Merajut Mimpi Mengejar Cinta (M3C) Part 1: Rainfall…

Juli 2017

Rintik hujan selalu membuatku rindu padamu

Gerimis sudah mulai menyapa keringnya jalan. Para pejalan kaki semakin mempercepat langkah. Terlihat jelas banyak diantara mereka yang berlarian mencari tempat berteduh untuk sekedar menghangatkan tubuh. Namun, berebeda dengan pemuda berjaket merah itu. Dengan tersenyum ia mulai menengadahkan kepalanya ke langit. Terlihat jelas bahwa ia sangat menikmati setiap tetasan hujan yang jatuh tepat di wajahnya. Namun sayang, aksi itu terhenti oleh seorang lelaki yang mendekatinya.

“Ram, yuk kita berteduh di kafe itu!”

Mereka pun berjalan menuju sebuah kafe berwarna gading tua yang terlihat masih cukup sunyi. Sesampai di kafe, mereka memesan dua cangkir kopi hangat dan menikmatinya tanpa suara. Mereka cukup saling tahu bahwa itu adalah saatnya menikmati sejenak keindahan hujan di luar sana.

Nano-nano di Ramadhan kali ini: Puasa, Summer, dan Dissertasi

Ramadhan adalah bulan istimewa bagi setiap umat islam. Bulan suci penuh berkah dan berlimpah pahala. Setiap muslim di belahan bumi Allah bergembira menyambutnya. Namun, tak terasa 5 hari lagi kita akan berpisah. Bersyukur karena sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa menikmati Ramadhan kali ini. Bersedih mengingatkan akankah kita bertemu lagi dengan bulan penuh maghfiroh ini 😦

3

Foto Bareng Anggota pengajian Al hijrah

Ada yang berbeda dan menarik di Ramadhan kali ini. Aku yang niat awalnya ingin menghabiskan Ramadhan di Indonesia akhirnya memutuskan tetap menikmati puasa di Bristol dan tidak pulang ke Indonesia. Selain soal dana yang cukup mahal ke Indonesia (maklum masih mahasiswa :)), Aku juga tidak mengurus dana penelitian ke Indonesia. So, kalau mau pulang Indonesia aku harus menguras kantong sendiri. Kan mahal :(…. Selain itu, sekarang lagi masa menyusun thesis (Dissertation klo disini) dan aku merasa akan lebih fokus jika mengadakan penelitian disini (Sambil bisa melihat pembelajaran matematika di salah satu sekolah di UK, kapan lagi coba,he). Kebayang sekali, jika aku pulang ke Bengkulu, pastinya lupa thesis, karena pengen menikmati kumpul dengan keluarga dan teman-teman. Ngabuburit, buka puasa dan tarawih bareng, plus mencicipi ta’jil (bukaan) yang pastinya menggoda selera. Kok jadi rindu pulang, hiks 😦

Ramdhan kali ini sungguh sangat berbeda. Tetapi perbedaan itulah yang membuat aku merasa Ramadhan kali ini spesial. Aku menulis ini berdasarkan pengalaman pribadi ya, Jadi pastinya ada perbedaan dengan pengalaman yang dirasakan teman-teman lainnya yang berkesempatan melakukan ibadah puasa di Negara Queen Elizabeth ini.

1. Durasi puasa

Inggris adalah salah satu negara yang durasi puasanya adalah terlama di dunia yaitu 18.5 jam dimana kurang lebih berbeda 5 jam dari Indonesia. Aku ingat dihari pertama puasa, ketika menelepon orang tua. Mereka sedang berbuka (jam 18.20 an), sedangkan aku harus menunggu 9 jam lagi (karena disini masih jam 12 siang). Ada sedikit perbedaan jadwal dibeberapa masjid, jadi biasanya diserahkan kepada pribadi mau mengikuti yang mana (baca: Perbedaan adalah sunnatullah :)). Aku pribadi dan beberapa teman-teman indonesia mengikuti aplikasi Athan, yang dipake oleh beberapa masjid di Bristol, dimana durasi puasa di hari pertama adalah dari 02.38  sampai 21.13 (18.5 jam lebih sedikit). Namun sekarang, di hari ke-25 puasanya sudah hampir 19 jam (02.37-21.31).

2

Buka puasa bersama anggota pengajian Al-Hijrah Bristol

Jujur di hari pertama, terasa aneh dan lelah. Dulu yang biasanya puasa lebih kurang 13.5 jam tetapi sekarang harus menambah lagi 5 jam lebih lama. Yang sangat terasa lelah nya adalah jarak yang sangat singkat antara berbuka puasa sampai ke waktu subuh. Setengah 10 malam buka, jam 11 nya mulai terawih sampai jam 12 an, dan jam 2 pagi harus sudah sahur lagi. Kayak ngejar-ngejar gitu. Makanan belum turun, harus ngisi lagi. Tapi kalau tidak sahur takutnya nanti tidak ada energi. Dilemma emang,hahhahahaa.

Salah satu cara agar aku tidak bangun telat, aku memutuskan untuk tidak tidur semalam sampai waktu subuh tiba. Alhasil, selama Ramadhan waktu tidurku berubah, yaitu setelah subuh sampai jam 11 an. Aku baru menyadari, bahwa pola tidurku selalu berubah sesuai musim :). Aku akhirnya menutup jendela agar merasa itu masih suasana malam (Baca: padahal cahaya sudah terang jam 4 an). Kalau tidak begitu, aku tidak akan bisa tidur. Enggak kebayang, kalau di Indonesia ada Summer, hahaha.

2. Suasana yang berbeda

Walaupun sudah ada beberapa masjid di Bristol, tetapi islam masih menjadi agama minoritas di sini. So, suasana Ramadhan tentu berbeda sekali dengan Indonesia. Sebelum ramadhan, biasanya ada pawai Ramadhan dan tabligh akbar yang  bisa dihadiri bersama dengan teman-teman. Ditambah, ada penyebaran jadwal sholat dan puasa di masyarakat sekitar. Pada saat Ramadhan, Aku juga ingat jelas jika setiap menjelang berbuka, pasti ada murottal yang dihidupkan melalui speaker masjid di dekat rumah. Ada suara azan berkumandang dimana-mana menandakan waktu sholat termasuk maghrib. Ada banyak acara islami di berbagai channel TV termasuk taujih sebelum berbuka puasa dan doa’ berbuka yang selalu dibacakan oleh seorang anak ketika waktu berbuka tiba. Ada tadarusan di beberapa masjid setelah selesai terawih. Ada teriakan anak-anak keliling komplek untuk membangunkan sahur. Pokoknya, benar-benar terasa suasana Ramadhannya.

Bagaimana dengan disini?

Tentu sangat berbeda, aku tidak menemukan suasana-suasana itu disini. Apakah sedih? pastinya sedih, tapi ada rasa syukur yang mendalam saat merasakan suasana yang berbeda disini. Disini, aku belajar bagaimana membangun suasa keindahan ramadhan itu dari diri sendiri. Ketika suasana di luar kita tidak mendukung, bukan berarti kita kehilangan momen indah Ramadhan. Karena muslim yang sudah lama tinggal disini bisa tetap bahagia menyambut Ramadhan dan berlomba-lomba melakukan kebaikan. Hal itu bisa terlihat ketika aku sholat di masjid. Mereka sangat khusyuk dalam beribadah, bahkan ada program i’tikaf di beberapa masjid di 10 malam terakhir (tetapi belum begitu kondusif untuk muslimah). Ketika menjadi minoritas, tentunya kaum mayoritas tetap melakukan aktifitas mereka seperti biasa. Tidak akan pernah kita temui adanya restauran yang tutup di bulan ramadhan :). Kita harus saling menghargai. Mereka menghargai kita, tentunya kita juga harus menghargai mereka. Tetap ada acara kampus, misalnya akhir-akhir ini ada acara picnic bersama di siang hari yang pastinya ada makan bersama. Tetapi, banyak teman-teman nonmuslim disini mengetahui adanya fasting month bagi umat islam. Aku ingat ada teman yang bercerita, bahwa salah satu temannya British nonmuslim mengatakan ” I think I will die If I do fasting”. Coba mereka mau coba dulu ya, untuk membuktikan apakah benar akan membuat meninggal atau tidak, he. Di malam minggu, mereka tetap mengadakan party sampai pagi. Jadi waktu pulang terawih kita akan tetap bertemu orang-orang yang sedang party di sepanjang jalan. Pas sahur pun masih terdengar suara gelak tawa mereka.

3. Buka puasa

Karena tidak ada azan, jadi aplikasi atau jadwal dari masjid terdekat lah yang menjadi patokan menentukan waktu berbuka puasa. Soal menu berbuka tentu tidak sebanyak pilihan di Indonesia. Sayangnya juga tidak ada tempat beli ta’jil (bukaan) disini karena jika ingin makan makanan Indonesia, ya harus masak sendiri. Masalahnya adalah kemapuan memasak ini yang maish terbatas. Bisanya hanya masak yang sederhana-sederhana saja. Kolak, gorengan, rebusan, mie, dan makanan sederhana lainnya. Makanya, pasti momen buka bersama adalah momen yang ditunggu-tunggu karena saat itulah kita bisa makan berbagai macam makanan Indonesia yang aku pribadi belum bisa masak (Baca: gratis pula,he). Bersyukur, bertemu dengan teman-teman dan WNI yang berhati mulia, sering mengundang dan memasakkan makanan bagi mahasiswa-mahasiswa secara gratis :).

IMG_20170620_044208

Buka bersama para sahabat Mahasiswa University of Bristol

Sebenarnya masih banyak hal menarik lainnya, tetapi karena mata ini sudah tidak sanggup menahan mata jadinya sampai disini dulu ya.

Bagi aku, ramadhan kali ini berbeda, tetapi begitu bermakna dihati. Apalagi puasa, summer, dan dissertasi adalah tiga kata nano-nano di ramadhan kali ini. Suhu udara yang begitu panas selama ramadhan kali ini (maklum lagi summer) menjadi tantangan tersendiri. Hari ini suhu 34 derajat dan itu panas sekali, jadi terasa sekali dehidrasinya. Ditambah lagi harus tetap bimbingan di bulan puasa. Yang paling berat adalah baca literature (Baca: tidak mudeng-mudeng otak, hiks). Benar-benar pengalaman besar dan berharga di tahun ini.

Banyak sekali pengalaman berharga yang aku dapatkan selama puasa disini yang tak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Pengalaman ini juga menambah rasa syukurku karena selama ini bisa melakukan puasa di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Selama studi di Bristol, aku pribadi merasa bahwa banyak sekali hal-hal yang dianggap kecil yang sering terlupa, padahal itu adalah nikmat yang luar biasa yang terkadang diri pribadi jarang syukuri.

-Bristol, Ramadhan ke 25 jam 4. 23 pagi di saat Matahari sudah menampakkan cahayanya-

Puisi Penghantar Takdir

Hujan sudah lama ia memanjakan pagi ini

Namun, tetap sama, wanita itu sudah bermandi peluh

Dinginnya pagi tak pernah meruntuhkan perjuangannya

Khawatir, sedih, itu perasaan tak pernah hilang

Aku tersenyum agar ia tenang

Walau senyum itu tergores pedih

Aku harus tetap menjaganya

Tak peduli aku bertambah usia atau ia mulai rentah

 

-Dikutip dari Novel “Puisi Penghantar Takdir”-

 

 

 

 

 

Adinda, Aku Tepati Janjiku

“Ayaaaah…..!!!” teriakan Andi sudah terdengar di depan pintu ruangan kerja

“Kok, tidak mengucapkan salam bang?” Reza menatap manis anak keduanya itu.

“Ayah…aku dapat juara 1” Andi tidak memperdulikan pertanyaan ayahnya karena ia tidak sabar ingin menceritakan hasil rapornya.

“Alhamdulillah, Abang benar-benar hebat!” Reza mulai memeluk lalu mengusap kepala anaknya.

“Ayah… kita akan jalan-jalan ke mana tahun ini? Kan, kata ayah kalau abang dapat juara ayah akan mengajak jalan-jalan. Apalagi kalau juara satu”. Andi terlihat begitu penasaran dan penuh harap agar ayahnya akan mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri. Ia ingat sekali janji ayahnya akhir tahun lalu itu.

“Bang, kalau semester depan abang dapat juara lagi ayah akan ajak jalan-jalan ke tempat istimewa yang tidak akan pernah terlupakan.”

“Ehmmm…” Reza terlihat berpikir dan menatap tajam anak keduanya itu.

“Ayah…Ayah…Ayah, kemana?” Andi menarik baju Reza

“Oalah abang ini enggak sabaran ya… In Sya Allah kita akan pergi ke suatu tempat wisata yang tidak akan terlupakan oleh abang.

“Yeeees!!!”. Andi meloncat kegirangan. Ia sudah membayangkan ia akan pergi ke luar negeri. Lalu berkunjung ke tempat hiburan dan menonton pameran robot kesukaannya.

“Ya sudah, minggu depan kita berangkat ya. Sekarang abang pulang dulu dengan Mang Udin.”

“Oke…” Andi berlari pergi ke luar kantor

Bayangan tubuh kecilnya semakin menghilang dari hadapan Reza.

Reza duduk di kursi kerjanya, lalu menatap foto yang tidak pernah lepas dari meja kerjanya.

“Dek, kini anak kita sudah besar-besar. Terimakasih atas hadiah terindah yang dirimu berikan.”

Asti adalah seorang wanita yang telah ia nikahi 12 tahun yang lalu. Sosok yang telah memberikannya seorang putri dan seorang putra. Sosok yang sangat ia rindukan 9 tahun ini untuk hadir menemaninya.

Sesuai dengan janji ayahnya, Andi dan keluarganya pergi berlibur.

“Ayah, kita mau pergi kemana?” Tanya Aisyah, putri sulung Reza

“Ke tempat dimana kakak dan abang tidak akan lupakan selamanya”

Aisyah dan Andi mengikuti ayahnya ke ruang tunggu.

Kepada semua penumpang dengan penerbangan ke Bengkulu, diharapkan segera masuk ke dalam pesawat karena sebentar lagi pesawat akan berangkat

Reza dan kedua anaknya segera menuju pesawat.

“Ayah, kita akan ke Bengkulu?”

“Ya kak.”

“Asyiiik, pasti disana banyak wahana hiburan” Andi tampak sangat bersemangat dan tidak sabar untuk tiba di bengkulu.

Setiba di bandara Fatmawati, Reza langsung menuju ke rental mobil untuk menemui teman lamanya. Ia akan meminjam mobil selama beberapa hari.

“Kakak, abang… kita siap berangkat. Ayuk masuk mobil!” Sekarang giliran Reza yang sangat bersemangat.

“Kita mau menginap di hotel mana Yah?” Andi tidak sabar lagi mau jalan-jalan.

Reza hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Yang ada di bayangnya adalah liburan tahun ini akan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia berharap Liburan kali ini bisa menambah kehangatan di tengah keluarga kecil mereka. Ia juga berharap anak-anaknya bisa mengambil banyak pengalaman dan pelajaran dari liburan mereka kali ini.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan mereka tiba di sebuah Desa.

“Kakak, abang, ayo bangun. Kita sudah sampai…”

“Aaaah sudah sampai …” Andi mengucek matanya berusaha untuk bangun.

Dengan masih setengah sadar ia turun dari mobil. Ia masuk ke sebuah rumah panggung dan disambut oleh wanita tua yang belum pernah ia kenal.

“Reza….” Wanita itu memeluk Reza dengan penuh kerinduan

“Ini anak-anakmu?” Tanya wanita itu lanjut

“Ya Bi…”

“Ya Allah, mereka sudah besar-besar” ucap wanita itu dengan mata berbinar.

“Ayo salam dengan Nenek…”

Sore itu berlalu dengan senda gurau Reza dengan Bu Darmi sedangkan Aisyah dan Andi terlihat sibuk bermain di halaman rumah dengan teman-teman baru mereka.

***

“Andi bangun, sudah subuh….” Aisyah membangunkan adeknya untuk segera sholat.

Setelah sholat berjamaah Reza sudah tampak siap dengan baju training dan sepatu ketnya.

“Ayah, kita mau kemana?” Andi tampak penuh tanya

“Ya Yah, seperti mau lomba lari saja” Aisyah ikut protes

Mereka sudah siap dengan bekal di tas masing-masing.

“Hati-hati ya Za” Kata Bu Darmi

“Ya Bi, aku tidak sabar melihat kembali semua keindahan Curup”

Mereka naik mobil sebentar menuju kaki Bukit Kaba.

“Ayah, kita kok lewat hutan-hutan? Kata ayah mau jalan-jalan ke tempat yang tidak akan terlupakan.” Andi protes dan nampak kecewa

“Ayah tidak ingkar janji kok. Hari ini kita akan mendaki bukit Kaba.”

“Haaa! Mendaki Yah?” Aisyah seperti tidak percaya

“Ya, kita akan mendaki. Makanya, kita memakai pakaian ini dan membawa bekal.”

“Tapi kan Yah, Aku dan Andi belum pernah mendaki. Itukan jauh.”

“Ah kakak, dulu ayah seumur kalian sudah mendaki. Kan kalian masih muda. Pasti kuat-kuat” Reza mencoba membujuk anak-anaknya.

Reza mulai menatap ke atas. Ia tidak mengira akan kembali mendaki bukit yang sama.

“Ais, Andi… kalian tahu kenapa ayah mengajak kalian ke sini?” Reza mulai menatap kedua anaknya

“Emang kenapa?”

“Ayah akan bercerita ketika kita sampai di puncak. Ayo kita mulai mendaki. Semoga Allah memudahkan ya”

Kurang lebih 15 menit berjalan, Aisyah dan Andi terlihat begitu lelah. Reza pun tersenyum melihat mereka.

“Anak-anak ayoook naik mobil!”

“Naik mobil???” teriak Aisyah dan Andi serempak

“Ya, kita melanjutkan perjalanan naik mobil. Ayah lihat kalian sudah lelah. Jangan-jangan sesampai di puncak pada pingsan. Kan nanti Ayah juga yang repot.” Ungkap Reza sambil tertawa.

Perjalanan mereka berlanjut di mobil selama kurang lebih 2 jam.

Sampailah mereka di tangga puncak bukit Kaba

Fasilitas tangga di lereng luar Kawah Lama memudahkan para pendaki untuk mencapai bibir kawah-kawah lainnya di kawasan puncak. Sebelum menaiki tangga, para pendaki bisa menikmati kawah Mati di sebelah Kiri. Di sana, terkadang ada beberapa pendaki yang bermain sepak bola. Sumber mata air panas di Air Meles (lereng barat daya) dan di Air Sempiang (lereng selatan) juga merupakan tempat-tempat yang potensial bagi wisata gunung api di Kabupaten Rejang Lebong.

Andi mulai bersemangat untuk menaiki tangga karena ini adalah pertama kalinya ia mendaki.

“Bang, ini tangga disebut tangga seribu” Ungkap Reza sebelum Andi bertanya.

“Oh, berarti jumlahnya seribu ya? Oke, akan Andi hitung Yah” Andi tambah semangat

“…100,101,102…. Ah Ayah, Andi lelah. Kapan-kapan aja abang hitung”

“Kapan lagi bang? Lanjutlah hitungnya” Sindir Reza

Andi sudah berlari ke puncak, Mungkin bukan sepenuhnya karena lelah ia tidak mau melanjutkan hitungannya tetapi karena rasa penasaran akan apa yang akan ia lihat di puncak bukit.

“Ayaaaaahh…” teriak Andi dan Aisyah dari puncak

“Apa yang kalian lihat?” tanya Reza

“Lembah yang ada asapnya…” Andi mencoba menjelaskan.

Reza, Andi, dan Aisyah mengambil foto di setiap momen. Di setiap sudut puncak mereka berfoto. Untungnya di puncak bukit, bukan hanya ada mereka sehingga mereka bisa minta tolong difotokan.

“Ayaaah…” Ais menatap ke arah kawah lama

“Kenapa kak?”

“Yah, coba kalau ada Bunda. Pasti tambah seru” Aisyah tampak berkaca-kaca.

“Pastinya… tapi bunda sudah melihat pemandangan lebih indah dari ini” Reza memeluk putrinya itu.

“Abang ke sini dulu. Ayah mau cerita”

“Kakak, abang…kalian tahu mengapa Ayah sangat ingin mengajak kalian kesini?”

“Enggak Yah. Emang kenapa Yah?”Andi mulai penasaran

“Dulu ayah pernah berjanji dengan seseorang untuk membawa kalian ke sini. Sekarang Ayah sudah tepati. Pasti dia bahagia melihat kita sudah disini” Reza bercerita dengan mata berkaca-kaca.

“Siapa Yah” Aisyah menimpali.

“Bunda kalian” Reza menatap kedua anaknya, lalu memeluk mereka

“Dulu, ayah pernah ke sini dengan bunda kalian. Kami berjanji akan ke sini lagi bersama dengan anak-anak kami nantinya”

Hari itu berlalu dengan keceriaan dan keharuan. Keluarga kecil tanpa seorang ibu di tengah mereka tidak membuat mereka hilang kehangatan.

Andi dan Aisyah masih asyik bermain dan berfoto-foto dan mengambil video. Reza melihat sosok kedua anaknya dengan senyuman bahagia.

Terimakasih ya Rabb, Engkau anugerahkan mereka kepadaku.

Senja mulai tampak dari puncak, keindahan kawah semakin indah, udara pun semakin segar membuat Reza enggan turun dan pulang. Ia masih sangat merindukan suasana ini. Sangat merindukan sosok yang dulu duduk bersama dengannya melihat keindahan curup dari puncak bukit kaba. Ia berharap suatu saat ia bisa kembali lagi ke sini walaupun ia tidak tahu kapan tepatnya.

 

Mak, Aku Sembuh…

Laisa selalu memandang foto wanita berselendang biru muda yang terpajang rapi ketika ia duduk di ruang tamu. Wanita yang tinggal bersama Laisa sampai ajal menjemputnya. Sosok yang sudah 3 tahun lalu pergi meninggalkannya, namun Laisa merasa Mak selalu ada di sampingnya, seperti saat itu…

Mak, apa aku tidak bisa sekolah lagi?”

“Siapa yang bilang tidak bisa? Nanti Lais akan bisa sekolah lagi setelah sembuh”.

“Tapi, sudah setahun Lais tidak bisa bangun dari tempat tidur ini?”

Mak hanya bisa terdiam ketika anaknya berkata seperti itu. Hanya keputusasaan yang sekarang terlihat di wajah anak kelimanya itu. Putri harapan keluarga karena semangatnya untuk sekolah dan keinginannya merubah nasib keluarga. Putri yang begitu ceria dan rajin belajar itu kini terbaring lemah di kasur. Tubuhnya sudah berbeda dari setahun yang lalu. Kini bengkak di tubuhnya semakin besar. Bengkak yang membuat tubuhnya terlihat gemuk karena benjolan-benjolan berisi cairan nanah itu sudah semakin banyak. Mak dan Bapak hanya bisa memanggil dukun kampung untuk mengobatinya. Bukan tidak mau berobat kepada dokter, tetapi belum ada tenaga dokter saat itu, belum ada pelayanan kesehatan dan alat-alat canggih yang bisa mendiagnosa penyakit Laisa.

“Lais, lihatlah bengkak di bawah ketiakmu sudah pecah. Insyaallah sebentar lagi semua akan membaik.” Mak berusaha menghibur anaknya itu.

Lais ingat sekali seminggu yang lalu bengkak di ketiak itu pecah dan mengeluarkan cairan nanah berbau busuk. Dia ingat bagaimana Mak membersihkan cairan itu dari tubuh dan kasurnya. Bukannya marah tetapi Mak malah menunjukkan senyum bahagia ketika melihat Lais sudah bisa menggerakkan tangan kanan yang 6 bulan ini tidak bisa ia gerakkan.

“Paha Lais sakit Mak!” Lais berteriak sambil memegang pahanya. Ia seakan sudah tahu bahwa ada benjolan baru yang tumbuh di paha kanannya.

Mak, mungkin benjolan-benjolan ini akan pecah dalam waktu yang lama. Saya harap Mak dan keluarga tetap sabar dan berdo’a agar Lais bisa segera sembuh.” Jelas Pak Kadir, lelaki yang digelari dukun oleh masyarakat disana.

“Rasanya saya tidak tahan lagi melihat kondisi Lais, sudah 2 tahun Lais belum juga sembuh.”

Mak, kita tidak boleh menyerah. Kalau Lais melihat kita seperti ini, maka ia akan semakin sedih dan juga ikut menyerah untuk sembuh”. Bapak mengingatkan kembali Mak untuk semangat menyembuhkan anaknya.

“Ya betul Mak, kita pasrahkan semua kepada Allah. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah tetap mengobati Lais.” Pak Kadri juga ikut menyemangati Mak.

“Ya, saya seharusnya tidak semudah ini menyerah. Saya yakin Lais akan sembuh. Sampai kapan pun saya akan menunggu sampai Lais sembuh dan bisa kembali seperti anak-anak biasanya. Bermain, belajar, jalan-jalan, dan….” Mak tak kuasa meneruskan perkataannya. Ia memegang dadanya untuk menahan tangisan yang tidak boleh ia tunjukkan di depan Lais.

“Ini ada obat herbal untuk Lais. Oleskan setiap pagi dan sore ke tubuhnya.”.

Mak selalu mengolesi tubuh Lais dengan obat herbal yang diberikan Pak Kadir. Benjolan itu pecah satu persatu dalam 2,5 tahun ini. Ia lihat tubuh Lais sudah kembali normal. Tinggal satu benjolan lagi di Pahanya, tetapi sudah 6 bulan benjolan itu belum juga pecah.

“Pak, kenapa benjolan di paha Lais belum juga pecah? Bukankah biasanya benjolan di tubuh Lais pecah setiap 6 bulan?” tanya Mak yang kelihatan bingung dengan kondisi Lais.

“Saya juga masih bingung mengapa itu terjadi Mak. Tapi saya akan berusaha mencari obat baru untuk Lais.”

Suatu hari, Mak kedatangan tamu…

Mak, saya lihat Lais sudah semakin membaik. Jika Lais mau, ia bisa mengikuti ujian sekolah tahun ini. Saya tahu Lais sangat mau tamat SD. Ia sangat rajin sekali dulu pergi sekolah dan ia juga sering mendapat juara kelas.”

Setelah kepala sekolah pulang, Mak duduk di samping Lais yang sedang tidur. Ia menatap wajah Lais dengan penuh kasih sayang.

“Lais, mau sekolah lagi nak?” sebuah pertanyaan dalam hati Mak yang mungkin belum saatnya ia tanyakan atau tidak akan pernah ia tanyakan kepada Lais. Walapun ia tahu Lais sangat ingin kembali sekolah, tetapi ia belum mau menyinggung soal itu.

Pada saat itu, lulus SD adalah suatu kebanggaan. Hal ini dikarenakan belum banyak sekolah saat itu ditambah sangat jarang anak-anak yang bisa lulus SD. Jika bisa lulus SD, maka ia akan menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat.

Sudah menjelang 3 tahun Lais hanya tinggal di rumah saja. Mak lah yang menjadi tempat ia bercerita. Mak juga yang akan memenami ia sampai ia tertidur.

“Ya Allah, kasihanilah Lais. Dia masih begitu kecil untuk menderita selama ini. Aku sudah tidak kuat melihat penderitaannya. Aku mohon belas kasihMu untuk menyembuhkannya….” Doa Mak sambil mengelus kening Lais yang sudah tertidur.

3 tahun sudah berlalu…

Mak, Mak, Mak”  teriak anak kecil di halaman rumah depan.

Mak, aku mau ikut ke kebun. Aku mau bantu menanam kacang ya?” Anak itu memohon penuh harap.

“Ehm, ikutlah tapi selesaikan dulu pekerjaanmu menyapu.” Balas Mak sambil tersenyum melihat Lais, ia serasa tidak percaya putrinya itu sedang menyapu halaman sekarang.

Di ruang tamu…

“Bu, apa ibu tidak pernah bosan melihat foto nenek?” tanya putri semata wayangnya itu yang membuat Laisa kaget.

“Tidak akan pernah bosan….” Jawab Laisa sambil tersenyum.

“Ehm, kapan kamu pulang? Bukannya fitting baju pernikahanmu baru selesai nanti sore?”

“Aku sudah tiba dari tadi bu, tapi ibu tidak mendengar suara salamku.” Jawab Sheila tampak kecewa.

“Maaf ya sayang….” Laisa memeluk Sheila dengan hangat.

Cinta sederhana

29 Juli 2015

Hari ini aku menyadari satu hal. Cinta yang aku punya untuk dia terlalu tinggi. Dia terlalu Indah untuk aku sentuh, terlalu tinggi untuk ku gapai,dan terlalu jauh untuk aku kejar. Dia bak rembulan yang hanya bisa aku pandang dari kejauhan. Allah berikan aku cinta yang lebih sederhana, sebuah cinta karenaMu. Cinta yang tidak memandang apa pun kecuali dengan pandanganMu, Cinta yang tidak menilai apapun kecuali dengan penilaianMu, Cinta yang tidak mengharapkan apapun kecuali harapan keridhoanMu. Cinta yang tidak diputuskan hanya karena keindahan luar yang tampak, kemegahan masa depan yang dijanjikan, kehormatan dan sanjungan yang didapatkan, namun jauh lebih berharga. Aku ingin mencintai seseorang karena cintaku PadaMu, kedua orang tuaku, dan dakwahku. Membina kehidupan cinta hanya atas nama Cinta kepadaMu, menjalaninya hanya dengan cita-cita untuk bertemu di Syurga, memiliki dan menjaga karena kasih sayangMu, berpegangan tangan menjalankan kerja-kerja dakwah bersama, mendidik anak-anak generasi emas untuk Islam. Aku ingin cinta sederhana tidak memandang hanya dunia, aku ingin jatuh cinta karena keindahan hati dan akhlaknya, aku ingin memegang tangannya atas nama cinta kepadaMu semata. Ya Allah….Jauhkan aku dari fitnah cinta dunia yang penuh dengan tipuan dan jauh dari kata RidhoMu. Hapuslah cinta ini yang aku sadari karena nafsu duniaku dan tumbuhkan rasa cinta yang didasarkan ketaatanku padaMu.

Rasa ini Fitrah

Catatan lama dari sahabat karib….

Ya Allah hari ini sudah menapaki hari ke 16 Ramadhan. Kulihat rembulan dan kuingat sosok dia. Dia ibarat bintang yang tak akan pernah bisa aku gapai, dia ibarat bulan yang hanya bisa kupandang keindahannya. Walaupun kami jarang bertemu namun hati ini tak bisa ku bohongi. Ya Rabb yang memegang hati ini, Wahai Rabb yang Maha membolak balikkan hati jika andai Cinta itu hadir kembali di hati ini aku mohon jagalah hatiku tetap dalam hidayah dan keridhoanMu. Aku manusia lemah yang sering tersilaukan dengan kenikmatan dunia dan terjebak didalamnya. Aku tahu Cinta ini adalah fitrah dan aku mensyukurinya karena Engkau menganugrahi aku perasaan ini. Namun aku begitu takut jika ini adalah Cinta palsu yang membuatku berpaling dariMu. Aku takut Cinta ini menipu daya diriku. Aku takut Cinta ini tumbuh bukan karenaMu. Ya Allah aku mengemis kasih padaMu, anugerahilah aku Cinta yang Murni ada karena Cintaku padaMu. Aku begitu takut ketika cintaku padanya hanya karena nafsu duniaku, hanya karena kemegahan yang aku pandang, hanya karena kesuksesannya di dunia, hanya karena kepandaiannya, hanya karena kemampuannya yang istimewa, namun aku lupa akhlaknya, pemahaman diinnya, dan dakwahnya. Aku ingin mendapatkan imam yang baik diinnya karena pasti semua kebahagiaan lain mengikuti.  Hari ini aku berharap Cinta ini hilang karena pondasi CIntaku bukan karenaMu dan aku pun telah menipu hatiku. Jika kami Engkau takdirkan bersama, maka tumbuhkan lagi cinta ini atas pondasi CintaMu bukan karena dunia di sekelilingnya sehingga kami bisa membina mahligai kehidupan yang Engkau Ridhoi, Namun jika bukan yang terbaik bagiku untuk bersama maka ikhlaskan hati ini untuk menerima itu semua. Mungkin aku belum pantas untuknya atau dia terlalu sempurna untuk ada disampingku. Dekat atau pun jauh itu yang terbaik, bertemu atau berpisah itu juga pilihan terbaik yang Engkau takdirkan untukku. Tentu yang paling baik adalah cukup menjalani skenario hidup yang telah Engkau garisi untukku. Ikhlaskan hati ini Ya Allah menjalani kehidupan dunia yang hanya sebentar ini….

Keep your heart until you find your faith

I am looking at my friend picture on Instagram. She was hugging her husband because he must come back to Indonesia and she will separate with him about a year. I don’t know why I can feel how her feeling is, so sad for having long distance relationship specially with your husband, who are fated to marry you by Allah. Keep your heart until Allah decide your faith and don’t worry. Just prepare yourself become good wife and mom by praying and doing many kindness in your life.

Bristol_10 September 2016

Cinta tak cukup mengalahkan kenyataan

Senja mulai menampakkan keindahannya
Namun aku terpaku resah
Menelusuri pikiranku
Hingga sampai pada titik itu
Melihat senyuman terlukis indah di wajah sederhananya
Walau memandang jauh diiringi malu
Itu tetap mampu menciptakan kebahagian
Tak berani mendekat karena takut akan penghindaran yang ia berikan
Biarlah terpendam dan terkunci di bagian terdalam
Kini semua darinya semakin bersinar
Pancarannya sudah menyebar
Betapa banyak tebaran keindahan yang ia tebarkan
Hingga tak aneh jika banyak mata memandang
Sebaliknya cahaya itu membuatku menjauh karena aku tak sanggup menahan terang
Cahaya remang lebih menawan
Tak banyak mengundang karena cukup aku yang menikmatinya
Entah sampai kapan resah ini hilang
Haruskah aku menunggu senja dan fajar berakhir
Atau menunggu saat indah yang masih misteri

Mak, I Love U

Laisa selalu memandang foto wanita berselendang biru muda yang terpajang rapi ketika ia duduk di ruang tamu. Wanita yang tinggal bersama Laisa sampai ajal menjemputnya. Sosok yang sudah 3 tahun lalu pergi meninggalkannya, namun Laisa merasa Mak selalu ada di sampingnya, seperti saat itu…

Mak, apa aku tidak bisa sekolah lagi?”

“Siapa yang bilang tidak bisa? Nanti Lais akan bisa sekolah lagi setelah sembuh”.

“Tapi, sudah setahun Lais tidak bisa bangun dari tempat tidur ini?”

Mak hanya bisa terdiam ketika anaknya berkata seperti itu. Hanya keputusasaan yang sekarang terlihat di wajah anak kelimanya itu. Putri harapan keluarga karena semangatnya untuk sekolah dan keinginannya merubah nasib keluarga. Putri yang begitu ceria dan rajin belajar itu kini terbaring lemah di kasur. Tubuhnya sudah berbeda dari setahun yang lalu. Kini bengkak di tubuhnya semakin besar. Bengkak yang membuat tubuhnya terlihat gemuk karena benjolan-benjolan berisi cairan nanah itu sudah semakin banyak. Mak dan Bapak hanya bisa memanggil dukun kampung untuk mengobatinya. Bukan tidak mau berobat kepada dokter, tetapi belum ada tenaga dokter saat itu, belum ada pelayanan kesehatan dan alat-alat canggih yang bisa mendiagnosa penyakit Laisa.

“Lais, lihatlah bengkak di bawah ketiakmu sudah pecah. Insyaallah sebentar lagi semua akan membaik.” Mak berusaha menghibur anaknya itu.

Lais ingat sekali seminggu yang lalu bengkak di ketiak itu pecah dan mengeluarkan cairan nanah berbau busuk. Dia ingat bagaimana Mak membersihkan cairan itu dari tubuh dan kasurnya. Bukannya marah tetapi Mak malah menunjukkan senyum bahagia ketika melihat Lais sudah bisa menggerakkan tangan kanan yang 6 bulan ini tidak bisa ia gerakkan.

“Paha Lais sakit Mak!” Lais berteriak sambil memegang pahanya. Ia seakan sudah tahu bahwa ada benjolan baru yang tumbuh di paha kanannya.

Mak, mungkin benjolan-benjolan ini akan pecah dalam waktu yang lama. Saya harap Mak dan keluarga tetap sabar dan berdo’a agar Lais bisa segera sembuh.” Jelas Pak Kadir, lelaki yang digelari dukun oleh masyarakat disana.

“Rasanya saya tidak tahan lagi melihat kondisi Lais, sudah 2 tahun Lais belum juga sembuh.”

Mak, kita tidak boleh menyerah. Kalau Lais melihat kita seperti ini, maka ia akan semakin sedih dan juga ikut menyerah untuk sembuh”. Bapak mengingatkan kembali Mak untuk semangat menyembuhkan anaknya.

“Ya betul Mak, kita pasrahkan semua kepada Allah. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah tetap mengobati Lais.” Pak Kadri juga ikut menyemangati Mak.

“Ya, saya seharusnya tidak semudah ini menyerah. Saya yakin Lais akan sembuh. Sampai kapan pun saya akan menunggu sampai Lais sembuh dan bisa kembali seperti anak-anak biasanya. Bermain, belajar, jalan-jalan, dan….” Mak tak kuasa meneruskan perkataannya. Ia memegang dadanya untuk menahan tangisan yang tidak boleh ia tunjukkan di depan Lais.

“Ini ada obat herbal untuk Lais. Oleskan setiap pagi dan sore ke tubuhnya.”.

Mak selalu mengolesi tubuh Lais dengan obat herbal yang diberikan Pak Kadir. Benjolan itu pecah satu persatu dalam 2,5 tahun ini. Ia lihat tubuh Lais sudah kembali normal. Tinggal satu benjolan lagi di Pahanya, tetapi sudah 6 bulan benjolan itu belum juga pecah.

“Pak, kenapa benjolan di paha Lais belum juga pecah? Bukankah biasanya benjolan di tubuh Lais pecah setiap 6 bulan?” tanya Mak yang kelihatan bingung dengan kondisi Lais.

“Saya juga masih bingung mengapa itu terjadi Mak. Tapi saya akan berusaha mencari obat baru untuk Lais.”

Suatu hari, Mak kedatangan tamu…

Mak, saya lihat Lais sudah semakin membaik. Jika Lais mau, ia bisa mengikuti ujian sekolah tahun ini. Saya tahu Lais sangat mau tamat SD. Ia sangat rajin sekali dulu pergi sekolah dan ia juga sering mendapat juara kelas.”

Setelah kepala sekolah pulang, Mak duduk di samping Lais yang sedang tidur. Ia menatap wajah Lais dengan penuh kasih sayang.

“Lais, mau sekolah lagi nak?” sebuah pertanyaan dalam hati Mak yang mungkin belum saatnya ia tanyakan atau tidak akan pernah ia tanyakan kepada Lais. Walapun ia tahu Lais sangat ingin kembali sekolah, tetapi ia belum mau menyinggung soal itu.

Pada saat itu, lulus SD adalah suatu kebanggaan. Hal ini dikarenakan belum banyak sekolah saat itu ditambah sangat jarang anak-anak yang bisa lulus SD. Jika bisa lulus SD, maka ia akan menjadi kebanggaan keluarga dan masyarakat.

Sudah menjelang 3 tahun Lais hanya tinggal di rumah saja. Mak lah yang menjadi tempat ia bercerita. Mak juga yang akan memenami ia sampai ia tertidur.

“Ya Allah, kasihanilah Lais. Dia masih begitu kecil untuk menderita selama ini. Aku sudah tidak kuat melihat penderitaannya. Aku mohon belas kasihMu untuk menyembuhkannya….” Doa Mak sambil mengelus kening Lais yang sudah tertidur.

3 tahun sudah berlalu…

Mak, Mak, Mak”  teriak anak kecil di halaman rumah depan.

Mak, aku mau ikut ke kebun. Aku mau bantu menanam kacang ya?” Anak itu memohon penuh harap.

“Ehm, ikutlah tapi selesaikan dulu pekerjaanmu menyapu.” Balas Mak sambil tersenyum melihat Lais, ia serasa tidak percaya putrinya itu sedang menyapu halaman sekarang.

Di ruang tamu…

“Bu, apa ibu tidak pernah bosan melihat foto nenek?” tanya putri semata wayangnya itu yang membuat Laisa kaget.

“Tidak akan pernah bosan….” Jawab Laisa sambil tersenyum.

“Ehm, kapan kamu pulang? Bukannya fitting baju pernikahanmu baru selesai nanti sore?”

“Aku sudah tiba dari tadi bu, tapi ibu tidak mendengar suara salamku.” Jawab Sheila tampak kecewa.

“Maaf ya sayang….” Laisa memeluk Sheila dengan hangat.