Dari Kata “BUS” saja aku belajar banyak hal

Belajar tentu bukan hanya identik dengan “mengahadiri kelas” tetapi lebih dari itu, terkadang apa yang kita lihat di sekitar kita bisa menjadi pelajaran yang berharga yang mungkin tidak kita dapatkan secara langsung ketika menghadiri sebuah kelas. Inggris yang sudah dikelas sebagai negara maju tentu memiliki banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran, namun bagiku yang sedang menempuh pendidikan di sini hal yang paling menarik perhatianku adalah “Tata krama Masyarakatnya”. Mungkin ketika mendengar kata “BUS” akan banyak hal moral yang aku ingat. Tentu itu akan menjadi pelajaran berharga!

1.Bus jadi pilihan transportasi utama

Transportasi utama di Inggris adalah Bus, termasuk di Bristol. Kenyamanan yang di dapatkan di transportasi umum menjadi alasan utama masyakat memilih mengandari Bus di bandingkan kendaraan pribadi. Pertama kali tiba di Bristol. aku sempat terkejut ketika melihat kota yang begitu nyaman untuk di tinggali. Aku sangka aku akan bertemu semerawutnya kemacetan dan kelamnya langit karena gumpalan asap pabrik, tetapi beruntungnya aku malah menemukan hal sebaliknya jarang ada kemacetan dan udaranya pun bersih dan segar. Kendaraan pribadi sangat sedikit sekali apalagi motor, bisa dihitung dengan jari. Mungkin kenapa kota besar di Indonesia pada macet, ya pastinya karena jumlah kendaraan pribadi yang sangat banyak. Bayangkan setiap orang mengendarai satu mobil dan setiap rumah ada yang memiliki 2 sampai tiga motor atau mobil. So, pantaslah kemacetan adalah masalah yang sulit di tuntaskan karena ego pribadi pun tiak bisa dikalahkan. Kalau disini setiap rumah rata-rata hanya memiliki satu mobil :). Mungkin nilai penting yang aku ambil adalah “konsep keserhanaan”. Siapapun kamu, Bus bisa menjadi pilihanmu pergi dengan nyaman karena kamu juga tidak harus menggunakan kendaraan pribadi.

2. Jadwal Bus yang on time

Yang tidak kalah menarik adalah “konsep kedisiplinan” masyarakat disini. Mereka sangat menghargai waktu. Setiap hari ada bermacam nomor bus yang beroperasi di Bristol sejak jam 7 pagi sampai jam 11 malam. Semua sesuai dengan jadwal yang tertera di bus stop masing-masing. Yang lebih enaknya lagi ada aplikasi “Bus checker” untuk melihat jadwal setiap bus melewati setiap bus stop. Dengan aplikasi ini aku bisa menghindari menunggu di bus stop dalam jangka waktu yang lama. Apalagi pas winter, aplikasi ini sangat membantu, karena aku bisa mengantisipasi agar tiba di bus stop 1- 2 menit sebelum bus lewat. Nilai kedisiplinan masyarakat disini bisa dilihat dari kedatangan transportasi umum yang on time, mau itu bus dalam kota, kereta api, mapun bus antar kota. Dari sini sangat terlihat mereka sangat mengharagai yang namanya waktu, sampai semua sistem dibuat agar setiap orang bisa memanfaatkan waktu mereka dengan baik.

3. Prinsip Antri

Kalian tahu, pertama kali datang disini sewaktu naik bus aku tidak memperhatikan kiri -kanan belakang-depan, aku hanya berusaha secepat mungkin masuk bus. Kalau ingat kejadian itu, nampak sekali kalau aku belum memahami busya antri (Baca: maklum budaya antri belum aku temukan di negara sendiri) terutama saat nunggu bus. Disini ketertiban dan respect sama orang lain sangat diutamakan. Maka mereka akan dengan sendiri antri jika menunggu bus. Dengan tertib akan masuk bus satu persatu. tidak pernah berdesakan sekalipun itu saat peak hours, yang antriannya panjang banget. Namun, ada satu pengecualian jika kita meilhat Lansia dan disabled, maka kita harus mendahulukan mereka. Aku menyaksikan sendiri keramahan masyarakat disini dengan Lansia dan diabled. Dengan tersenyum pasti mereka akan mendahulukan mereka. Lansia dan diabled pun memiliki tempat duduk khusus, biasanya 2 barisan seat depan. Oleh karena itu, penumpang-penumpang lainnya akan memilih mengisi seat barisan ketiga dan mengosongkan 2 barisan depan (Baca: tetapi ada saatnya kita bisa juga mengisi 2 barisan seat itu, lihat sikon). Oh ya, ada hal satu lagi yang membuatku tertarik. Di negara ini, disediakan alat bantu yang bersahabat dengan Lansia dan diasbled (baca: kursi roda, wheelchair, dll) sehingga mereka tetap bisa pergi sendiri kemanapun dengan bebas). Aku belajar bahwa setiap orang memiliki hak yang sama di negara ini teruatama fasilitas umum, pemerintah pun mensupport fasilitas itu agar bersahabat dengan siapapun baik dari segi umur maupun fisik.

Tentunya banyak hal yang bisa dipelajari dari kebiasan masyarakat disini yang mungkin belum kita temukan di negara kita sendiri. Kondisi atau sistem disini bukan menjadikan kita “mengeluhkan” kondisi Indonesia, namun sebaliknya “Menimbulkan harapan” bahwa Indonesia bisa juga seperti ini bahkan lebih baik ke depannya.

Islam di Inggris, the black country 2

Setelah menyampaikan pengalaman saya bagaimana saya pertama kali mengatasi ketakutan saya tentang penerimaan islam di Inggris di Part 1, sekarang saatnya saya berbagi pengalaman terkait makanan halal dan komunitas islam di Inggris terutama di kota tempat saya tinggal, Bristol.

Sulitkah mencari makanan halal?

Pertama kali tiba di Bristol, yang dicari tentu bagaimana cara agar bisa mengisi perut. Setiap akomodasi di Inggris pastinya punya dapur, baik dapur umum atau pun pribadi tergantung jenis akomodasi yang kita pilih, akomodasi kampus atau private (ada yang berupa flat, studio, maupun rumah). Kebetulan saya tinggal di private accommodation yang berbentuk rumah dan beruntungnya saya punya dapur yang besar dan komplit peralatannya (baca: jujur, lebih bagus dapur ini dah dari dapur rumah saya di Indonesia :), alhasil, banyak peralatan dapur yang saya perlu belajar cara menggunakannya, he). Saya pun akhirnya memilih memanfaatkan fasilitas yang ada untuk memasak makanan, selain sudah terjamin halalnya, cara ini akan sangat menghemat pengeluaran makan setiap bulan. Berbeda dengan yang shared kitchen, biasanya ini adalah akomodasi students yang berbentuk flat. Dapurnya adalah dapur umum, tetapi biasanya peralatan masak kita sendiri-sendiri. Jadi, tentu semua nya terpisah dan masih saling menjaga privacy. Selain itu tempat penyimpanan peralatan masak serta peralatan makan sendiri-sendiri. Biasanya ada pembagian rak atau lemari sesuai kesepakatan. Hikmahnya tinggal di flat, moment masak adalah saat-saat berharga untuk saling sapa sesama teman flat sehingga kita bisa lebih banyak mengenal mahasiswa lain. So, cara pertama mendapatkan makanan halal adalah “Masak sendiri”. Saya pun pertama kali memasak, rasanya tidak karuan (baca: maklum tidak pandai memasak, hiks). Namun, setelah 4 bulan ini mencoba memasak, rasa masakan saya cukup enak (baca: menurut saya,he). Ada hikmah.nya juga selain menuntut ilmu, saya juga belajar memasak. Dimana kata Anggi, teman serumah, “setidaknya dengan memasak kamu bisa berlatih bagaimana menjadi istri yang baik”, cieeee. Oh ya saya lupa, walaupun memasak sendiri tentu bahan makanan yang kita cari tentu harus halal juga. Sudah ada beberapa supermarket lokal yang menyediakan halal corner untuk umat muslim jika ingin membeli daging. Pemotongan hewan juga memiliki sertifikasi tersendiri di UK, yang biasa disebut HMC (Halal Monitoring Committee). Seperti di Bristol, ada beberapa butcher halal seperti Pak Butcher, ahmed Halal Butcher, Easton butcher, dan sebagainya.

image

Easton Halal Butcher

Tetapi tidak setiap saat kita punya waktu memasak. Apalagi jika tugas reading dan essay menunggu. Maka, pilihan paling tepat adalah membeli makanan. Karena tinggal di negara yang minoritas muslim, tentu makanan halal juga jadi tidak banyak dijual. Kita tentu harus lebih hati-hati. Pertama, tanya referensi dimana saja tempat makanan halal ke senior yang sudah lama tinggal di kota kita tinggal. Kebetulan, di Bristol banyak anak Phd yang sudah beberapa tahun disini, jadi waktu pertama kali datang dijelaskan bagaimana menemukan tempat halal. Ada juga beberapa keluarga WNI muslim yang lama tinggal disini, jadi tentu bisa jadi tempat bertanya. Oh ya, jika kita membeli makanan siap saji di supermaket, carilah makanan yang ada label suitable for vegetarian (Baca: berdasarkan pengalaman pribadi, makanan siap saji adalah pilihan tepat saat travelling). Maka, insyaAllah itu halal dan bisa kita konsumsi. Kedua, biasanya ada label halal di depan restaurant atau tempat makannya, biasanya yang menjual makanan hala itu adalah restaurant india, turki, dan pakistan. Namun, jika tidak ada label halal, jangan malu-malu untuk bertanya apakah mereka menyediakan makanan halal atau tidak. Mereka sangat welcome dan akan jujur menjawab jika memang mereka tidak menyediakan makanan halal. Ketiga, pakai aplikasi pendeteksi halal place seperti Adhan Time dan Islamic Pro yang bisa didownload di smartphone.. Kedua aplikasi ini selain berguna untuk melihat waktu sholat dan arah kiblat, keduanya bisa menunjukkan restaurant halal terdekat.

Bagaimana dengan komunitas Islam?

Setelah datang ke UK, saya sangat terkejut sekaligus bahagia bahwa saya tidak sulit mencari komunitas muslim disini. Dimulai dari kampus, sebagian besar Universitas di UK memiliki organisasi/komunitas muslim seperti di University of Bristol, ada Bristol University Islamic Society (Brisoc) dimana kita sebagai muslim bisa bergabung. Kalian bisa like juga fanpage facebook nya disini, dengan bergabung di komunitas ini saya bisa bertemu mahasiswa muslim dan muslimah dari berbagai negara. Ini adalah gathering bareng Brisoc saat welcoming kampus.

Di beberapa kota seperti London, Manchester, Nottingham, Southampton, Birmingham, dan termasuk Bristoljuga ada pengajian lokal. Di bristol Ada pengajian Al hijrah yang pesertanya dari keluarga WNI dan mahasiswa-mahaiswa di UWE maupun University of Bristol.

IMG-20161126-WA0022.jpg

Foto bareng yang lain setelah pengajian Al hijrah

 

Di UK, juga ada KIBAR (Indonesian Muslim Community in Great Britain). KIBAR adalah wadah komunikasi dan koordinasi kelompok-kelompok pengajian muslim Indonesia yang tersebar di berbagai kota di Inggris, sampai saat ini KIBAR disusun oleh 17 lokaliti stakeholder. Anggota pengajian ini berasal dari latar belakang yang sangat beragam yang meliputi mahasiswa, pekerja, maupun warga Indonesia yang menikah dengan warga negara UK. Di Kibar ada tausyiah online #TALK jadwalnya bisa dilihat di website. KIBAR UK juga secara rutin mengadakan pertemuan (gathering) dua kali setahun, yakni: Spring/Summer Gathering dan Autumn/Winter Gathering. Tujuan utama pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk memberikan kesempatan bagi warga muslim Indonesia di Inggris untuk saling mengenal dan mempererat rasa kekeluargaan.

img-20161024-wa0005

img-20161024-wa0007

Suasana KIBAR Autumn Gathering 2016 Southampton bersama Ustadz  Amir Faishol

 

 Dari pengalaman saya pribadi, saya merasa bahwa memang benar Islam rahmatan lil ‘alamin. Dimanapun kita menginjakkan kaki, insyaAllah cahaya islam akan ada. Tak peduli kita berada di negara dimana muslim nya masih menjadi minoritas. Salam cinta untuk semua muslim di bumi Allah lainnya….

 

Islam di Inggris, the black country

Inggris yang memiliki julukan “the black country” karena dianggap sebagai negara industri maju dimana berpusat di Birmingham dan Sheffield sehingga udara disana sering terlihat hitam akibat tertutup oleh asap-asap industri yang sangat banyak (Tapi maaf soal ini saya hanya baca sumber dan belum survei sendiri karena belum jalan-jalan ke kedua kota ini,he).

Pertama kali berangkat 14 september 2016 sore dari Jakarta-Abu Dhabi-Dublin-Bristol, UK. Bayangkan saya baru sampai siang tanggal 15 september 2016 di tanah UK. Pastinya yang saya alami adalah jet lag akibat panjangnya perjalanan di atas pesawat, dan pastinya ini yang pertama kalinya. Mencari wc adalah hal pertama yang saya lakukan sesampai di Bristol. Untuk apa? bukan BAK atau BAB, melainkan MUNTAH (hahhaha).

Hal pertama yang membuat saya parno dan was was saat pertama kali memutuskan untuk studi di Inggris adalah bagaimana kehidupan muslim disini. Banyak sekali pertanyaan yang saya tanyakan kediri saya. Bagaimana saya bisa survive disini? apakah akan mudah bertemu sesama muslim? apakah akan ada masalah dengan jilbab saya? mudahkah saya menemukan makanan halal? apakah saya bisa menemukan pengajian? dengar azan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Namun, dengan bismillah saya yakin dan percaya bahwa dimanapun kaki ini dipijak disana pasti ada keindahan islam yang akan saya temukan. Setiap sudut bumi ini adalah bumi Allah, maka saya tidak perlu cemas.

Pertama hal yang membuat saya tenang adalah saya memiliki banyak teman dari Indonesia yang sama-sama akan studi di Bristol dan lebih senang lagi mayoritas cewek muslimahnya pake jilbab. So, pakaian tidak akan jadi masalah. Di tambah lagi ketika pertama kali tiba di private accomodation (baca: kosan) saya, pemiliknya adalah muslim suriah yang sudah lama tinggal disini. Bahkan anaknya seorang muslimah, memakai hijab, pake gamis, sholehah, plus cantik lagi 😄. Dia akan tinggal bersama kami juga karena dia juga sedang studi undergraduate di University of Bristol. Dia lahir dan besar di UK, tapi keindahan islam tetap tidak luntur dari kepribadiannya. Dari dialah aku menyadari bahwa Islam sungguh agama yang dihormati di negara ini. Sudah banyak muslim yang tinggal disini baik dari penduduk lokal asli sini, maupun pendatang dari pakistan, india, suriah, dan negara lainnya. Saya menemukan beberapa muslimah di tengah perjalanan saya ke kampus terutama di bus. Ketika ke kota-kota lain seperti London, Manchester, Southampton, Glasgow, Edinburgh, York, dan Cambridge, saya pun bertemu dengan muslim dan muslimah. Selain itu sudah ada bangunan masjid di setiap kota tersebut. Yang mengejutkan saya, masjidnya sudah besar dan megah2 seperti di Indonesia. Walaupun suara azan tidak bisa terdengar sebanyak di bumi pertiwi tercinta.

 

Ini beberapa masjid yang saya kunjungi di Glasgow, Edinbrugh, dan Southampton

Masyarakat disini sangat menghormati perbedaan. Saya menemukan begitu besarnya toleransi terutama dalam hal beragama. Saya sangat terkejut ketika personal tutor saya bertanya, “Apakah kamu menemukan tempat solat di gedung ini?”. Belum sempat saya menjawab, dia langsung berkata lagi “Kamu bisa memakai ruangan-ruangan kosong disini kapanpun kamu mau sholat”. Saya yang mendengar itu langsung tersenyum bahagia dan terharu betapa mereka menghargai perbedaan agaman. Saya yang mengambil Master of Education (Mathematics Education) adalah bagian dari Graduate School of Education (GSoE). Maka, saya selalu kuliah di gedung GSoE yang memang belum tersedia tempat khusus untuk sholat. University of Bristol baru menyediakan “prayer room” berbentuk “Musholah” punya univeritas yang bisa diakses dengan kartu mahasiswa.

Women’s prayer room University of Bristol

Lokasinya cukup jauh dari GSoE. Jika bolak balik ke GSoE, akan cukup menguras tenaga dan waktu. Maka akan lebih efektif jika tetap sholat di GSoE. So, dimana sholatnya? ya di ruang kelas yang kosong. Kita yang muslim disini biasanya akan Wudhu di wc dengan wastafel (baca: bisa bayangkan kan gimana mencuci kakinya? angkat mengangkat ke atas wastafel, sensasinya itu menyisakan becekan-becekan di wc, yang kalau saya lihat tidak pernah sama sekali becek sebelumnya karena orang bule tidak suka wc nya becek,he), lalu bergeriliya mencari ruang kelas kosong. Alhamdulillahnya, setiap jadwal perhari di setiap kelas selalu terpasang rapi di depan pintu kelasnya, ini sangat mempermudah kita mencari tempat sholat di gedung-gedung perkuliahan disini.

Ketika menjalani perkuliahan tidak ada satu pun perasaan diskriminasi yang saya rasakan karena pakaian yang saya kenakan. Sungguh disini benar-benar respect satu sama lain, tidak ada perbedaan dalam pelayanan, semua diberikan sama, sehingga saya tetap bisa dengan mudah mendapatkan akses apapun. Dalam pertemanan pun, setiap orang membuka diri untuk mengenal siapapun (catatan: namun memang tidak se ramah orang indonesia, hiks). Budaya kita tentu berbeda dengan orang-orang disini dan kita harus memaklumi itu, maka tentu kita tidak bisa membanding-bandingkan keduanya. Alhamdulillah selama kurang lebih hampir 5 bulan tinggal disini, saya merasa bahwa cahaya islam tetap terang di negeri the black country ini.

Kapan-kapan saya sambung ke makanan halal dan pengajian-pengajian atau komunitas muslim disini…..

Aku Bangga Jadi Anak Rohis

Kebetulan ada teman yang mintak tolong buatkan video untuk mengucapkan salam-salam kepada anak-anak rohis di bengkulu. Namun, karena saya tidak pandai menjadi reporter langsung, jadilah video ini sebagai penggantinya (kumpulan foto yang menggambarkan perjalanan saya). Alhamdulillah sekali saya sudah mengenal kata Rohis atau Risma sejak SMA tahun 2006. Saya ingat sekali waktu itu, saat kelas 1 SMA, 3 minggu pertama setelah MOS, saya terdaftar sebagai kelas XD di SMA Negeri 5 Kota Bengkulu dan menjadi satu-satunya yang berjilbab di kelas. Merasa asing? pastinya. Sudah menjadi satu-satunya siswa yang berasal dari SMP berbeda (swasta pula,he) ditambah lagi belum kenal siapa-siapa. Lengkap sudah penderitaan :D.

Aku adalah lulusan SMP Pancasila yang merupakan salah satu pesantren di Bengkulu. Alhamdulillah aku sudah memakai jilbab sejak baligh, namun apa kalian tahu kalau aku memakai jilbab karena Allah baru sejak 2007. Alasanku memakai jilbab 4 tahun sebelumnya hanya sebatas “Aku suka saja”, aku tidak tahu jika memakai jilbab itu WAJIB bagi setiap wanita muslimah karena hal itu tidak pernah dibahas sewaktu aku di pesantren. Aku baru tahu ada yang namanya surat An nur 31 dan Al Ahzab 56 sejak bergabung ke Kajian Mingguan (KM) tahun 2006 , itupun tidak sengaja karena aku penasaran dengan gerombolan siswi yang mayoritas pake jilbab berkumpul di teras lab ICT tepat di depan kelasku. Karena penasaran, aku gabung saja, dan ternyata diperbolehkan. Nah, itulah awal dari semuanya, awal bergabung dengan Risma Surya Romadhan dan bertemu dengan para sahabat yang luar biasa.

Sampai sekarang, aku tidak pernah berhenti bersyukur karena tahun 2006 aku ditakdirkan secara tidak sengaja datang ke KM dan akhirnya bergabung ke RISMA. Banyak sekali manfaat yang aku dapatkan! dan pasti semua yang pernah bergabung ke RISMA pasti merasakannya.

Aku bangga jadi anak Rohis karena…

  1. Aku bisa lebih mengenal Agamaku

Pastinya karena di risma ada kajian ilmunya, al quran, hadits, fiqh, dan lain-lain. Apakah membosankan? “Tidak pernah malah”., buktinya sampai kelas tiga kami tetap bersemangat datang risma walaupun status nya sudah tidak wajib datang ekskul risma karena alasan persiapan UNAS. Penyajian materi yang sangat seru membuat kami selalu dengan penuh semangat datang KM dan bertanya apa pun ke pementor. Tentang agama, sekolah, teman, keluarga, serta kisah cinta (upps, masa pubertas, maklum :D)

      2. Pastinya dapat banyak teman

Kita akan kenal teman-teman dari kelas berbeda dan bisa seruan bareng. Tertawa dan menangis bersama pasti pengalaman yang tidak akan terlupakan.

      3. Hati menjadi lebih tenang

Bukankah kata bang Opik, salah satu obat hati yaitu berkumpul dengan orang sholeh. Dimana lagi menemukan mereka jika tidak di Rohis atau RISMA

      4. Akademik pasti lebih baik

Kenal banyak kakak tingkat via RISMA, bisa sharing dengan mereka terkait pelajaran dan bisa pinjam buku mereka gratis lagi. Selain itu bisa bentuk kelompok belajar bersama sesama anak RISMA. Seperti saat SMA, kami membuat kelompok belajar dengan tutor teman yang dianggap “lebih” tetapi ujungnya tetap saling diskusi.

      5. Makin giat ibadah

Sudah mendapatkan ilmu dengan menghadiri kajian dan ditambah dapat teman-teman sholeh dan sholehah, pastinya itu menjadi motivasi kuat untuk kita ibadah. Punya teman giat ibadah, pastinya kita kecipratan rajin ibadahnya.

      6. Bisa saling mengingatkan.

Manusia fitrahnya emang pelupa, jadi butuh teman sebagai pengingat. Berteman dan bersaudara karena Allah mendorong kita untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

      7. Menebar kebaikan bersama

RISMA pastinya ada program kerjanya seperti pengajian, bakti sosial, bagi ta’jil (buka puasa), kurban, dan lain-lain. Pastinya ini menjadi ladang kebaikan juga bagi peserta RISMA.

Sejujurnya masih banyak manfaat yang kita dapatkan ketika jadi anak Rohis.

So, Aku Bangga Jadi Anak ROHIS….

Terimakasih LPDP karena mendanaiku studi ke Bristol

Aku menulis ini bukan untuk menjelaskan apa itu beasiswa LPDP dan bagaimana tahapan bisa lulus LPDP karena kalian bisa langsung membaca begitu banyak sumber via internet dan blog awardees yang sudah sukses. Aku menulis hanya untuk berbagi rasa syukur dan terimakasih pada LPDP.

Tahun 2015 alhamdulillah aku mendapat pengumuman kelulusan LPDP untuk studi S2 ke Luar Negeri. Perjuangan pun berlanjut dengan mengikuti Pembekalan IELTS selama 6 Bulan di Jogja. Ini sungguh perjuangan yang melelahkan namun sangat berharga karena aku menemukan dan mendapatkan begitu banyak ilmu, pengalaman, dan teman-teman serta guru-guru baru yang akhirnya seperti keluarga (ketika menulis ini jadi teringat mereka, hiks). Setelah target IELTS tercapai, aku berburu LoA dan akhirnya Juli 2016 aku mendapatkannya, bukan LoA dari University of Malaya (UM:  kampus tujuan awalku ketika mendaftar LPDP) melainkan University of Bristol (UoB). Aku langsung sujud syukur karena tidak menyangka bahwa akan menerima kenikmatan ini. Namun, karena hal ini aku butuh segera mengurus perpindahan universitas dari UM ke UoB yang akhirnya pada akhir Juli LPDP memberikan persutujuan. Setelah PK dan mengurus semua dokumen persyaratan (Visa,dll), berangkatlah aku bersama kedua teman (Anggie dan Zeni) pada tanggal 14 September 2016 ke Bristol, salah satu kota di Inggris.

Pertama kali menginjakkan kaki di kota Bristol saat sore tanggal 15 sep, perasaanku masih seperti mimpi. Apa benar hari ini aku sudah di Inggris? Negara dimana merupakan tempat Pangeran William dan Putri Kate tinggal, lattar movie Harry Potter, dan punya pergantian musim setiap 4 bulan. Sedih, terharu, dan bersyukur bercampur saat itu karena pada akhirnya aku bisa studi ke luar negeri.

Semua ini karena bantuan dana Rakyat lewat LPDP. Ucapan terimakasih tentu tidak cukup atas kesempatan kepada saya yang dari keluarga biasa namun punya mimpi luar biasa untuk studi ke Luar negeri. Tanggung jawab yang dititipkan tentu tidak ringan, tapi semoga saya bisa menjadi amanah dan pulang mengabdi ke Indonesia.

-Aku bangga menjadi Anak bangsa Indonesia-