi harus sudah sahur lagi. Kayak ngejar-ngejar gitu. Makanan belum turun, harus ngisi lagi. Tapi kalau tidak sahur takutnya nanti tidak ada energi. Dilemma emang,hahhahahaa.

Salah satu cara agar aku tidak bangun telat, aku memutuskan untuk tidak tidur semalam sampai waktu subuh tiba. Alhasil, selama Ramadhan waktu tidurku berubah, yaitu setelah subuh sampai jam 11 an. Aku baru menyadari, bahwa pola tidurku selalu berubah sesuai musim :). Aku akhirnya menutup jendela agar merasa itu masih suasana malam (Baca: padahal cahaya sudah terang jam 4 an). Kalau tidak begitu, aku tidak akan bisa tidur. Enggak kebayang, kalau di Indonesia ada Summer, hahaha.

2. Suasana yang berbeda

Walaupun sudah ada beberapa masjid di Bristol, tetapi islam masih menjadi agama minoritas di sini. So, suasana Ramadhan tentu berbeda sekali dengan Indonesia. Sebelum ramadhan, biasanya ada pawai Ramadhan dan tabligh akbar yang ¬†bisa dihadiri bersama dengan teman-teman. Ditambah, ada penyebaran jadwal sholat dan puasa di masyarakat sekitar. Pada saat Ramadhan, Aku juga ingat jelas jika setiap menjelang berbuka, pasti ada murottal yang dihidupkan melalui¬†speaker¬†masjid di dekat rumah. Ada suara azan berkumandang dimana-mana menandakan waktu sholat termasuk maghrib. Ada banyak acara islami di berbagai channel TV termasuk taujih sebelum berbuka puasa dan doa’ berbuka yang selalu dibacakan oleh seorang anak ketika waktu berbuka tiba. Ada tadarusan di beberapa masjid setelah selesai terawih. Ada teriakan anak-anak keliling komplek untuk membangunkan sahur. Pokoknya, benar-benar terasa suasana Ramadhannya.

Bagaimana dengan disini?

Tentu sangat berbeda, aku tidak menemukan suasana-suasana itu disini. Apakah sedih? pastinya sedih, tapi ada rasa syukur yang mendalam saat merasakan suasana yang berbeda disini. Disini, aku belajar bagaimana membangun suasa keindahan ramadhan itu dari diri sendiri. Ketika suasana di luar kita tidak mendukung, bukan berarti kita kehilangan momen indah Ramadhan. Karena muslim yang sudah lama tinggal disini bisa tetap bahagia menyambut Ramadhan dan berlomba-lomba melakukan kebaikan. Hal itu bisa terlihat ketika aku sholat di masjid. Mereka sangat khusyuk dalam beribadah, bahkan ada program i’tikaf di beberapa masjid di 10 malam terakhir (tetapi belum begitu kondusif untuk muslimah).¬†Ketika menjadi minoritas, tentunya kaum mayoritas tetap melakukan aktifitas mereka seperti biasa. Tidak akan pernah kita temui adanya restauran yang tutup di bulan ramadhan :).¬†Kita harus saling menghargai. Mereka menghargai kita, tentunya kita juga harus menghargai mereka.¬†Tetap ada acara kampus, misalnya akhir-akhir ini ada acara picnic bersama di siang hari yang pastinya ada makan bersama. Tetapi, banyak teman-teman nonmuslim disini mengetahui adanya fasting month bagi umat islam. Aku ingat ada teman yang bercerita, bahwa salah satu temannya British nonmuslim mengatakan ” I think I will die If I do fasting”.¬†Coba mereka mau coba dulu ya, untuk membuktikan apakah benar akan membuat meninggal atau tidak, he. Di malam minggu, mereka tetap mengadakan party sampai pagi. Jadi waktu pulang terawih kita akan tetap bertemu orang-orang yang sedang party di sepanjang jalan. Pas sahur pun masih terdengar suara gelak tawa mereka.

3. Buka puasa

Karena tidak ada azan, jadi aplikasi atau jadwal dari masjid terdekat lah yang menjadi patokan menentukan waktu berbuka puasa. Soal menu berbuka tentu tidak sebanyak pilihan di Indonesia. Sayangnya juga tidak ada tempat beli ta’jil (bukaan) disini karena jika ingin makan makanan Indonesia, ya harus masak sendiri. Masalahnya adalah kemapuan memasak ini yang maish terbatas. Bisanya hanya masak yang sederhana-sederhana saja. Kolak, gorengan, rebusan, mie, dan makanan sederhana lainnya. Makanya, pasti momen buka bersama¬†adalah momen yang ditunggu-tunggu karena saat itulah kita bisa makan berbagai macam makanan Indonesia yang aku pribadi belum bisa masak (Baca:¬†gratis pula,he). Bersyukur, bertemu dengan teman-teman dan WNI yang berhati mulia, sering mengundang dan memasakkan makanan bagi mahasiswa-mahasiswa secara gratis :).

IMG_20170620_044208

Buka bersama para sahabat Mahasiswa University of Bristol

Sebenarnya masih banyak hal menarik lainnya, tetapi karena mata ini sudah tidak sanggup menahan mata jadinya sampai disini dulu ya.

Bagi aku, ramadhan kali ini berbeda, tetapi begitu bermakna dihati. Apalagi puasa, summer, dan dissertasi adalah tiga kata nano-nano di ramadhan kali ini. Suhu udara yang begitu panas selama ramadhan kali ini (maklum lagi summer) menjadi tantangan tersendiri. Hari ini suhu 34 derajat dan itu panas sekali, jadi terasa sekali dehidrasinya. Ditambah lagi harus tetap bimbingan di bulan puasa. Yang paling berat adalah baca literature (Baca: tidak mudeng-mudeng otak, hiks). Benar-benar pengalaman besar dan berharga di tahun ini.

Banyak sekali pengalaman berharga yang aku dapatkan selama puasa disini yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Pengalaman ini juga menambah rasa syukurku karena selama ini bisa melakukan puasa di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Selama studi di Bristol, aku pribadi merasa bahwa banyak sekali hal-hal yang dianggap kecil yang sering terlupa, padahal itu adalah nikmat yang luar biasa yang terkadang diri pribadi jarang syukuri.

-Bristol, Ramadhan ke 25 jam 4. 23 pagi di saat Matahari sudah menampakkan cahayanya-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s