Merajut Mimpi Mengejar Cinta (M3C) Part 1: Rainfall…

Juli 2017

Rintik hujan selalu membuatku rindu padamu

Gerimis sudah mulai menyapa keringnya jalan. Para pejalan kaki semakin mempercepat langkah. Terlihat jelas banyak diantara mereka yang berlarian mencari tempat berteduh untuk sekedar menghangatkan tubuh. Namun, berebeda dengan pemuda berjaket merah itu. Dengan tersenyum ia mulai menengadahkan kepalanya ke langit. Terlihat jelas bahwa ia sangat menikmati setiap tetasan hujan yang jatuh tepat di wajahnya. Namun sayang, aksi itu terhenti oleh seorang lelaki yang mendekatinya.

“Ram, yuk kita berteduh di kafe itu!”

Mereka pun berjalan menuju sebuah kafe berwarna gading tua yang terlihat masih cukup sunyi. Sesampai di kafe, mereka memesan dua cangkir kopi hangat dan menikmatinya tanpa suara. Mereka cukup saling tahu bahwa itu adalah saatnya menikmati sejenak keindahan hujan di luar sana.

Adinda, Aku Tepati Janjiku

“Ayaaaah…..!!!” teriakan Andi sudah terdengar di depan pintu ruangan kerja

“Kok, tidak mengucapkan salam bang?” Reza menatap manis anak keduanya itu.

“Ayah…aku dapat juara 1” Andi tidak memperdulikan pertanyaan ayahnya karena ia tidak sabar ingin menceritakan hasil rapornya.

“Alhamdulillah, Abang benar-benar hebat!” Reza mulai memeluk lalu mengusap kepala anaknya.

“Ayah… kita akan jalan-jalan ke mana tahun ini? Kan, kata ayah kalau abang dapat juara ayah akan mengajak jalan-jalan. Apalagi kalau juara satu”. Andi terlihat begitu penasaran dan penuh harap agar ayahnya akan mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri. Ia ingat sekali janji ayahnya akhir tahun lalu itu.

“Bang, kalau semester depan abang dapat juara lagi ayah akan ajak jalan-jalan ke tempat istimewa yang tidak akan pernah terlupakan.”

“Ehmmm…” Reza terlihat berpikir dan menatap tajam anak keduanya itu.

“Ayah…Ayah…Ayah, kemana?” Andi menarik baju Reza

“Oalah abang ini enggak sabaran ya… In Sya Allah kita akan pergi ke suatu tempat wisata yang tidak akan terlupakan oleh abang.

“Yeeees!!!”. Andi meloncat kegirangan. Ia sudah membayangkan ia akan pergi ke luar negeri. Lalu berkunjung ke tempat hiburan dan menonton pameran robot kesukaannya.

“Ya sudah, minggu depan kita berangkat ya. Sekarang abang pulang dulu dengan Mang Udin.”

“Oke…” Andi berlari pergi ke luar kantor

Bayangan tubuh kecilnya semakin menghilang dari hadapan Reza.

Reza duduk di kursi kerjanya, lalu menatap foto yang tidak pernah lepas dari meja kerjanya.

“Dek, kini anak kita sudah besar-besar. Terimakasih atas hadiah terindah yang dirimu berikan.”

Asti adalah seorang wanita yang telah ia nikahi 12 tahun yang lalu. Sosok yang telah memberikannya seorang putri dan seorang putra. Sosok yang sangat ia rindukan 9 tahun ini untuk hadir menemaninya.

Sesuai dengan janji ayahnya, Andi dan keluarganya pergi berlibur.

“Ayah, kita mau pergi kemana?” Tanya Aisyah, putri sulung Reza

“Ke tempat dimana kakak dan abang tidak akan lupakan selamanya”

Aisyah dan Andi mengikuti ayahnya ke ruang tunggu.

Kepada semua penumpang dengan penerbangan ke Bengkulu, diharapkan segera masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi pesawat akan berangkat

Reza dan kedua anaknya segera menuju pesawat.

“Ayah, kita akan ke Bengkulu?”

“Ya kak.”

“Asyiiik, pasti disana banyak wahana hiburan” Andi tampak sangat bersemangat dan tidak sabar untuk tiba di bengkulu.

Setiba di bandara Fatmawati, Reza langsung menuju ke rental mobil untuk menemui teman lamanya. Ia akan meminjam mobil selama beberapa hari.

“Kakak, abang… kita siap berangkat. Ayuk masuk mobil!” Sekarang giliran Reza yang sangat bersemangat.

“Kita mau menginap di hotel mana Yah?” Andi tidak sabar lagi mau jalan-jalan.

Reza hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Yang ada di bayangnya adalah liburan tahun ini akan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia berharap Liburan kali ini bisa menambah kehangatan di tengah keluarga kecil mereka. Ia juga berharap anak-anaknya bisa mengambil banyak pengalaman dan pelajaran dari liburan mereka kali ini.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan mereka tiba di sebuah Desa.

“Kakak, abang, ayo bangun. Kita sudah sampai…”

“Aaaah sudah sampai …” Andi mengucek matanya berusaha untuk bangun.

Dengan masih setengah sadar ia turun dari mobil. Ia masuk ke sebuah rumah panggung dan disambut oleh wanita tua yang belum pernah ia kenal.

“Reza….” Wanita itu memeluk Reza dengan penuh kerinduan

“Ini anak-anakmu?” Tanya wanita itu lanjut

“Ya Bi…”

“Ya Allah, mereka sudah besar-besar” ucap wanita itu dengan mata berbinar.

“Ayo salam dengan Nenek…”

Sore itu berlalu dengan senda gurau Reza dengan Bu Darmi sedangkan Aisyah dan Andi terlihat sibuk bermain di halaman rumah dengan teman-teman baru mereka.

***

“Andi bangun, sudah subuh….” Aisyah membangunkan adeknya untuk segera sholat.

Setelah sholat berjamaah Reza sudah tampak siap dengan baju training dan sepatu ketnya.

“Ayah, kita mau kemana?” Andi tampak penuh tanya

“Ya Yah, seperti mau lomba lari saja” Aisyah ikut protes

Mereka sudah siap dengan bekal di tas masing-masing.

“Hati-hati ya Za” Kata Bu Darmi

“Ya Bi, aku tidak sabar melihat kembali semua keindahan Curup”

Mereka naik mobil sebentar menuju kaki Bukit Kaba.

“Ayah, kita kok lewat hutan-hutan? Kata ayah mau jalan-jalan ke tempat yang tidak akan terlupakan.” Andi protes dan nampak kecewa

“Ayah tidak ingkar janji kok. Hari ini kita akan mendaki bukit Kaba.”

“Haaa! Mendaki Yah?” Aisyah seperti tidak percaya

“Ya, kita akan mendaki. Makanya, kita memakai pakaian ini dan membawa bekal.”

“Tapi kan Yah, Aku dan Andi belum pernah mendaki. Itukan jauh.”

“Ah kakak, dulu ayah seumur kalian sudah mendaki. Kan kalian masih muda. Pasti kuat-kuat” Reza mencoba membujuk anak-anaknya.

Reza mulai menatap ke atas. Ia tidak mengira akan kembali mendaki bukit yang sama.

“Ais, Andi… kalian tahu kenapa ayah mengajak kalian ke sini?” Reza mulai menatap kedua anaknya

“Emang kenapa?”

“Ayah akan bercerita ketika kita sampai di puncak. Ayo kita mulai mendaki. Semoga Allah memudahkan ya”

Kurang lebih 15 menit berjalan, Aisyah dan Andi terlihat begitu lelah. Reza pun tersenyum melihat mereka.

“Anak-anak ayoook naik mobil!”

“Naik mobil???” teriak Aisyah dan Andi serempak

“Ya, kita melanjutkan perjalanan naik mobil. Ayah lihat kalian sudah lelah. Jangan-jangan sesampai di puncak pada pingsan. Kan nanti Ayah juga yang repot.” Ungkap Reza sambil tertawa.

Perjalanan mereka berlanjut di mobil selama kurang lebih 2 jam.

Sampailah mereka di tangga puncak bukit Kaba

Fasilitas tangga di lereng luar Kawah Lama memudahkan para pendaki untuk mencapai bibir kawah-kawah lainnya di kawasan puncak. Sebelum menaiki tangga, para pendaki bisa menikmati kawah Mati di sebelah Kiri. Di sana, terkadang ada beberapa pendaki yang bermain sepak bola. Sumber mata air panas di Air Meles (lereng barat daya) dan di Air Sempiang (lereng selatan) juga merupakan tempat-tempat yang potensial bagi wisata gunung api di Kabupaten Rejang Lebong.

Andi mulai bersemangat untuk menaiki tangga karena ini adalah pertama kalinya ia mendaki.

“Bang, ini tangga disebut tangga seribu” Ungkap Reza sebelum Andi bertanya.

“Oh, berarti jumlahnya seribu ya? Oke, akan Andi hitung Yah” Andi tambah semangat

“…100,101,102…. Ah Ayah, Andi lelah. Kapan-kapan aja abang hitung”

“Kapan lagi bang? Lanjutlah hitungnya” Sindir Reza

Andi sudah berlari ke puncak, Mungkin bukan sepenuhnya karena lelah ia tidak mau melanjutkan hitungannya tetapi karena rasa penasaran akan apa yang akan ia lihat di puncak bukit.

“Ayaaaaahh…” teriak Andi dan Aisyah dari puncak

“Apa yang kalian lihat?” tanya Reza

“Lembah yang ada asapnya…” Andi mencoba menjelaskan.

Reza, Andi, dan Aisyah mengambil foto di setiap momen. Di setiap sudut puncak mereka berfoto. Untungnya di puncak bukit, bukan hanya ada mereka sehingga mereka bisa minta tolong difotokan.

“Ayaaah…” Ais menatap ke arah kawah lama

“Kenapa kak?”

“Yah, coba kalau ada Bunda. Pasti tambah seru” Aisyah tampak berkaca-kaca.

“Pastinya… tapi bunda sudah melihat pemandangan lebih indah dari ini” Reza memeluk putrinya itu.

“Abang ke sini dulu. Ayah mau cerita”

“Kakak, abang…kalian tahu mengapa Ayah sangat ingin mengajak kalian kesini?”

“Enggak Yah. Emang kenapa Yah?”Andi mulai penasaran

“Dulu ayah pernah berjanji dengan seseorang untuk membawa kalian ke sini. Sekarang Ayah sudah tepati. Pasti dia bahagia melihat kita sudah disini” Reza bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Siapa Yah” Aisyah menimpali.

“Bunda kalian” Reza menatap kedua anaknya, lalu memeluk mereka

“Dulu, ayah pernah ke sini dengan bunda kalian. Kami berjanji akan ke sini lagi bersama dengan anak-anak kami nantinya”

Hari itu berlalu dengan keceriaan dan keharuan. Keluarga kecil tanpa seorang ibu di tengah mereka tidak membuat mereka hilang kehangatan.

Andi dan Aisyah masih asyik bermain dan berfoto-foto dan mengambil video. Reza melihat sosok kedua anaknya dengan senyuman bahagia.

Terimakasih ya Rabb, Engkau anugerahkan mereka kepadaku.

Senja mulai tampak dari puncak, keindahan kawah semakin indah, udara pun semakin segar membuat Reza enggan turun dan pulang. Ia masih sangat merindukan suasana ini. Sangat merindukan sosok yang dulu duduk bersama dengannya melihat keindahan curup dari puncak bukit kaba. Ia berharap suatu saat ia bisa kembali lagi ke sini walaupun ia tidak tahu kapan tepatnya.

 

Mak, Aku Sembuh…

Laisa selalu memandang foto wanita berselendang biru muda yang terpajang rapi ketika ia duduk di ruang tamu. Wanita yang tinggal bersama Laisa sampai ajal menjemputnya. Sosok yang sudah 3 tahun lalu pergi meninggalkannya, namun Laisa merasa Mak selalu ada di sampingnya, seperti saat itu…

Mak, apa aku tidak bisa sekolah lagi?”

“Siapa yang bilang tidak bisa? Nanti Lais akan bisa sekolah lagi setelah sembuh”.

“Tapi, sudah setahun Lais tidak bisa bangun dari tempat tidur ini?”

Mak hanya bisa terdiam ketika anaknya berkata seperti itu. Hanya keputusasaan yang sekarang terlihat di wajah anak kelimanya itu. Putri harapan keluarga karena semangatnya untuk sekolah dan keinginannya merubah nasib keluarga. Putri yang begitu ceria dan rajin belajar itu kini terbaring lemah di kasur. Tubuhnya sudah berbeda dari setahun yang lalu. Kini bengkak di tubuhnya semakin besar. Bengkak yang membuat tubuhnya terlihat gemuk karena benjolan-benjolan berisi cairan nanah itu sudah semakin banyak. Mak dan Bapak hanya bisa memanggil dukun kampung untuk mengobatinya. Bukan tidak mau berobat kepada dokter, tetapi belum ada tenaga dokter saat itu, belum ada pelayanan kesehatan dan alat-alat canggih yang bisa mendiagnosa penyakit Laisa.

“Lais, lihatlah bengkak di bawah ketiakmu sudah pecah. Insyaallah sebentar lagi semua akan membaik.” Mak berusaha menghibur anaknya itu.

Lais ingat sekali seminggu yang lalu bengkak di ketiak itu pecah dan mengeluarkan cairan nanah berbau busuk. Dia ingat bagaimana Mak membersihkan cairan itu dari tubuh dan kasurnya. Bukannya marah tetapi Mak malah menunjukkan senyum bahagia ketika melihat Lais sudah bisa menggerakkan tangan kanan yang 6 bulan ini tidak bisa ia gerakkan.

“Paha Lais sakit Mak!” Lais berteriak sambil memegang pahanya. Ia seakan sudah tahu bahwa ada benjolan baru yang tumbuh di paha kanannya.

Mak, mungkin benjolan-benjolan ini akan pecah dalam waktu yang lama. Saya harap Mak dan keluarga tetap sabar dan berdo’a agar Lais bisa segera sembuh.” Jelas Pak Kadir, lelaki yang digelari dukun oleh masyarakat disana.

“Rasanya saya tidak tahan lagi melihat kondisi Lais, sudah 2 tahun Lais belum juga sembuh.”

Mak, kita tidak boleh menyerah. Kalau Lais melihat kita seperti ini, maka ia akan semakin sedih dan juga ikut menyerah untuk sembuh”. Bapak mengingatkan kembali Mak untuk semangat menyembuhkan anaknya.

“Ya betul Mak, kita pasrahkan semua kepada Allah. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah tetap mengobati Lais.” Pak Kadri juga ikut menyemangati Mak.

“Ya, saya seharusnya tidak semudah ini menyerah. Saya yakin Lais akan sembuh. Sampai kapan pun saya akan menunggu sampai Lais sembuh dan bisa kembali seperti anak-anak biasanya. Bermain, belajar, jalan-jalan, dan….” Mak tak kuasa meneruskan perkataannya. Ia memegang dadanya untuk menahan tangisan yang tidak boleh ia tunjukkan di depan Lais.

“Ini ada obat herbal untuk Lais. Oleskan setiap pagi dan sore ke tubuhnya.”.

Mak selalu mengolesi tubuh Lais dengan obat herbal yang diberikan Pak Kadir. Benjolan itu pecah satu persatu dalam 2,5 tahun ini. Ia lihat tubuh Lais sudah kembali normal. Tinggal satu benjolan lagi di Pahanya, tetapi sudah 6 bulan benjolan itu belum juga pecah.

“Pak, kenapa benjolan di paha Lais belum juga pecah? Bukankah biasanya benjolan di tubuh Lais pecah setiap 6 bulan?” tanya Mak yang kelihatan bingung dengan kondisi Lais.

“Saya juga masih bingung mengapa itu terjadi Mak. Tapi saya akan berusaha mencari obat baru untuk Lais.”

Suatu hari, Mak kedatangan tamu…

Mak, saya lihat Lais sudah semakin membaik. Jika Lais mau, ia bisa mengikuti ujian sekolah tahun ini. Saya tahu Lais sangat mau tamat SD. Ia sangat rajin sekali dulu pergi sekolah dan ia juga sering mendapat juara kelas.”

Setelah kepala sekolah pulang, Mak duduk di samping Lais yang sedang tidur. Ia menatap wajah Lais dengan penuh kasih sayang.

“Lais, mau sekolah lagi nak?” sebuah pertanyaan dalam hati Mak yang mungkin belum saatnya ia tanyakan atau tidak akan pernah ia tanyakan kepada Lais. Walapun ia tahu Lais sangat ingin kembali sekolah, tetapi ia belum mau menyinggung soal itu.

Pada saat itu, lulus SD adalah suatu kebanggaan. Hal ini dikarenakan belum banyak sekolah saat itu ditambah sangat jarang anak-anak yang bisa lulus SD. Jika bisa lulus SD, maka ia akan menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat.

Sudah menjelang 3 tahun Lais hanya tinggal di rumah saja. Mak lah yang menjadi tempat ia bercerita. Mak juga yang akan memenami ia sampai ia tertidur.

“Ya Allah, kasihanilah Lais. Dia masih begitu kecil untuk menderita selama ini. Aku sudah tidak kuat melihat penderitaannya. Aku mohon belas kasihMu untuk menyembuhkannya….” Doa Mak sambil mengelus kening Lais yang sudah tertidur.

3 tahun sudah berlalu…

Mak, Mak, Mak”  teriak anak kecil di halaman rumah depan.

Mak, aku mau ikut ke kebun. Aku mau bantu menanam kacang ya?” Anak itu memohon penuh harap.

“Ehm, ikutlah tapi selesaikan dulu pekerjaanmu menyapu.” Balas Mak sambil tersenyum melihat Lais, ia serasa tidak percaya putrinya itu sedang menyapu halaman sekarang.

Di ruang tamu…

“Bu, apa ibu tidak pernah bosan melihat foto nenek?” tanya putri semata wayangnya itu yang membuat Laisa kaget.

“Tidak akan pernah bosan….” Jawab Laisa sambil tersenyum.

“Ehm, kapan kamu pulang? Bukannya fitting baju pernikahanmu baru selesai nanti sore?”

“Aku sudah tiba dari tadi bu, tapi ibu tidak mendengar suara salamku.” Jawab Sheila tampak kecewa.

“Maaf ya sayang….” Laisa memeluk Sheila dengan hangat.

Mak, I Love U

Laisa selalu memandang foto wanita berselendang biru muda yang terpajang rapi ketika ia duduk di ruang tamu. Wanita yang tinggal bersama Laisa sampai ajal menjemputnya. Sosok yang sudah 3 tahun lalu pergi meninggalkannya, namun Laisa merasa Mak selalu ada di sampingnya, seperti saat itu…

Mak, apa aku tidak bisa sekolah lagi?”

“Siapa yang bilang tidak bisa? Nanti Lais akan bisa sekolah lagi setelah sembuh”.

“Tapi, sudah setahun Lais tidak bisa bangun dari tempat tidur ini?”

Mak hanya bisa terdiam ketika anaknya berkata seperti itu. Hanya keputusasaan yang sekarang terlihat di wajah anak kelimanya itu. Putri harapan keluarga karena semangatnya untuk sekolah dan keinginannya merubah nasib keluarga. Putri yang begitu ceria dan rajin belajar itu kini terbaring lemah di kasur. Tubuhnya sudah berbeda dari setahun yang lalu. Kini bengkak di tubuhnya semakin besar. Bengkak yang membuat tubuhnya terlihat gemuk karena benjolan-benjolan berisi cairan nanah itu sudah semakin banyak. Mak dan Bapak hanya bisa memanggil dukun kampung untuk mengobatinya. Bukan tidak mau berobat kepada dokter, tetapi belum ada tenaga dokter saat itu, belum ada pelayanan kesehatan dan alat-alat canggih yang bisa mendiagnosa penyakit Laisa.

“Lais, lihatlah bengkak di bawah ketiakmu sudah pecah. Insyaallah sebentar lagi semua akan membaik.” Mak berusaha menghibur anaknya itu.

Lais ingat sekali seminggu yang lalu bengkak di ketiak itu pecah dan mengeluarkan cairan nanah berbau busuk. Dia ingat bagaimana Mak membersihkan cairan itu dari tubuh dan kasurnya. Bukannya marah tetapi Mak malah menunjukkan senyum bahagia ketika melihat Lais sudah bisa menggerakkan tangan kanan yang 6 bulan ini tidak bisa ia gerakkan.

“Paha Lais sakit Mak!” Lais berteriak sambil memegang pahanya. Ia seakan sudah tahu bahwa ada benjolan baru yang tumbuh di paha kanannya.

Mak, mungkin benjolan-benjolan ini akan pecah dalam waktu yang lama. Saya harap Mak dan keluarga tetap sabar dan berdo’a agar Lais bisa segera sembuh.” Jelas Pak Kadir, lelaki yang digelari dukun oleh masyarakat disana.

“Rasanya saya tidak tahan lagi melihat kondisi Lais, sudah 2 tahun Lais belum juga sembuh.”

Mak, kita tidak boleh menyerah. Kalau Lais melihat kita seperti ini, maka ia akan semakin sedih dan juga ikut menyerah untuk sembuh”. Bapak mengingatkan kembali Mak untuk semangat menyembuhkan anaknya.

“Ya betul Mak, kita pasrahkan semua kepada Allah. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah tetap mengobati Lais.” Pak Kadri juga ikut menyemangati Mak.

“Ya, saya seharusnya tidak semudah ini menyerah. Saya yakin Lais akan sembuh. Sampai kapan pun saya akan menunggu sampai Lais sembuh dan bisa kembali seperti anak-anak biasanya. Bermain, belajar, jalan-jalan, dan….” Mak tak kuasa meneruskan perkataannya. Ia memegang dadanya untuk menahan tangisan yang tidak boleh ia tunjukkan di depan Lais.

“Ini ada obat herbal untuk Lais. Oleskan setiap pagi dan sore ke tubuhnya.”.

Mak selalu mengolesi tubuh Lais dengan obat herbal yang diberikan Pak Kadir. Benjolan itu pecah satu persatu dalam 2,5 tahun ini. Ia lihat tubuh Lais sudah kembali normal. Tinggal satu benjolan lagi di Pahanya, tetapi sudah 6 bulan benjolan itu belum juga pecah.

“Pak, kenapa benjolan di paha Lais belum juga pecah? Bukankah biasanya benjolan di tubuh Lais pecah setiap 6 bulan?” tanya Mak yang kelihatan bingung dengan kondisi Lais.

“Saya juga masih bingung mengapa itu terjadi Mak. Tapi saya akan berusaha mencari obat baru untuk Lais.”

Suatu hari, Mak kedatangan tamu…

Mak, saya lihat Lais sudah semakin membaik. Jika Lais mau, ia bisa mengikuti ujian sekolah tahun ini. Saya tahu Lais sangat mau tamat SD. Ia sangat rajin sekali dulu pergi sekolah dan ia juga sering mendapat juara kelas.”

Setelah kepala sekolah pulang, Mak duduk di samping Lais yang sedang tidur. Ia menatap wajah Lais dengan penuh kasih sayang.

“Lais, mau sekolah lagi nak?” sebuah pertanyaan dalam hati Mak yang mungkin belum saatnya ia tanyakan atau tidak akan pernah ia tanyakan kepada Lais. Walapun ia tahu Lais sangat ingin kembali sekolah, tetapi ia belum mau menyinggung soal itu.

Pada saat itu, lulus SD adalah suatu kebanggaan. Hal ini dikarenakan belum banyak sekolah saat itu ditambah sangat jarang anak-anak yang bisa lulus SD. Jika bisa lulus SD, maka ia akan menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat.

Sudah menjelang 3 tahun Lais hanya tinggal di rumah saja. Mak lah yang menjadi tempat ia bercerita. Mak juga yang akan memenami ia sampai ia tertidur.

“Ya Allah, kasihanilah Lais. Dia masih begitu kecil untuk menderita selama ini. Aku sudah tidak kuat melihat penderitaannya. Aku mohon belas kasihMu untuk menyembuhkannya….” Doa Mak sambil mengelus kening Lais yang sudah tertidur.

3 tahun sudah berlalu…

Mak, Mak, Mak”  teriak anak kecil di halaman rumah depan.

Mak, aku mau ikut ke kebun. Aku mau bantu menanam kacang ya?” Anak itu memohon penuh harap.

“Ehm, ikutlah tapi selesaikan dulu pekerjaanmu menyapu.” Balas Mak sambil tersenyum melihat Lais, ia serasa tidak percaya putrinya itu sedang menyapu halaman sekarang.

Di ruang tamu…

“Bu, apa ibu tidak pernah bosan melihat foto nenek?” tanya putri semata wayangnya itu yang membuat Laisa kaget.

“Tidak akan pernah bosan….” Jawab Laisa sambil tersenyum.

“Ehm, kapan kamu pulang? Bukannya fitting baju pernikahanmu baru selesai nanti sore?”

“Aku sudah tiba dari tadi bu, tapi ibu tidak mendengar suara salamku.” Jawab Sheila tampak kecewa.

“Maaf ya sayang….” Laisa memeluk Sheila dengan hangat.

Wanita Bersepeda

Sekujur tubuh Rini sudah dibasahi air hujan, ia lihat sekeliling lulu lalang kendaraan. Ia lari menyeberang jalan mencari tempat berteduh sambil menunggu angkot yang bisa menjadi kendaraan pulang. Dingin sudah mulai melanda, Rini mulai medekapkan tubuhnya untuk mencari kehangatan. Namun, tangannya tak kuasa menahan untuk menyentuh rintikan hujan. Ia mulai mengulurkan tangan di bawah tetesan hujan dan merasakan betapa indahnya hujan sore itu. Gadis itu terlihat tersenyum dan bahagia, ia begitu menyukai hujan.
Setelah turun dri angkot dengan seragam yang basah ia meneruskan perjalanan masuk gang untuk sampai ke rumah. Perumnas elit yang ia lewati membuatnya tersenyum, mengingat kisah 4 tahun lalu saat kebijakan oknum berkuasa di lingkungan Rini memerintahkan untuk membuat pembatas pagar kawat antara perumahan elit dan rumah penduduk kelas bawah di gang itu. Dengan alasan demi keamanan penghuni perumnas, semua orang hanya bisa menerima karena tidak mempunyai kuasa apapun untuk menolak.
Sekarang keadaan berubah, Rini harus menunduk melewati lobang pagar kawat yang dibuat sendiri secara sembunyi-sembunyi untuk jalan keluar. Jika mau lewat jalan lain, maka rute perjalan bisa tiga kali lipat dari biasanya baru sampai ke rumah. Dari pada seperti itu, ia lebih baik menerobos pagar lewat lobang kecil yang cukup meloloskan badannya yang masih mungil. Sudah biasa rasanya jika ada dari badannya yang tersangkut di kawat saat ia mencoba lewat.
Keadaan sekitar memang banyak berubah, namun ada yang tidak berubah selama 4 tahun ini yaitu sebuah rumah yang tepat ada di samping pagar kawat itu. Sebuah rumah sederhana yang belum dicat dan warung kecil di depannya. Jika sore hari tiba biasanya akan terlihat pemandangan dua orang suami istri duduk di teras rumah lusuh itu. Mereka duduk berbincang sambil menunggu warung, sesekali mereka tertawa dan sesekali mereka saling terdiam. Sama halnya sore itu…
Mereka sama-sama parubaya, itu terlihat dari banyaknya uban di kepala sang suami dan raut wajah istri yang semakin menua. Namun, di umur mereka yang sudah lanjut mereka hanya dianugerahi seorang anak perempuan. Seorang anak yang mungkin menjadi harapan satu-satunya untuk merubah nasib mereka ke depannya.
“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikumsalam”
Rini langsung masuk kamar berganti pakaian.
“Mak wo, belanja!!!” teriak seorang anak kecil di depan rumah
“Ya san, mau beli apa?” balas Mak dengan lembut.
Bukannya menjawab, anak kecil itu malah berlari ke dalam warung dan memilih-milih kerupuk dan permen layaknya orang yang membawa banyak uang padahal biasanya ia hanya membawa jajanan Rp.500,00.
Selang beberapa lama suara anak itu menghilang dan Rini mulai menikmati istirahat siang beberapa menit saja di kamar.
Allahuakbar…Allahuakbar…
Suara adzan asar membangunkannya. Ia melihat keluar jendela. Sosok wanita yang tidak lain Mak nya itu mulai siap mengayunkan sepeda tuanya. Setiap sore ia mengayunkan sepeda untuk belanja keperluan warungnya. Jauhnya tempat belanja tidak membuat ia menyerah karena jika ia menyerah maka darimana ia bisa mendapat rezeki hari itu. Setiap 3 kali sehari atau lebih dari itu ia selalu siap mengayunkan sepeda untuk menempuh jarak yang cukup jauh hanya untuk membeli 2 kotak minuman, manisan kecil-kecilan, telor, tepung, gula dan barang warung lainnya yang hari itu habis.
Keluarga itu hanya memiliki satu sepeda tua sebagai alat penghidupan di tengah zaman dimana setiap rumah minimal sudah mempunyai satu kendaraan bermotor. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka tidak mengeredit sebuah motor saja agar pekerjaan mereka lebih ringan.
“Rin, hujan!” sebuah suara mengagetkanku
Aku berlari menuju jemuran.
Berat sekali rasanya lenganku membawa semua pakaian yang tidak lain adalah pakaianku sendiri.
“Ah…sudah seminggu aku tidak mencuci, pasti ibu lagi yang mencuci semua ini”
Hujan bertambah deras, angin pun juga belum berhenti. Beberapa hari ini cuaca sore sering hujan dan badai. Aku mulai melipat pakaian sambil menatap ke luar jendela.
“Bagaimana keadaan ibu bersepeda tadi?”
Beberapa hari lalu…
“Bu, apa yang terjadi?” tanyaku saat melihat kakinya terluka
“Tadi ibu terjatuh di belokan jalan sana”. ibu itu coba menjelaskan
Aku melihat semua barang bawaannya dilumuri tanah semua. Dua kotak minuman di jok kereta dan beberapa kantong plastik yang bergantungan di sepeda sudah kelihatan kotor.
“Kok, bisa kena tanah bu?” tanyaku kesal
“Jalan disanakan masih belum diaspal, jadi masih banyak tanah. Ibu jatuh di tempat yang becek waktu ada motor mau belok dan ibu tidak bisa mengelak. Akhirnya ya jatuh seperti ini.”
“Dasar pengendara motor! Banyak yang tidak hati-hati kalau belok. Dia minta maaf enggak bu?” ucapku masih dengan emosi.
“Enggak…” jawab ibu tampak pasrah sambil mengelus kakinya yang luka.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah ibu itu. Bajunya basah, celana di lututnya robek, ubannya sedikit keluar dari jilbabnya, tetapi wajahnya tetap datar saja seperti tidak terjadi apa-apa.
“Apa hari ini kejadian itu terulang lagi?”bisik hatiku.
Hari sudah semakin gelap.
“Ayah, jam berapa sekarang?”
“Jam setengah 6”
Aku berbaring di dalam selimut dan tersenyum melihat kertas yang tertempel di dinding kamarku. Berisi berbagai targetku tahun ini. My Targets itulah judul kertas kusam di dinding itu.
“Rin, sudah adzan!” suara ayah mengingatkanku kalau hari ini sudah mau malam.
“Rin, mana ibumu? Kok jam segini belum pulang.” Pertanyaan ayah membuatku cemas.
“Rini juga tidak tahu yah, padahal ibu sudah pergi sejak jam 4 sore tadi.”
Sesudah sholat aku dan ayah duduk di teras depan rumah menunggu kepulangan ibu.
“Semoga tidak terjadi apa-apa ya Rin, mana hujan dan badai juga tidak berhenti-henti dari tadi sore. Dimana ibumu ya?”
“Mungkin ibu lagi berteduh di jalan sambil menunggu hujan reda” Ucapku sambil menenangkan perasaan sendiri.
***
“Rin, cepat!!!” ayah menarik tanganku menuju sebuah ruangan.
Dingin, sekujur tubuhnya dingin. Aku mulai memegang wajahnya. “Sudah berapa lama aku tidak memegang wajah tua ini”. Mulutnya tertutup dan tidak menyapaku seperti biasanya. Sudah beberapa hari ini aku tidak mengobrol dengannya karena kesibukan kuliahku di semester akhir ini. Aku selalu pergi pagi dan pulang sore, malam hari pun aku memilih merebahkan badanku ke kasur daripada mendengarkan ceritanya tentang semua harapan besar yang ingin ia wujudkan. Melihat aku wisuda, memperbaiki rumah, memperbesar warung, membeli sepeda motor untukku, membuat usaha bakso ikan, naik haji, dan semua harapan-harapannya. Tangannya sudah begitu kasar menandakan kerasnya pekerjaan rumah yang ia kerjakan sendiri. Badannya semakin terlihat kurus menunjukkan sudah berapa banyak ayunan sepeda yang ia ayunkan selama ini yang telah menguras tenaganya. Air mataku mengalir deras sambil memeluknya, wanita penyemangat hidupku, ibu pengayun sepeda untuk membiayai sekolahku, motivator impian-impianku, sumber nasehat hidupku, dan teman terdekatku.
“Ibu….!!!”
“Rin,…kenapa?”
Aku mulai menghapus air mataku dan melihat sekelilingku.
“Kenapa tidur sore-sore? Ibu kan sudah bilang jangan tidur sore-sore karena banyak setan berkeliaran sore-sore gini. Cepat bangun! Sebentar lagi magrib” ucapnya dengan wajahnya yang dingin.
“ Ya bu…”
Aku tersenyum dan perlahan sosok itu menghilang ke luar kamarku.