Selamat Karena Anda Sampai pada Kolom ini!

Saudaraku mari kita membaca ini dengan hati yang jujur karena muara cahaya hanya ada di dalamnya….

Sudah bersyukurkah, banggakah, dan cintakah kita dengan keislaman kita?

Saudaraku  angka berapa yang sudah menggambarkan umur kita hari ini, 18,19,20 atau lebih dari itu. Sudahkah kita mengucapkan kalimat ‘Alhamdulillah Aku Lahir sebagai Orang ISLAM’ sepanjang umur itu? dengan lantang, pelan, atau sangat pelan di dalam hati sekalipun. Jika SUDAH, maka selamat kita termasuk yang sudah bersyukur akan islam dan iman ini. Jika BELUM, maka masih ada kesempatan yang Allah berikan untuk mensyukurinya. Allah sungguh tidak butuh kalimat itu, tetapi itu awal yang kita butuhkan jika ingin merasakan bangga dan cinta dengan agama kita.

Sudah Bangga? Bagaimana ketika ada yang mengatakan islam itu TERORIS,KERAS, dan BANYAK ATURAN. Apa kalimat atau sikap yang terlontar dari mulut kita mendengar itu? DIAM, MEMBENARKAN, atau mengatakan itu TIDAK BENAR? Hanya kita yang tahu. Memang itu sikap yang sangat kecil tetapi pernakah kita meyadari sikap kecil itu cerminan kebanggaan kita akan agama kita? Bagaimana orang di luar islam mau berpositive thinking pada islam jika kita umatnya tidak bangga dan malah negative thinking dengan agama kita sendiri. Ingatkan contoh mulia yang Rasulullah contohkan? Yang menggambarkan betapa indahnya islam itu sehingga begitu banyak yang menjadi muslim melalui akhlak dan sikapnya. Kebanggaan akan keislaman kita inilah yang membuat kita akan mudah menjalani semua ajaran islam dan bahkan berlomba-lomba menjadi yang TERBAIK. Adakah perasaan malu sholat tepat pada waktunya dan membaca Al-qur’an, serta  mengajak yang lain untuk melakukannya? Malu banget karena takut menyandang predikat “Sok ALim” dari orang-orang tetapi kita tidak pernah malu bagaimana predikat kita di hadapanNYA. Banyak muslimah yang malu menutup aurat karena takut dibilang cupu dan Gx Gaul. Naudzubillah….semua itu untuk kita wahai saudaraku bukan untuk Allah. Kitalah yang butuh semuanya, janganlah kita sombong pada Allah sampai mulut pun sulit untuk berdo’a karena sesungguhnya yang memberi kehidupan kepada kita hanya Allah. Malu berbuat baik dan malah bangga berbuat maksiat adalah KESEDIHAN terbesar bagi kita hari ini. Sekali lagi saudaraku masih ada waktu kita untuk memperbaikinya.

Mencintai keislaman kita? tentu masih jauh karena tidak mungkin jika sudah ada kata cinta kita masih senang menyakiti sang Maha hak untuk kita cintai. Tertawa saat hati jujur mengingatkan “ ini SALAH “ dan masih saja kita lakukan itu, padahal Sang Baginda Rasulullah yang sudah dijamin masuk syurga sekalipun masih sering menangis dan jarang tertawa. Kita? Dimanakah tangisan kita saudaraku?. Tiket ke syurga dan bertemu Allah bukan hanya HAK sang Aktivis dakwah, para penghapal Al-Qur’an atau para ulama tempat muara ilmu. Kita juga masih mempunyai hak yang sama saudaraku. Masih ada bukan “cita-cita” kita untuk berkumpul kembali di syurgaNYA saudaraku?.Mari bersama walau di tempat yang berbeda, kita memperbaiki diri di waktu yang tersisa ini (Qs. Al-Ashr :1-3). Allahu’alam

Begin Caring, then poverty will be solved!!!

 The world is inhabited by people of various ethnic, religious and racial certainly experienced many problems, one of them is poverty that have not been resolved. Poverty is caused of variuos terms such as from the individual’s own having wasteful behavior while little income, do not want to change his fate, or limited ability. Cause of family are low of family education or number of family members, sub-culture associated with the criteria of the “rich” or “poor” in the neighborhood. Cause of the agency like war as well as cause of the social structure which live in groups, the rich live in groups with the rich while the poor still only gets along with other poor people1.

Solution for poverty problem is always be considered so that all the people prosperous and happy, no more people who died because malnutrition, no more wandering beggars, no dropouts, and no longer feel disadvantaged born into the world. Poverty looks so difficult to overcome, but no means impossible to solved as Yunus said that a world free of poverty is not impossible. Poverty is not created by the poor society but are created by the system in the community. But if we all do not care about poverty means we also become part of the system that creates poverty itself2.

If talking how to overcome poverty, then we must choose what is most important and urgent to be fixed. Education is a major factor in overcoming poverty because education is directly related to the creation of human resources as an actor in this world. Through education they can have the skill, insight and knowledge that lead to creativity and innovation, the confidence to go forward, and moral value could teach to respect to themselves and others.

There are several ways we can do in education. first, the “Robot Schools” must immediately be changed into “Human school. How to make school fun and could be a place to find child’s interests and talents so that they can have the skills appropriate to their potential. Teachers should really pay attention to all the children so that He can unuderstand how to teach them with appropriate teaching methods. One of them could be applied is learning strategy Multiple Intelligent (MI) in which a teacher pack his style according to students’ learning styles so that they are easy to understand3.

Second, make formal, informal and non-formal support each other. Formal education which institutions are structured and tiered sometimes still can not produce quality human resources. Besides, not everyone can get formal education due to lack of funds. So, non-formal education should be supporting in improving skills, knowledge, and science through vocational training, counseling, education and training, as well as upgrading or guidance. Informal education is also important because the actual primary education was in the family and the environment.

Third, to help each other. Solving the problem of poverty requires the role of all parties, both government and the citizenry. The government must be able to provide a policy that is not only be a temporary solution that spoil the poor. The government should provide loan for working capital or loan for school can be paid after they work. Then, strict policy for rich people to pay taxes to help the poor. In addition to the role of government, the People should also realize that poverty can not solved only by relying the government but every people must strive personally to change their fate. Concerns of the people with the establishment reading or halfway house, free to teach anyone who wants to school without disrupting their time to find the money is no less important solution so that all poor people can get an education.

Some of the solutions to overcome poverty have been scattered everywhere. However, that solutions will not useful if those are not applied in serious action. Start from personally and do not blame each other. We should do anything that can be done to solve poverty in the neighborhood closest to us. If anyone dared to initiate action in tackling poverty concern is not impossible to overcome poverty someday.

1________. Poverty.13th June 2014. http://en.wikipedia.org/wiki/Poverty.

2Yunus, Muhammad. Creating a world without poverty. New york :Public Affairs, 2007.

3Chatib, Munif. School is Human. Bandung: Kaifa, 2012.

Peringkat Ke-65, Salah Siapa???

Picture1Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang jumlah penduduknya  sekitar 241 juta jiwa dan memiliki luas daerah yang sangat luas yaitu dari sabang sampai marauke. Banyak hal yang harus dilakukan dan diperbaiki oleh Indonesia dalam rangka mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara maju.  Terutama adalah perbaikan sektor pendidikan. Mengapa harus pendidikan?. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan satu-satunya alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemajuan suatu bangsa pun ditentukan oleh pendidikan. Melalui pendidikan kualitas manusia Indonesia bisa meningkat. Jika kualitas sumber daya manusia meningkat, maka kehidupan bangsa pun meningkat.

Salah satu pendidikan yang harus menjadi perhatian adalah pendidikan matematika. Matematika merupakan ratu ilmu pengetahuan, merupakan alat ilmu pengetahuan dan merupakan ilmu yang banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika adalah sebuah ilmu dasar yang harus dipelajari seorang anak selain bahasa. Selain itu, melalui matematika banyak karakter yang bisa kita tanamkan pada masyarakat, terutama para generasi bangsa. Tetapi pemahaman akan matematika di Indonesia masih rendah. Hal ini terlihat dari mutu pendidikan matematika Indonesia berdasarkan data PISA (Programme of International Student Assessment) tahun 2009, Indonesia berada pada posisi 61 dari 65 negara. PISA diadakan setiap 3 tahun sekali terhitung sejak tahun 2000 yang mengikutsertakan siswa berusia 15 tahun dari 65 negara, negara maju dan negara berkembang. Siapa yang bisa disalahkan ketika Indonesia hanya berada di peringkat ke-61 dari 65 saat data PISA itu dikeluarkan tanggal 7 Desember 2010 ( http://www.pisa.oecd.org). Ternyata kita tidak bisa menyalahkan siapapun karena pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama. Mantan presiden Soeharto juga sudah menegaskan itu saat berpidato dalam KTT (Konferensi Tingkat Tinggi)  tahun 1993 di India.

Jika mau jujur, maka pasti sangat banyak diantara kita yang tidak menyadari kondisi ini. Sangat sedih sekali saat tenaga pendidik dan para calon guru matematika tidak sama sekali tahu kondisi ini bahkan sekalipun memikirkannya. Tidakkah ada rasa iri dengan kondisi pendidikan di Cina yang begitu bagusnya sehingga memperoleh posisi pertama di penilaian membaca, matematika, bahkan kemampuan sainsnya. Fakta ini harus menjadi perhatian kita bersama untuk memperbaikinya. Bukan sebuah mimpi tidur saja jika kita mau menaikkan posisi Indonesia dalam berbagai aspek pendidikan terutama matematika, tetapi ini adalah cita-cita kita bersama untuk mewujudkannya.

Pendidikan matematika formal sering menjenuhkan siswa. Matematika pun mulai dirasakan bencana oleh siswa. Menurut Mutrofin (2009:51) “Mata ajar matematika mulai dirasakan sebagai bencana sejak tahun 1970-an”.  Di sekolah siswa terkadang dituntut untuk dapat memahami matematika sebatas agar bisa lulus Ujian Nasional. Para guru matematika pun lebih sering memilih metode ceramah dalam upaya mengejar materi sesuai kurikulum yang ada. Hal ini disebabkan materi matematika yang begitu banyak dan ketakutan mereka akan keterbatasan waktu. Selain itu image buruk yang telah melekat pada seorang guru matematika membuat siswa menakuti pelajaran matematika juga. Kondisi-kondisi seperti ini membuat para siswa akhirnya mulai membenci matematika dan tidak akan pernah tahu kegunaan matematika sebagai ratu ilmu pengetahuan (Queen of Science) dan alat ilmu pengetahuan lainnya.

Kita harus menyadari kembali tujuan pendidikan matematika bukan hanya untuk mencapai hasil belajar di atas rata-rata tetapi juga untuk membuat siswa memahami kegunaan matematika sehingga mereka bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pencapaian tujuan itu tidak bisa dibebankan hanya kepada pihak sekolah karena pada kenyataannya seorang siswa banyak melakukan aktifitas di luar sekolah. Hal ini membuat perlunya dukungan dari semua elemen yaitu pemerintah, masyarakat, tenaga pendidik,dan orang tua siswa. Peran sekecil apapun yang diberikan sangat mempengaruhi tercapai atau tidaknya tujuan ini. Dengan dukungan dari semua elemen diharapkan cita-cita pendidikan kita suatu saat nanti bisa tercapai.

Mahasiswa sebagai agen perubahan juga berperan dalam perbaikan mutu pendidikan. Dalam perbaikan mutu pendidikan matematika yang sangat mengambil peran adalah mahasiswa FKIP Matematika. Mengapa?. Hal ini disebabkan mahasiswa pendidikan matematika dididik dengan ilmu matematika secara eksakta dan ilmu pendidikan yang bersifat teori dan terapan. Mereka diberikan bekal untuk menjadi guru matematika profesional. Namun, semua itu akan sia-sia jika mereka tidak memahami arti menjadi seorang “guru matematika”. Menjadi guru matematika berarti harus mencintai matematika. Jika mereka tidak menyukai dan memahami kegunaan matematika, maka bagaimana mereka bisa membuat siswa menyukai dan memahami kegunaan matematika. Seorang guru bukan hanya bertugas mentransfer ilmunya tetapi juga bagaimana siswa bisa menyukai, memahami, dan mengaplikasikan ilmu yang ia berikan. Untuk itu, mari kita bersama-sama menyiapkan bekal yang dibutuhkan untuk menjadi guru matematika yang bisa mencapai tujuan pendidikan matematika sebenarnya.