Nano-nano di Ramadhan kali ini: Puasa, Summer, dan Dissertasi

Ramadhan adalah bulan istimewa bagi setiap umat islam. Bulan suci penuh berkah dan berlimpah pahala. Setiap muslim di belahan bumi Allah bergembira menyambutnya. Namun, tak terasa 5 hari lagi kita akan berpisah. Bersyukur karena sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa menikmati Ramadhan kali ini. Bersedih mengingatkan akankah kita bertemu lagi dengan bulan penuh maghfiroh ini ūüė¶

3

Foto Bareng Anggota pengajian Al hijrah

Ada yang berbeda dan menarik di Ramadhan kali ini. Aku yang niat awalnya ingin menghabiskan Ramadhan di Indonesia akhirnya memutuskan tetap menikmati puasa di Bristol dan tidak pulang ke Indonesia. Selain soal dana yang cukup mahal ke Indonesia (maklum masih mahasiswa :)), Aku juga tidak mengurus dana penelitian ke Indonesia. So, kalau mau pulang Indonesia aku harus menguras kantong sendiri. Kan mahal :(…. Selain itu, sekarang lagi masa menyusun thesis (Dissertation klo disini)¬†dan aku merasa akan lebih fokus jika mengadakan penelitian disini (Sambil bisa melihat pembelajaran matematika di salah satu sekolah di UK, kapan lagi coba,he).¬†Kebayang sekali, jika aku pulang ke Bengkulu, pastinya lupa thesis, karena pengen menikmati kumpul dengan keluarga dan teman-teman. Ngabuburit, buka puasa dan tarawih bareng, plus¬†mencicipi ta’jil (bukaan) yang pastinya menggoda selera. Kok jadi rindu pulang, hiks ūüė¶

Ramdhan kali ini sungguh sangat berbeda. Tetapi perbedaan itulah yang membuat aku merasa Ramadhan kali ini spesial. Aku menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi ya, Jadi pastinya ada perbedaan dengan pengalaman yang dirasakan teman-teman lainnya yang berkesempatan melakukan ibadah puasa di Negara Queen Elizabeth ini.

1. Durasi puasa

Inggris adalah salah satu negara yang durasi puasanya adalah terlama di dunia yaitu 18.5 jam dimana kurang lebih berbeda 5 jam dari Indonesia. Aku ingat dihari pertama puasa, ketika menelepon orang tua. Mereka sedang berbuka (jam 18.20 an), sedangkan aku harus menunggu 9 jam lagi (karena disini masih jam 12 siang). Ada sedikit perbedaan jadwal dibeberapa masjid, jadi biasanya diserahkan kepada pribadi mau mengikuti yang mana (baca: Perbedaan adalah sunnatullah :)). Aku pribadi dan beberapa teman-teman indonesia mengikuti aplikasi Athan, yang dipake oleh beberapa masjid di Bristol, dimana durasi puasa di hari pertama adalah dari 02.38  sampai 21.13 (18.5 jam lebih sedikit). Namun sekarang, di hari ke-25 puasanya sudah hampir 19 jam (02.37-21.31).

2

Buka puasa bersama anggota pengajian Al-Hijrah Bristol

Jujur di hari pertama, terasa aneh dan lelah. Dulu yang biasanya puasa lebih kurang 13.5 jam tetapi sekarang harus menambah lagi 5 jam lebih lama. Yang sangat terasa lelah nya adalah jarak yang sangat singkat antara berbuka puasa sampai ke waktu subuh. Setengah 10 malam buka, jam 11 nya mulai terawih sampai jam 12 an, dan jam 2 pagi harus sudah sahur lagi. Kayak ngejar-ngejar gitu. Makanan belum turun, harus ngisi lagi. Tapi kalau tidak sahur takutnya nanti tidak ada energi. Dilemma emang,hahhahahaa.

Salah satu cara agar aku tidak bangun telat, aku memutuskan untuk tidak tidur semalam sampai waktu subuh tiba. Alhasil, selama Ramadhan waktu tidurku berubah, yaitu setelah subuh sampai jam 11 an. Aku baru menyadari, bahwa pola tidurku selalu berubah sesuai musim :). Aku akhirnya menutup jendela agar merasa itu masih suasana malam (Baca: padahal cahaya sudah terang jam 4 an). Kalau tidak begitu, aku tidak akan bisa tidur. Enggak kebayang, kalau di Indonesia ada Summer, hahaha.

2. Suasana yang berbeda

Walaupun sudah ada beberapa masjid di Bristol, tetapi islam masih menjadi agama minoritas di sini. So, suasana Ramadhan tentu berbeda sekali dengan Indonesia. Sebelum ramadhan, biasanya ada pawai Ramadhan dan tabligh akbar yang ¬†bisa dihadiri bersama dengan teman-teman. Ditambah, ada penyebaran jadwal sholat dan puasa di masyarakat sekitar. Pada saat Ramadhan, Aku juga ingat jelas jika setiap menjelang berbuka, pasti ada murottal yang dihidupkan melalui¬†speaker¬†masjid di dekat rumah. Ada suara azan berkumandang dimana-mana menandakan waktu sholat termasuk maghrib. Ada banyak acara islami di berbagai channel TV termasuk taujih sebelum berbuka puasa dan doa’ berbuka yang selalu dibacakan oleh seorang anak ketika waktu berbuka tiba. Ada tadarusan di beberapa masjid setelah selesai terawih. Ada teriakan anak-anak keliling komplek untuk membangunkan sahur. Pokoknya, benar-benar terasa suasana Ramadhannya.

Bagaimana dengan disini?

Tentu sangat berbeda, aku tidak menemukan suasana-suasana itu disini. Apakah sedih? pastinya sedih, tapi ada rasa syukur yang mendalam saat merasakan suasana yang berbeda disini. Disini, aku belajar bagaimana membangun suasa keindahan ramadhan itu dari diri sendiri. Ketika suasana di luar kita tidak mendukung, bukan berarti kita kehilangan momen indah Ramadhan. Karena muslim yang sudah lama tinggal disini bisa tetap bahagia menyambut Ramadhan dan berlomba-lomba melakukan kebaikan. Hal itu bisa terlihat ketika aku sholat di masjid. Mereka sangat khusyuk dalam beribadah, bahkan ada program i’tikaf di beberapa masjid di 10 malam terakhir (tetapi belum begitu kondusif untuk muslimah).¬†Ketika menjadi minoritas, tentunya kaum mayoritas tetap melakukan aktifitas mereka seperti biasa. Tidak akan pernah kita temui adanya restauran yang tutup di bulan ramadhan :).¬†Kita harus saling menghargai. Mereka menghargai kita, tentunya kita juga harus menghargai mereka.¬†Tetap ada acara kampus, misalnya akhir-akhir ini ada acara picnic bersama di siang hari yang pastinya ada makan bersama. Tetapi, banyak teman-teman nonmuslim disini mengetahui adanya fasting month bagi umat islam. Aku ingat ada teman yang bercerita, bahwa salah satu temannya British nonmuslim mengatakan ” I think I will die If I do fasting”.¬†Coba mereka mau coba dulu ya, untuk membuktikan apakah benar akan membuat meninggal atau tidak, he. Di malam minggu, mereka tetap mengadakan party sampai pagi. Jadi waktu pulang terawih kita akan tetap bertemu orang-orang yang sedang party di sepanjang jalan. Pas sahur pun masih terdengar suara gelak tawa mereka.

3. Buka puasa

Karena tidak ada azan, jadi aplikasi atau jadwal dari masjid terdekat lah yang menjadi patokan menentukan waktu berbuka puasa. Soal menu berbuka tentu tidak sebanyak pilihan di Indonesia. Sayangnya juga tidak ada tempat beli ta’jil (bukaan) disini karena jika ingin makan makanan Indonesia, ya harus masak sendiri. Masalahnya adalah kemapuan memasak ini yang maish terbatas. Bisanya hanya masak yang sederhana-sederhana saja. Kolak, gorengan, rebusan, mie, dan makanan sederhana lainnya. Makanya, pasti momen buka bersama¬†adalah momen yang ditunggu-tunggu karena saat itulah kita bisa makan berbagai macam makanan Indonesia yang aku pribadi belum bisa masak (Baca:¬†gratis pula,he). Bersyukur, bertemu dengan teman-teman dan WNI yang berhati mulia, sering mengundang dan memasakkan makanan bagi mahasiswa-mahasiswa secara gratis :).

IMG_20170620_044208

Buka bersama para sahabat Mahasiswa University of Bristol

Sebenarnya masih banyak hal menarik lainnya, tetapi karena mata ini sudah tidak sanggup menahan mata jadinya sampai disini dulu ya.

Bagi aku, ramadhan kali ini berbeda, tetapi begitu bermakna dihati. Apalagi puasa, summer, dan dissertasi adalah tiga kata nano-nano di ramadhan kali ini. Suhu udara yang begitu panas selama ramadhan kali ini (maklum lagi summer) menjadi tantangan tersendiri. Hari ini suhu 34 derajat dan itu panas sekali, jadi terasa sekali dehidrasinya. Ditambah lagi harus tetap bimbingan di bulan puasa. Yang paling berat adalah baca literature (Baca: tidak mudeng-mudeng otak, hiks). Benar-benar pengalaman besar dan berharga di tahun ini.

Banyak sekali pengalaman berharga yang aku dapatkan selama puasa disini yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Pengalaman ini juga menambah rasa syukurku karena selama ini bisa melakukan puasa di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Selama studi di Bristol, aku pribadi merasa bahwa banyak sekali hal-hal yang dianggap kecil yang sering terlupa, padahal itu adalah nikmat yang luar biasa yang terkadang diri pribadi jarang syukuri.

-Bristol, Ramadhan ke 25 jam 4. 23 pagi di saat Matahari sudah menampakkan cahayanya-

Hidupmu adalah pilihanmu

Yesterday is a History. Tomorrow is a mystery. Today is a Gift. That’s why we call it PRESENT.

Kata-kata itu cukup menggambarkan betapa pentingnya hari ini dan betapa berharga setiap waktu yang kita jalani. Jika ingin belajar bagaimana memaknai hidup, buku Cherish Every Moment is really recommended for everybody. Mungkin ada yang penasaran apa artinya Cherish Every Moment???

Cherish Every Moment berarti kita harus menghargai setiap waktu, setiap saat, bahkan setiap detik yang kita alami dalam hidup ini. Waktu yang paling berharga adalah Hari INI. Namun sayangnya banyak diantara kita yang tidak menyadari itu karena kita sibuk bahkan cemas akan masa depan yang belum tentu akan kita temui, bisa sajakan tomorrow is never comes. Atau kita terpuruk dalam penyesalan masa lalu yang tidak bisa lagi kita ulang.

Mengapa kita harus menikmati waktu Hari Ini?

64a5d09468aa40db396098c06645792dKarena mungkin saja hari ini adalah hari terakhir kita untuk bertemu orang-orang yang kita sayangi: keluarga, sahabat, teman, serta tetangga. Bangunlah mindset bahwa ‚Äújangan-jangan hari ini adalah hari terakhir saya‚ÄĚ. Lakukan apapun yang bisa kita lakukan hari ini dengan maksimal dengan membuat orang sekitar bahagia dan tidak kecewa. Kalau saja kita mampu berpikir seperti itu, maka yakinlah hubungan kita dengan setiap orang berada pada kualitas yang terbaik. Namun yang terpenting adalah kita akan beribadah kepada Tuhan dengan kekhusuan jika kita membayangkan hari ini adalah hari terakhir kita beribadah. Dengan mindset seperti ini hidup kita akan jauh lebih indah. Selipkan selalu dalam setiap aktifitas kita ketika lelah, marah, cemas, sibuk, bahkan mengeluh akan hari ini.

Tapi berbicara kematian sering menakutkan banyak orang…

Mengapa kita takut? Karena kita tidak tahu apa itu mati sama halnya ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Jika kita bertemu dengan seseorang yang belum kita kenal, maka pasti ada kecemasan dan ketakutan di dalam diri: Apakah dia orang yang ramah? Menghargai Anda? Suka bercanda atau serius? Mau mendengarkan Anda? Bertele-tele atau to the point?.

Lantas bagaimana agar kita tidak takut dengan kematian? Tentu saja dengan mencari tahu informasi mengenai kematian. Dan, karena belum pernah ada orang mati yang kembali ke dunia ini, tentu saja kita perlu mencari tahu melalui Kitab Suci. Atau boleh juga bertanya kepada orang-orang yang pernah mati suri atau kepada yang pernah mengalami near to death experience. Kita juga perlu membuka topik-topik mengenai kematian ini kepada anggota keluarga kita. Coba diskusikan apa yang akan terjadi jika salah seorang dari keluarga Anda meninggal. Jangan menganggap ini tabu. Justru ini adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia ini.

Menurut Anda manakah orang yang lebih berani: orang yang berani hidup atau berani mati?

Kedua-duanya. Orang yang berani adalah orang yang berani mati sekaligus berani hidup. Kita siap untuk hidup, siap juga untuk mati. Mengapa demikian? Karena hidup indah, mati juga indah.

So, Hidup adalah Hari Ini. Karena itu tidak ada yang lebih penting dibandingkan dengan hari ini. Hari ini adalah sesuatu yang nyata. Hari ini adalah hadiah terbesar dari Tuhan kepada kita. Kalau kita menyadari itu, maka kita akan menghargai setiap momen di kehidupan kita sehingga hidup kita akan terasa lebih indah.

Life is choice….

Hidup akan lebih indah apabila ia berada di tangan kita sendiri bukan di tangan orang lain. Cobalah renungkan baik-baik siapakah yang sekarang ini mengendalikan kita??? Apakah Kita menjadi sutradara terhadap kehidupan Kita sendiri? Ataukah Kita merasa dikendalikan dan diatur oleh orang-orang sekitar Kita? Apakah Kita melakukan banyak hal lebih karena kewajiban Kita dan bukan karena keinginan dan pilihan Kita sendiri???

Topik ini sangat penting karena masih banyak orang yang merasa tidak mempunyai pilihan dalam hidupnya. Apakah termasuk kita??? Orang-orang seperti ini sangat dipengaruhi oleh kondisi dari luar, padahal kemampuan terbesar yang kita miliki dalam hidup adalah kemampuan kita untuk memilih.

Apa ciri-ciri orang yang yang merasa seperti itu?

Pertama, orang itu selalu merasa terpaksa dalam melakukan sesuatu dan sering merasa tidak berdaya. Kedua, mereka melakukan segala sesuatu atas nama kewajiban (kewajiban atasan, mencari nafkah, menghidupi keluarga, tuntutan orang sekitar). Jika kita seperti ini, maka kita tidak akan menikmati hidup yang indah karena merasa kendali tidak ada dalam genggaman kita.

Ingat hidup hanya akan indah kalau KITA menjadi TUAN terhadap kehidupan kita. Kitalah yang menentukan dan mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita.

Tapikan wajarkan kalau kita dipengaruhi oleh lingkungan luar?

Ya wajarlah, bahkan sangat wajar. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa terpengaruh oleh lingkungannya. Tapi ini namanya ‚Äúdipengaruhi‚ÄĚ bukan ‚Äúditentukan‚ÄĚ karena keduanya memiliki perbedaan sangat besar.

Lantas bagaimana agar kita tidak ditentukan oleh lingkungan?

Jangan pernah menyerahkan remote control Kita kepada orang lain. Kita harus menyadari bahwa kita mempunyai PILIHAN. Pilihan inilah kata kuncinya. Bahwa pada setiap kondisi kita selalu mempunyai pilihan. Benar, kita tidak selalu bisa memilih lingkungan kita, tetapi kita senantiasa dapat memilih respon kita. So, gunakan pilihan itu dan semua akan berubah.

Apa contoh-contoh pilihan dalam Hidup?

Seorang wanita karir memilih berhenti bekerja demi keutuhan keluarganya. Bukankah itu sebuah pilihan? Bukankah banyak diluar sana, wanita-wanita karir yang tetap bisa bekerja sekaligus mengurus keluarganya?

Pilihan-pilihan dalam hidup ini masih sangat banyak. Bayangkan ketika bangun tidur pagi tadi. Kita bisa memilih bangun jam berapa, lalu sarapan apa, sambil sarapan ada pilihan kegiatan apa yang mau dilakukan hari ini, ketika sarapan sambil nonton TV ada juga pilihan kita mau nonton channel apa. Sepanjang jalan di perjalanan kerja kita juga punya pilihan: mendengar musik, menelepon, berdzikir, baca Qur’an, membaca buku, dan sebagainya. Ketika samapai di suatu tempat kerja kita juga punya pilihan: tersenyum, marah, tanpa ekspresi, menyapa duluan, dan sebagainya. Jadi, banyak sekali pilhan dalam hidup… Tapi sampai sejauh ini sudah berapa banyak pilihan yang kita buat? Esensinya hidup itu sendiri adalah pilihan. Life is a choice.

Namun, adakalanya lingkunganlah yang menentukan respon kita. Misalnya ada yang marah kepada kita, Apakah kita mempunyai pilihan?

Tentu saja. Kita bisa memilih diam saja dan tidak memperdulikan orang tersebut. Kita juga bisa bals memarahinya. Kita juga bisa bertanya baik-baik mengenai apa yang menjadi pokok permasalahannya. Jadi, kita senantiasa mempunyai pilihan.

Tapi, sering dalam kondisi emosional, kita tidak sadar bahwa kita mempunyai pilihan…

Pertama-tama kita harus menyadari bahwa dunia yang sangat runit ini pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu stimulus (segala sesuatu yang kita alami yang berada di luar kita) dan respons (segala sesuatu yang ada di dalam diri kita: perilaku, tindakan, tanggapan). Kualitas seseorang bukan dilihat dari stimulus yang diterimanya tapi dari respon yang diberikan. Seringkali kita tidak pernah sadar dan selalu lupa mengambil jedah antara stimulus dan respon sehingga kita sering mencampuradukkan semua itu. Dan karena begitu bercampur aduknya, Maka kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga: PILIHAN-PILIHAN KITA.

Dikutip dari buku Cherish Every Moment  karya Arvan Pradiansyah

Islam di Inggris, the black country 2

Setelah menyampaikan pengalaman saya bagaimana saya pertama kali mengatasi ketakutan saya tentang penerimaan islam di Inggris di Part 1, sekarang saatnya saya berbagi pengalaman terkait makanan halal dan komunitas islam di Inggris terutama di kota tempat saya tinggal, Bristol.

Sulitkah mencari makanan halal?

Pertama kali tiba di Bristol, yang dicari tentu bagaimana cara agar bisa mengisi perut. Setiap akomodasi di Inggris pastinya punya dapur, baik dapur umum atau pun pribadi tergantung jenis akomodasi yang kita pilih, akomodasi kampus atau private (ada yang berupa flat, studio, maupun rumah). Kebetulan saya tinggal di private accommodation yang berbentuk rumah dan beruntungnya saya punya dapur yang besar dan komplit peralatannya (baca: jujur, lebih bagus dapur ini dah dari dapur rumah saya di Indonesia :), alhasil, banyak peralatan dapur yang saya perlu belajar cara menggunakannya, he). Saya pun akhirnya memilih memanfaatkan fasilitas yang ada untuk memasak makanan, selain sudah terjamin halalnya, cara ini akan sangat menghemat pengeluaran makan setiap bulan. Berbeda dengan yang shared kitchen, biasanya ini adalah akomodasi students yang berbentuk flat. Dapurnya adalah dapur umum, tetapi biasanya peralatan masak kita sendiri-sendiri. Jadi, tentu semua nya terpisah dan masih saling menjaga privacy. Selain itu tempat penyimpanan peralatan masak serta peralatan makan sendiri-sendiri. Biasanya ada pembagian rak atau lemari sesuai kesepakatan. Hikmahnya tinggal di flat, moment masak adalah saat-saat berharga untuk saling sapa sesama teman flat sehingga kita bisa lebih banyak mengenal mahasiswa lain. So, cara pertama mendapatkan makanan halal adalah “Masak sendiri”. Saya pun pertama kali memasak, rasanya tidak karuan (baca: maklum tidak pandai memasak, hiks). Namun, setelah 4 bulan ini mencoba memasak, rasa masakan saya cukup enak (baca: menurut saya,he). Ada hikmah.nya juga selain menuntut ilmu, saya juga belajar memasak. Dimana kata Anggi, teman serumah, “setidaknya dengan memasak kamu bisa berlatih bagaimana menjadi istri yang baik”, cieeee. Oh ya saya lupa, walaupun memasak sendiri tentu bahan makanan yang kita cari tentu harus halal juga. Sudah ada beberapa supermarket lokal yang menyediakan halal corner untuk umat muslim jika ingin membeli daging. Pemotongan hewan juga memiliki sertifikasi tersendiri di UK, yang biasa disebut HMC (Halal Monitoring Committee). Seperti di Bristol, ada beberapa butcher halal seperti Pak Butcher, ahmed Halal Butcher, Easton butcher, dan sebagainya.

image

Easton Halal Butcher

Tetapi tidak setiap saat kita punya waktu memasak. Apalagi jika tugas reading dan essay menunggu. Maka, pilihan paling tepat adalah membeli makanan. Karena tinggal di negara yang minoritas muslim, tentu makanan halal juga jadi tidak banyak dijual. Kita tentu harus lebih hati-hati. Pertama, tanya referensi dimana saja tempat makanan halal ke senior yang sudah lama tinggal di kota kita tinggal. Kebetulan, di Bristol banyak anak Phd yang sudah beberapa tahun disini, jadi waktu pertama kali datang dijelaskan bagaimana menemukan tempat halal. Ada juga beberapa keluarga WNI muslim yang lama tinggal disini, jadi tentu bisa jadi tempat bertanya. Oh ya, jika kita membeli makanan siap saji di supermaket, carilah makanan yang ada label suitable for vegetarian (Baca: berdasarkan pengalaman pribadi, makanan siap saji adalah pilihan tepat saat travelling). Maka, insyaAllah itu halal dan bisa kita konsumsi. Kedua, biasanya ada label halal di depan restaurant atau tempat makannya, biasanya yang menjual makanan hala itu adalah restaurant india, turki, dan pakistan. Namun, jika tidak ada label halal, jangan malu-malu untuk bertanya apakah mereka menyediakan makanan halal atau tidak. Mereka sangat welcome dan akan jujur menjawab jika memang mereka tidak menyediakan makanan halal. Ketiga, pakai aplikasi pendeteksi halal place seperti Adhan Time dan Islamic Pro yang bisa didownload di smartphone.. Kedua aplikasi ini selain berguna untuk melihat waktu sholat dan arah kiblat, keduanya bisa menunjukkan restaurant halal terdekat.

Bagaimana dengan komunitas Islam?

Setelah datang ke UK, saya sangat terkejut sekaligus bahagia bahwa saya tidak sulit mencari komunitas muslim disini. Dimulai dari kampus, sebagian besar Universitas di UK memiliki organisasi/komunitas muslim seperti di University of Bristol, ada Bristol University Islamic Society (Brisoc) dimana kita sebagai muslim bisa bergabung. Kalian bisa like juga fanpage facebook nya disini, dengan bergabung di komunitas ini saya bisa bertemu mahasiswa muslim dan muslimah dari berbagai negara. Ini adalah gathering bareng Brisoc saat welcoming kampus.

Di beberapa kota seperti London, Manchester, Nottingham, Southampton, Birmingham, dan termasuk Bristoljuga ada pengajian lokal. Di bristol Ada pengajian Al hijrah yang pesertanya dari keluarga WNI dan mahasiswa-mahaiswa di UWE maupun University of Bristol.

IMG-20161126-WA0022.jpg

Foto bareng yang lain setelah pengajian Al hijrah

 

Di UK, juga ada KIBAR (Indonesian Muslim Community in Great Britain). KIBAR adalah wadah komunikasi dan koordinasi kelompok-kelompok pengajian muslim Indonesia yang tersebar di berbagai kota di Inggris, sampai saat ini KIBAR disusun oleh 17 lokaliti stakeholder. Anggota pengajian ini berasal dari latar belakang yang sangat beragam yang meliputi mahasiswa, pekerja, maupun warga Indonesia yang menikah dengan warga negara UK. Di Kibar ada tausyiah online #TALK jadwalnya bisa dilihat di website. KIBAR UK juga secara rutin mengadakan pertemuan (gathering) dua kali setahun, yakni: Spring/Summer Gathering dan Autumn/Winter Gathering. Tujuan utama pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi warga muslim Indonesia di Inggris untuk saling mengenal dan mempererat rasa kekeluargaan.

img-20161024-wa0005

img-20161024-wa0007

Suasana KIBAR Autumn Gathering 2016 Southampton bersama Ustadz  Amir Faishol

 

 Dari pengalaman saya pribadi, saya merasa bahwa memang benar Islam rahmatan lil ‘alamin. Dimanapun kita menginjakkan kaki, insyaAllah cahaya islam akan ada. Tak peduli kita berada di negara dimana muslim nya masih menjadi minoritas. Salam cinta untuk semua muslim di bumi Allah lainnya….

 

Islam di Inggris, the black country

Inggris yang memiliki julukan “the black country” karena dianggap sebagai negara industri maju dimana berpusat di Birmingham dan Sheffield sehingga udara disana sering terlihat hitam akibat tertutup oleh asap-asap industri yang sangat banyak (Tapi maaf soal ini saya hanya baca sumber dan belum survei sendiri karena belum jalan-jalan ke kedua kota ini,he).

Pertama kali berangkat 14 september 2016 sore dari Jakarta-Abu Dhabi-Dublin-Bristol, UK. Bayangkan saya baru sampai siang tanggal 15 september 2016 di tanah UK. Pastinya yang saya alami adalah jet lag akibat panjangnya perjalanan di atas pesawat, dan pastinya ini yang pertama kalinya. Mencari wc adalah hal pertama yang saya lakukan sesampai di Bristol. Untuk apa? bukan BAK atau BAB, melainkan MUNTAH (hahhaha).

Hal pertama yang membuat saya parno dan was was saat pertama kali memutuskan untuk studi di Inggris adalah bagaimana kehidupan muslim disini. Banyak sekali pertanyaan yang saya tanyakan kediri saya. Bagaimana saya bisa survive disini? apakah akan mudah bertemu sesama muslim? apakah akan ada masalah dengan jilbab saya? mudahkah saya menemukan makanan halal? apakah saya bisa menemukan pengajian? dengar azan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Namun, dengan bismillah saya yakin dan percaya bahwa dimanapun kaki ini dipijak disana pasti ada keindahan islam yang akan saya temukan. Setiap sudut bumi ini adalah bumi Allah, maka saya tidak perlu cemas.

Pertama hal yang membuat saya tenang adalah saya memiliki banyak teman dari Indonesia yang sama-sama akan studi di Bristol dan lebih senang lagi mayoritas¬†cewek muslimahnya pake jilbab. So, pakaian tidak akan jadi masalah. Di tambah lagi ketika pertama kali tiba di private accomodation¬†(baca: kosan) saya, pemiliknya adalah muslim suriah yang sudah lama tinggal disini. Bahkan anaknya seorang muslimah, memakai hijab, pake gamis, sholehah, plus cantik lagi ūüėĄ. Dia akan tinggal bersama kami juga karena dia juga sedang studi undergraduate di¬†University of Bristol. Dia lahir dan besar di UK, tapi keindahan islam tetap tidak luntur dari kepribadiannya. Dari dialah aku menyadari bahwa Islam sungguh agama yang dihormati di negara ini. Sudah banyak muslim yang tinggal disini baik dari penduduk lokal asli sini, maupun pendatang dari pakistan, india, suriah, dan negara lainnya. Saya menemukan beberapa muslimah di tengah perjalanan saya ke kampus terutama di bus. Ketika ke kota-kota lain seperti London, Manchester, Southampton, Glasgow, Edinburgh, York, dan Cambridge, saya pun bertemu dengan muslim dan muslimah. Selain itu sudah ada bangunan masjid di setiap kota tersebut. Yang mengejutkan saya, masjidnya sudah besar dan megah2 seperti di Indonesia. Walaupun suara azan tidak bisa terdengar sebanyak di bumi pertiwi tercinta.

 

Ini beberapa masjid yang saya kunjungi di Glasgow, Edinbrugh, dan Southampton

Masyarakat disini sangat menghormati perbedaan. Saya menemukan begitu besarnya toleransi terutama dalam hal beragama. Saya sangat terkejut ketika personal tutor saya bertanya, “Apakah kamu menemukan tempat solat di gedung ini?”. Belum sempat saya menjawab, dia langsung berkata lagi “Kamu bisa memakai ruangan-ruangan kosong disini kapanpun kamu mau sholat”. Saya yang mendengar itu langsung tersenyum bahagia dan terharu betapa mereka menghargai perbedaan agaman. Saya yang mengambil Master of Education (Mathematics Education) adalah bagian dari Graduate School of Education (GSoE). Maka, saya selalu kuliah di gedung GSoE yang memang belum tersedia tempat khusus untuk sholat.¬†University of Bristol¬†baru menyediakan “prayer room” berbentuk “Musholah” punya univeritas yang bisa diakses dengan kartu mahasiswa.

Women’s prayer room University of Bristol

Lokasinya cukup jauh dari GSoE. Jika bolak balik ke GSoE, akan cukup menguras tenaga dan waktu. Maka akan lebih efektif jika tetap sholat di GSoE. So, dimana sholatnya? ya di ruang kelas yang kosong. Kita yang muslim disini biasanya akan Wudhu di wc dengan wastafel (baca: bisa bayangkan kan gimana mencuci kakinya? angkat mengangkat ke atas wastafel, sensasinya itu menyisakan becekan-becekan di wc, yang kalau saya lihat tidak pernah sama sekali becek sebelumnya karena orang bule tidak suka wc nya becek,he), lalu bergeriliya mencari ruang kelas kosong. Alhamdulillahnya, setiap jadwal perhari di setiap kelas selalu terpasang rapi di depan pintu kelasnya, ini sangat mempermudah kita mencari tempat sholat di gedung-gedung perkuliahan disini.

Ketika menjalani perkuliahan tidak ada satu pun perasaan diskriminasi yang saya rasakan karena pakaian yang saya kenakan. Sungguh disini benar-benar respect satu sama lain, tidak ada perbedaan dalam pelayanan, semua diberikan sama, sehingga saya tetap bisa dengan mudah mendapatkan akses apapun. Dalam pertemanan pun, setiap orang membuka diri untuk mengenal siapapun (catatan: namun memang tidak se ramah orang indonesia, hiks). Budaya kita tentu berbeda dengan orang-orang disini dan kita harus memaklumi itu, maka tentu kita tidak bisa membanding-bandingkan keduanya. Alhamdulillah selama kurang lebih hampir 5 bulan tinggal disini, saya merasa bahwa cahaya islam tetap terang di negeri the black country ini.

Kapan-kapan saya sambung ke makanan halal dan pengajian-pengajian atau komunitas muslim disini…..

Puisi Penghantar Takdir

Hujan sudah lama ia memanjakan pagi ini

Namun, tetap sama, wanita itu sudah bermandi peluh

Dinginnya pagi tak pernah meruntuhkan perjuangannya

Khawatir, sedih, itu perasaan tak pernah hilang

Aku tersenyum agar ia tenang

Walau senyum itu tergores pedih

Aku harus tetap menjaganya

Tak peduli aku bertambah usia atau ia mulai rentah

 

-Dikutip dari Novel “Puisi Penghantar Takdir”-

 

 

 

 

 

Aku Bangga Jadi Anak Rohis

Kebetulan ada teman yang mintak tolong buatkan video untuk mengucapkan salam-salam kepada anak-anak rohis di bengkulu. Namun, karena saya tidak pandai menjadi reporter langsung, jadilah video ini sebagai penggantinya (kumpulan foto yang menggambarkan perjalanan saya). Alhamdulillah sekali saya sudah mengenal kata Rohis atau Risma sejak SMA tahun 2006. Saya ingat sekali waktu itu, saat kelas 1 SMA, 3 minggu pertama setelah MOS, saya terdaftar sebagai kelas XD di SMA Negeri 5 Kota Bengkulu dan menjadi satu-satunya yang berjilbab di kelas. Merasa asing? pastinya. Sudah menjadi satu-satunya siswa yang berasal dari SMP berbeda (swasta pula,he) ditambah lagi belum kenal siapa-siapa. Lengkap sudah penderitaan :D.

Aku adalah lulusan SMP Pancasila yang merupakan salah satu pesantren di Bengkulu. Alhamdulillah aku sudah memakai jilbab sejak baligh, namun apa kalian tahu kalau aku memakai jilbab karena Allah baru sejak 2007. Alasanku memakai jilbab 4 tahun sebelumnya hanya sebatas “Aku suka saja”, aku tidak tahu jika memakai jilbab itu WAJIB bagi setiap wanita muslimah karena hal itu tidak pernah dibahas sewaktu aku di pesantren. Aku baru tahu ada yang namanya surat An nur 31 dan Al Ahzab 56 sejak bergabung ke Kajian Mingguan (KM) tahun 2006 , itupun tidak sengaja karena aku penasaran dengan gerombolan siswi yang mayoritas pake jilbab berkumpul di teras lab ICT tepat di depan kelasku. Karena penasaran, aku gabung saja, dan ternyata diperbolehkan. Nah, itulah awal dari semuanya, awal bergabung dengan Risma Surya Romadhan dan bertemu dengan para sahabat yang luar biasa.

Sampai sekarang, aku tidak pernah berhenti bersyukur karena tahun 2006 aku ditakdirkan secara tidak sengaja datang ke KM dan akhirnya bergabung ke RISMA. Banyak sekali manfaat yang aku dapatkan! dan pasti semua yang pernah bergabung ke RISMA pasti merasakannya.

Aku bangga jadi anak Rohis karena…

  1. Aku bisa lebih mengenal Agamaku

Pastinya karena di risma ada kajian ilmunya, al quran, hadits, fiqh, dan lain-lain. Apakah membosankan? “Tidak pernah malah”., buktinya sampai kelas tiga kami tetap bersemangat datang risma walaupun status nya sudah tidak wajib datang ekskul risma karena alasan persiapan UNAS. Penyajian materi yang sangat seru membuat kami selalu dengan penuh semangat datang KM dan bertanya apa pun ke pementor. Tentang agama, sekolah, teman, keluarga, serta kisah cinta (upps, masa pubertas, maklum :D)

      2. Pastinya dapat banyak teman

Kita akan kenal teman-teman dari kelas berbeda dan bisa seruan bareng. Tertawa dan menangis bersama pasti pengalaman yang tidak akan terlupakan.

      3. Hati menjadi lebih tenang

Bukankah kata bang Opik, salah satu obat hati yaitu berkumpul dengan orang sholeh. Dimana lagi menemukan mereka jika tidak di Rohis atau RISMA

      4. Akademik pasti lebih baik

Kenal banyak kakak tingkat via RISMA, bisa sharing dengan mereka terkait pelajaran dan bisa pinjam buku mereka gratis lagi. Selain itu bisa bentuk kelompok belajar bersama sesama anak RISMA. Seperti saat SMA, kami membuat kelompok belajar dengan tutor teman yang dianggap “lebih” tetapi ujungnya tetap saling diskusi.

      5. Makin giat ibadah

Sudah mendapatkan ilmu dengan menghadiri kajian dan ditambah dapat teman-teman sholeh dan sholehah, pastinya itu menjadi motivasi kuat untuk kita ibadah. Punya teman giat ibadah, pastinya kita kecipratan rajin ibadahnya.

      6. Bisa saling mengingatkan.

Manusia fitrahnya emang pelupa, jadi butuh teman sebagai pengingat. Berteman dan bersaudara karena Allah mendorong kita untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

      7. Menebar kebaikan bersama

RISMA pastinya ada program kerjanya seperti pengajian, bakti sosial, bagi ta’jil (buka puasa), kurban, dan lain-lain. Pastinya ini menjadi ladang kebaikan juga bagi peserta RISMA.

Sejujurnya masih banyak manfaat yang kita dapatkan ketika jadi anak Rohis.

So, Aku Bangga Jadi Anak ROHIS….

Lulus LPDP 2015, Perjuangan terus berlanjut di PB UIN SUKA

Alhamdulillah setelah mendapat pengumuman kelulusan september 2015, aku banyak mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Walaupun harus menunda memulai perkuliahan di tahun 2016, namaun inilah letak keluarbiasaan pengalaman yang diperoleh. Semua memang sudah diatur oleh yang Maha Kuasa, mungkin jika aku langsung kuliah di tahun 2015, maka aku tidak akan pernah mengalami semua kejadian seperti yang aku akan ceritakan. Mungkin ceritaku akan berbeda dengan awardee lain karena jenis beasiswa yang kami ambil berbeda, aku mendaftar beasiswa afirmasi kurang mampu berprestasi.

Setelah keberanianku mendaftar LPDP dengan modal TOEFL 483 pada tahun 2015 dan mengambil jalur afirmasi karena aku sangat membutuhkan pengayaan bahasa untuk belajar bahasa inggris. Dengan bismillah aku akhirnya mendaftar Magister Luar Negeri dengan nilai Toefl segitu saja. Kalau dibilang nekat, aku memang sangat nekat saat itu, berani bermimpi melanjutkan S2 keLN hanya dengan modal bahasa segitu. Kebetulan saat detik-detik menunggu Pengumuman hasil Wawancara adalah bulan Ramadhan, jadi aku sangat mengandalkan doa yang akhirnya membuatku lulus sebagai awardee LPDP. Tetapi perjuangan terus berlanjut, aku harus mengikuti Pengayaan Bahasa (PB) selama 6 bulan di UIN Sunan Kalijaga. Awalnya aku sudah mendapatkan kelompok PK 47 di bulan Oktober 2015, namun LPDP mengeluarkan peraturan baru bahwa awardee afirmasi harus lulus PB terlebih dahulu baru bisa PK. Aku pun menerimanya dengan kebahagian luar biasa, karena aku akan segera belajar IELTS yang sama sekali belum aku kenal saat itu.

IMG-20151203-WA0001.jpgAwalnya begitu membuatku shock dan frustasi, bagaimana tidak, ketika melihat hasil skor Pre Test IELTS ku adalah 3.5 dimana skor Listening 0 dan menjadilah skor terendah saat itu. Ketika yang lain mulai aktif di kelas, aku hanya terdiam saja (membayangkan saat itu membuatku tersenyum hari ini). Tetapi saat itu aku bangkit setelah terpuruk kurang lebih 2 minggu. Aku mulai fokus dengan tujuanku “Lulus IELTS 6.5 dan studi LN september 2016”. Aku berpikir dan akhirnya menyimpulkan bahwa adalah kewajaran jika nilaiku adalah yang terendah kerena kamu belum pernah tahu apa itu IELTS, belum pernah belajar kursus bahasa dimana pun, dan ingat bahwa memang kamu masih bodoh, makanya jauh-jauh dari Bengkulu ke Jogja untuk belajar agar bisa memperbaiki kebodohanmu.

Mulailah aku membuka diri dan pikiran, berkenalan lebih dekat dengan teman-tema dan teacher, berdiskusi dengan mereka, dan tidak malu-malu bertanya dengan yang lebih tahu. Prinsip “Banyaklah Bertanya ketika kamu Tidak Tahu” baru aku pelajari saat PB, karena jujur saat di bangku sekolah dan kuliah aku jarang melakukannya, karena aku merasa sudah menjadi yang cukup tahu di kelas. Inilah kesyukuranku bahawa aku menyadari menjadi orang yang cukup tahu saja tidak cukup karena masih banyak yang harus kau pelajari karena tidak ada kata cukup dalam belajar.

6 bulan aku alami dengan penuh kejutan, dari skor 3.5 yang naik perlahan ke 5.5, kemudian turun lagi ke 4.5 (shock berat,he), dan akhirnya Lulus 6.5 di bulan April. Sebenarnya LPDP akan memberikan tes IELTS secara gratis kepada kami di akhir Program PB yaitu bulan Mei 2016, namun aku memutuskan mengambil real test IELTS mandiri bersama beberapa teman di bulan April. Aku sangat berterimakasih kepada teman-temanku dan Mam Lulu yang mendorongku untuk berani ikut test walaupun skor akhirku 4.5, mereka selalu bilang “Kita tidak akan tahu hasilnya sebelum Mencoba”. Akhirnya, aku mendaftar di hari terakhir sebelum penutupan pendaftaran untuk IDP jogja. Sejak saat itu, aku sudah mulai deg-degan dan cemas karena selain ini adalah real testku pertama kali, aku juga harus meronggok kantong hampir 2.8 juta saat itu (tapi ini tetap uang LPDP yang aku tabung dari uang bulanan yang mereka kasih :D). Setelah selesai test, aku butuh 2 Minggu menunggu hasil, proses menunggu ini membuatku tidak nyeyak tidur dan sulit tersenyum, tetapi teman-teman memaklumi itu semua. Pada hari H pengumuman, aku makin takut untuk membuka hasil test sekali pun itu online namun teman-teman yang sudah terasa seperti keluarga sendiri selalu menyemangatiku untuk berani membuka, mereka bilang “kamu harus percaya kamu lulus”. Jujur mungkin saat itu aku tidak memiliki sedikit kepercayaan pun jika aku akan lulus walau teman-temanku mengatakan “kami saja percaya jika kamu lulus”. Akhirnya, karena dorongan mereka, aku berani melihat pengumuman via online (nb: temanku yang bukakan via hp nya, aku mah deg-degan dan pegang hp saja sudah tidak bisa). Daaaan, aku LULUS. Alhamdulillah itulah yang aku ucapkan ketika melihat overall 6.5, langsung menangis, dan sujud syukur di tengah teman-temanku di musholah kecil di gedung UPT bahasa Uin Sunan kalijaga. Kami berpelukan dan menangis terharu bersama, satu persatu mereka mengucapkan selamat. Jika ingat momen itu, aku tidak pernah bisa melupakan bahwa “Aku tidak akan bisa seperti sekarang tanpa bantuan mereka”

6tag_050616-081740Itulah kebahagian mengikuti PB, kalian akan menemukan keluarga baru. Tidak ada persaingan selama di PB, yang ada hanya saling bahu membahu membantu, belajar bersama sampai tidak kenal waktu, diskusi ketika kesulitan, dan hang out bersama ketika isi kepala sudah terasa berat. Maka wajarlah, saat berpisah di Mei 2016 kami merasa begitu sedih dan saling bertetes air mata. Terimakasih LPDP karena telah mempertemukan aku dengan mereka.

“Ya Allah mudahkanlah teman-temanku yang masih berjuang untuk mengejar mimpi ke tanah seberang”

53e390d1-78da-4aff-96b5-e5a243964099Setelah PB, aku mulai mencari LoA, dan aku memutuskan untuk mendaftar ke M.Sc Education (Mathematics Education) University of Bristol (UoB) di UK. Setelah itu, aku mendapat LoA di bulan Juli, dan langsung mengurus perpindahan universitas ke LPDP dari Universiti Malaya (tujuan kampus awalku) ke UoB. Alhamdulillah di acc di bulan Juli juga. Setelah itu aku bergabung di keluarga besar Ewana Tubarania  PK-72. Bulan agustus adalah bulan terpadat bagiku, setelah PK selesai aku harus berburu untuk mengurus Visa karena tanggal 14 September aku harus berangkat.

Setelah melewati beberapa lika-likunya membuat visa akhirnya 14 september Go UK!

Lika-liku visanya kapan-kapan ya, karena cukup berat untuk diceritakan,he

Semoga bermanfaat ūüôā

 

Show Up, salahkah?

Setiap saat manusia punya rasa ingin menonjolkan dirinya entah itu untuk dikenal, dipuji, atau pun sekedar hanya untuk dilihat dan diperhatikan sejenak. Apakah itu salah? tentu perspektif kita tentang ini berbeda-beda.

Manusia lahir dengan keadaan belum tahu apa-apa kemudian ia berkembang sehingga pemahamannya pun tentang sesuatu ikut bertambah. Termasuk memahami suatu hal yang bersifat hakikat mencari jati dirinya sendiri. Mau menjadi apakah aku di dunia ini? dan apa sebenarnya tujuan hidupku?

Ingin tampil di depan orang lain tentu akan menjadi hal positif maupun nagatif. Jika ingin tampil karena untuk sebuah tujuan baik tentu sangat dianjurkan. Misalnya menjadi guru, ustadz, politikus, businessman, dan tugas publik lainnya.

Karena bodoh, makanya perlu belajar

Minggu ini adalah kali pertama aku mengikuti pembelajaran di University of Bristol. Di kelas pertama, yang aku lakukan hanya mengamati diskusi tanpa ikut berpartisipasi di dalamnya. Cemas dan ketakutan untuk bicara aku rasakan pertama kali disini. Sampai dua jam kelas berlangsung aku hanya berbicara satu kali untuk memberikan ide. Apakah pengalaman belajar dan organisasi yg membuat aku memahami akan public speaking dan menjadi talkative student selama S1 menjadi tidak berguna? tentu tidak, semua itu sangat berguna. Tetapi bukan sekedar keberanian yang menjadi masalah disini, tapi lebih kepada ‘apa isi kepalamu’ yang mau kamu sampaikan. Untuk berbicara kita perlu ilmu karena akan berbeda hasilnya dari sekedar berbicara tanpa ilmu. Disinilah aku belajar budaya membaca yang sebenarnya, yaitu membaca dengan berpikir kritis. Bukan sekedar baca dan baca tetapi juga bagaimana kamu mengkritisi bacaan, konsepnya ya 5w 1h. Ini adalah pengalaman yang seharusnya kita dapatkan sejak S1 dan sungguh menyesal aku tidak melakukan hal ini sejak dulu. siapa yang mau disalahkan? ya diri sendirilah. Kenapa tidak pernah berlatih mengkritisi dengan ilmu. Membacaa malas dan kalau membaca hanya sekedar mengikuti alur saja tanpa mengkritisi apa yang dibaca. Kalau boleh jujur sekarang aku merasa sebagai student yang bodoh diantara yang lainnya, itulah kenapa aku ada di universitas ini sekarang, pastinya untuk belajar agar tidak bodoh lagi.

“jadikan dirimu ibarat gelas kosong yang siap diisi sampai penuh, jangan sebaliknya menjadi gelas yang penuh. Karena walaupun diisi terus maka akan begitulah adanya”

Rasa Cinta yang Masih Ada

Ya Allah malam ini kulihat rembulan dan kuingat sosok dia. Dia ibarat bintang yang tak akan pernah bisa aku gapai, dia ibarat bulan yang hanya bisa kupandang keindahannya. Walaupun kami jarang bertemu namun hati ini tak bisa ku bohongi. Ya Rabb yang memegang hati ini, Wahai Rabb yang Maha membolak balikkan hati jika andai Cinta itu hadir kembali di hati ini aku mohon jagalah hatiku tetap dalam hidayah dan keridhoanMu. Aku manusia lemah yang sering tersilaukan dengan kenikmatan dunia dan terjebak didalamnya. Aku tahu Cinta ini adalah fitrah dan aku mensyukurinya karena Engkau menganugrahi aku perasaan ini. Namun aku begitu takut jika ini adalah Cinta palsu yang membuatku berpaling dariMu. Aku takut Cinta ini menipu daya diriku. Aku takut Cinta ini tumbuh bukan karenaMu. Ya Allah aku mengemis kasih padaMu, anugerahilah aku Cinta yang Murni ada karena Cintaku padaMu. Aku begitu takut ketika cintaku padanya hanya karena nafsu duniaku, hanya karena kemegahan yang aku pandang, hanya karena kesuksesannya di dunia, hanya karena kepandaiannya, hanya karena kemampuannya yang istimewa, namun aku lupa akhlaknya, pemahaman diinnya, dan dakwahnya. Aku ingin mendapatkan imam yang baik diinnya karena pasti semua kebahagiaan lain mengikuti.  Hari ini aku berharap Cinta ini hilang karena pondasi CIntaku bukan karenaMu dan aku pun telah menipu hatiku. Jika kami Engkau takdirkan bersama, maka tumbuhkan lagi cinta ini atas pondasi CintaMu bukan karena dunia di sekelilingnya sehingga kami bisa membina mahligai kehidupan yang Engkau Ridhoi, Namun jika bukan yang terbaik bagiku untuk bersama maka ikhlaskan hati ini untuk menerima itu semua. Mungkin aku belum pantas untuknya atau dia terlalu sempurna untuk ada disampingku. Dekat atau pun jauh itu yang terbaik, bertemu atau berpisah itu juga pilihan terbaik yang Engkau takdirkan untukku. Tentu yang paling baik adalah cukup menjalani skenario hidup yang telah Engkau garisi untukku. Ikhlaskan hati ini Ya Allah menjalani kehidupan dunia yang hanya sebentar ini‚Ķ.

Saat ini Aku menyadari satu hal. Cinta yang aku punya untuk dia terlalu tinggi. Dia terlalu Indah untuk aku sentuh, terlalu tinggi untuk ku gapai,dan terlalu jauh untuk aku kejar. Dia bak rembulan yang hanya bisa aku pandang dari kejauhan. Allah berikan aku cinta yang lebih sederhana, sebuah cinta karenaMu. Cinta yang tidak memandang apa pun kecuali dengan pandanganMu, Cinta yang tidak menilai apapun kecuali dengan penilaianMu, Cinta yang tidak mengharapkan apapun kecuali harapan keridhoanMu. Cinta yang tidak diputuskan hanya karena keindahan luar yang tampak, kemegahan masa depan yang dijanjikan, kehormatan dan sanjungan yang didapatkan, namun jauh lebih berharga. Aku ingin mencintai seseorang karena cintaku PadaMu, kedua orang tuaku, dan dakwahku. Membina kehidupan cinta hanya atas nama Cinta kepadaMu, menjalaninya hanya dengan cita-cita untuk bertemu di Syurga, memiliki dan menjaga karena kasih sayangMu, berpegangan tangan menjalankan kerja-kerja dakwah bersama, mendidik anak-anak generasi emas untuk Islam. Aku ingin cinta sederhana tidak memandang hanya dunia, aku ingin jatuh cinta karena keindahan hati dan akhlaknya, aku ingin memegang tangannya atas nama cinta kepadaMu semata. Ya Allah….Jauhkan aku dari fitnah cinta dunia yang penuh dengan tipuan dan jauh dari kata RidhoMu. Hapuslah cinta ini yang aku sadari karena nafsu duniaku dan tumbuhkan rasa cinta yang didasarkan ketaatanku padaMu.

Catatan dari seorang Teman